Keutamaan Orang yang saling Mencintai karena Allah




TintaSiyasi.com -- Sobat. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah berada di atas yakut merah, berada di atas tiang yang di atasnya ada 70.000 kamar yang mendekati penduduk surga. Kebaikan mereka menyinari penduduk surga  seperti matahari  menyinari penduduk dunia. Kemudian dikatakan kepada penduduk surga, 'Pergilah kepada orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Ketika mereka mendekatinya, kebaikan mereka menyinari penduduk surga. Baju mereka adalah sutera tipis. Di dahi mereka tertulis,' Inilah orang-orang yang saling mencintai karena Allah.”

Sobat. Dalam riwayat yang lain  menyatakan, “Tiada seorang hamba yang mendatangi saudaranya  untuk menziarahi karena Allah, kecuali ada malaikat yang memanggilnya dari langit dan berkata, “Kamu termasuk orang baik, dan surga itu baik untukmu.”
Ath-Thabrani meriwayatkan, jika seorang muslim berkunjung, maka 70.000 malaikat mengiringinya dan memohonkan ampun untuknya sambil berdoa, “Wahai Tuhanku. Sambunglah dia sebagaimana dia menyambung saudaranya karena engkau.”

Sobat. Rasulullah SAW juga bersabda, “Perbuatan yang paling utama adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Abu Dawud). Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits Qudsi, “Allah Berfirman, “Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku berada dalam naungan ‘Arasy-Ku pada hari Kiamat, di waktu tiada naungan selain naungan-Ku.” (HR Imam Ahmad)

Sobat. Ketahuilah, cinta itu mubah, yaitu cinta kepada manusia secara umum. Bisa juga cinta itu makruh, yaitu cinta dunia. Bisa juga cinta itu sunnah, yaitu cinta keluarga dan anak. Bisa juga cinta itu wajib, yaitu cinta Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya mencintai utusan-Nya terikat dengan mencintai Allah.

Allah Berfirman:
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ  
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran (3): 31)

Sobat. Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi untuk mengatakan kepada orang Yahudi, jika mereka benar menaati Allah maka hendaklah mereka mengakui kerasulan Nabi Muhammad, yaitu dengan melaksanakan segala yang terkandung dalam wahyu yang diturunkan Allah kepadanya. Jika mereka telah berbuat demikian niscaya Allah meridai mereka dan memaafkan segala kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan serta mengampuni dosa-dosa mereka. Mengikuti Rasul dengan sungguh-sungguh baik dalam itikad maupun amal saleh akan menghilangkan dampak maksiat dan kekejian jiwa mereka serta menghapuskan kezaliman yang mereka lakukan sebelumnya.

Ayat ini memberikan keterangan yang kuat untuk mematahkan pengakuan orang-orang yang mengaku mencintai Allah pada setiap saat, sedang amal perbuatannya berlawanan dengan ucapan-ucapan itu. Bagaimana mungkin dapat berkumpul pada diri seseorang cinta kepada Allah dan pada saat yang sama membelakangi perintah-Nya. Siapa yang mencintai Allah, tapi tidak mengikuti jalan dan petunjuk Rasulullah, maka pengakuan cinta itu adalah palsu dan dusta. Rasulullah bersabda:

"Siapa melakukan perbuatan tidak berdasarkan perintah kami maka perbuatan itu ditolak". (Riwayat al-Bukhari).

Barang siapa mencintai Allah dengan penuh ketaatan, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengikuti perintah Nabi-Nya, serta membersihkan dirinya dengan amal saleh, maka Allah mengampuni dosa-dosanya.

Allah SWT berfirman:
أَلَمۡ تَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ وَلَا هُدٗى وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ  

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman (31): 20)

Sobat. Ayat ini mengingatkan manusia dengan menanyakan apakah mereka tidak memperhatikan tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah di alam yang luas ini? Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah-lah yang menundukkan untuk mereka semua yang ada di alam ini, sehingga mereka dapat mengambil manfaat daripadanya. Dialah yang menjadikan matahari bersinar, sehingga siang menjadi terang benderang. Sinar matahari itu dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang akan menjadi bahan makanan bagi manusia. 

Bulan dan bintang dijadikan-Nya bercahaya, yang dapat menerangi malam yang gelap dan menjadi petunjuk bagi kapal yang mengarungi lautan. Diturunkannya hujan yang membasahi bumi dan menyuburkan tumbuh-tumbuhan, dan airnya untuk minuman manusia dan binatang, dan sebagian air itu disimpan dalam tanah sebagai persiapan musim kemarau. Dia menjadikan aneka ragam barang tambang, gas alam, dan sebagainya, yang semuanya itu dapat diambil manfaatnya oleh manusia. Tidaklah ada yang sanggup menghitung nikmat Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia. 

Dari Ibnu 'Abbas r.a., "Saya bertanya kepada Nabi saw, 'Hai Rasulullah, apa makna nikmat lahiriah? Beliau menjawab, 'Budi baik seseorang. Dan nikmat batiniah adalah dia diberi hidayah beragama Islam." (Riwayat al-Baihaqi)

Ada orang yang berpendapat bahwa adh-dhahirah ialah kesehatan dan budi pekerti yang luhur, dan al-bathinah ialah pengetahuan dan akal pikiran. Ada pula yang mengartikan adh-dhahirah dengan semua nikmat Allah yang tampak, seperti harta kekayaan, kemegahan, kecantikan, dan ketaatan, sedang al-bathinah ialah pengetahuan tentang Allah, keyakinan yang baik, pengetahuan tentang hakikat hidup yang sebenarnya, dan sebagainya. Sekalipun terdapat perbedaan tentang arti adh-dhahirah dan al-bathinah itu, namun dapat diambil kesimpulan bahwa keduanya merupakan nikmat-nikmat yang dilimpahkan Allah kepada manusia dan dapat dirasakannya.

Pada akhir ayat ini, Allah memperingatkan bahwa sekalipun Ia telah melimpahkan nikmat yang tidak terhingga kepada manusia, namun masih banyak manusia yang membantah dan mengingkari nikmat-nikmat itu, seperti Nadhar bin haris, Ubay bin Khalaf, dan lain-lain. Mereka membantah bukti yang dikemukakan Al-Qur'an dan seruan Nabi dengan tidak berdasarkan pada ilmu pengetahuan, hujah yang benar, dan wahyu dan kitab yang diturunkan Allah.

Sobat. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mencintaiku maka dia bersamaku dalam Surga.” Dalam riwayat lain, “Barang siapa mencintai isteri-isteriku, para sahabatku, ahli baitku, tidak mencemarkan nama baik salah satu dari mereka, dan keluar dari dunia dengan mencintai mereka, maka dia bersamaku dalam derajatku pada hari kiamat.”

Sobat. Imam ahmad berkata, “ Cintaku terhadap dunia kalian ada pada tiga hal, yaitu Mengikuti Nabi dalam  haditsnya, mencari berkah dengan cahaya beliau, dan berjalan di atas jejak beliau.” Imam Abu Hanifah berkata, “Cintaku terhadap dunia kalian ada tiga hal, yaitu belajar ilmu di  sepanjang malam, meninggalkan sifat sok tinggi dan sok  atas, dan hati  yang kosong dari cinta dunia.”

(Kota Jember, 15 September 2023. Dr. Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual)

Posting Komentar

0 Komentar