Jejak Khilafah di Sulawesi: Menyibak Jalinan Politik dan Spiritual yang Dilupakan (2)


TintaSiyasi.com -- Untuk menyibak jalinan politik dan spiritual antara Khilafah dan Sulawesi, saya memanfaatkan sumber primer dan sekunder yang mencatat sejarah Sulawesi dari awal abad ke-17 sampai awal abad ke-20. Mengenai sumber primer sejarah Sulawesi, sejatinya menilik perbendaharaan manuskrip dan arsip yang tertulis dalam aksara Lontara’ sangat penting. Namun, saya belum bisa membaca aksara tersebut sekaligus memahami bahasa Bugis-Makassar yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, saya mengandalkan sumber-sumber Lontara’ yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris atau Indonesia. Meski demikian, aspek internasional Sulawesi dengan Dunia Islam yang lebih luas ternyata juga tercatat dalam sumber-sumber primer non-Lontara’, seperti sumber-sumber berbahasa Arab, Osmanlica (Turkiye ‘Utsmani), Serang (Arab-Makassar), Jawi (Arab-Melayu), Pegon (Arab-Jawa), dan lain-lain. 

Adapun sumber-sumber sekunder yang saya gunakan lebih banyak membahas sejarah Sulawesi Selatan. Ini karena memang potongan pulau bagian selatan inilah yang menjadi episentrum kekuasaan seluruh Sulawesi. Kecuali Buton, saya masih kesulitan untuk mencari aspek internasionalisme Islam kesultanan-kesultanan di Sulawesi Tenggara, Tengah, Barat, Utara dan Gorontalo. Mudah-mudahan wilayah Sulawesi yang belum diteliti dalam tulisan ini bisa dilanjutkan oleh siapa pun yang peduli akan sejarah Islam di negerinya. 


Situasi Global dan Regional Menjelang Pengislaman Sulawesi 

Nun jauh di seberang lautan Sulawesi, menembus batas-batas negeri Jawi, Arab dan Eropa, Sultan Sulaiman al-Qanuni sedang menitahkan perebutan benteng Bender di Moldova, persis di sebelah barat Ukraina. Tatkala benteng Bender berhasil ditaklukkan pada 1538, Khalifah kedua ‘Utsmaniyah tersebut memahatkan inskripsi yang melukiskan jangkauan kekuasaannya: 

“Akulah Sulaiman, yang namanya disebutkan dalam khutbah di Makkah dan Madinah. Di Baghdad aku adalah Syah, di Byzantium disebut Kayser, dan di Mesir dijuluki Sultan; yang telah mengirim armada-armada kapalnya ke lautan Eropa, Maghrib dan India. Akulah Sultan yang mengambil mahkota dan takhta Hungaria serta memberikan mereka status sebagai abdi yang rendah hati. Voivode (Pangeran) Petru telah mengangkat kepalanya dalam pemberontakan, tetapi kuku kudaku menempatkannya ke debu, dan akulah yang telah membebaskan negeri Moldavia.¹

Sultan Sulaiman al-Qanuni tidak bercanda dengan penyebutan negeri-negeri yang telah dibebaskan dan dia jangkau. Ketika menyebut India sebagai salah satu negeri yang terjangkau armada ‘Utsmaniyah, Sultan Sulaiman masih mengikuti ingatan kaum Muslim tentang definisi “India” selama ratusan tahun sebelumnya. Geografer Muthahhar bin Thahir al-Maqdisi (wafat 355/966) mendokumentasikan cakupan zona India sebagai “kepulauan dan pesisir yang tersambung sampai Cina” (fa amma jurum al-Hind fa-jaza’ir wa sawahil tattashilu bi-ardhi as-Shin).² Maknanya, “India” yang dimaksud Sultan Sulaiman adalah seluruh kepulauan dan pesisir yang ada di Samudera Hindia hingga Laut Cina Selatan. Negeri Jawi termasuk di antaranya. 

Sultan Sulaiman al-Qanuni mengarahkan telunjuknya ke Samudera Hindia sebagai langkah untuk mengamankan jalur jamaah haji kaum Muslim India dan Jawi menuju Tanah Suci Haramayn dari rongrongan Portugis. Banyaknya volume kapal perang yang diberangkatkan Khalifah ‘Utsmaniyah di perairan ini menjadi daya tarik yang sangat menggugah banyak raja dan sultan di seluruh kawasan Samudera Hindia. Di antara mereka adalah penguasa Kesultanan Aceh, Sultan ‘Ala’uddin Ri’ayat Syah al-Qahhar (berkuasa 1537-1571). Ia dikenal dalam arsip-arsip ‘Utsmaniyah sebagai penguasa Aceh “yang berkuasa di wilayah India”.³ Sultan al-Qahhar pertama kali menuliskan suratnya untuk Sultan Sulaiman al-Qanuni di Istanbul. Dalam surat yang bertarikh Jumadil Akhir 973/Januari 1566 itu, Sultan Aceh berterimakasih kepada Khalifah yang sebelumnya telah mengirimkan utusan bernama Lutfi Bey, anggota korps muteferrika reisleri ke Aceh. Perannya sangat spektakuler dalam membangkitkan semangat jihad kaum Muslim Aceh untuk melawan Portugis yang bermarkas di Melaka.⁴

Guna meningkatkan perlawanan, Sultan al-Qahhar mengajukan proposal jihad kepada Khalifah untuk meningkatkan alat utama sistem senjata (alutsista) Kesultanan Aceh berupa pengiriman kapal perang, ahli meriam, dan konsultan militer. Ketika surat Sultan al-Qahhar mencapai Istanbul, ternyata Sultan Sulaiman al-Qanuni sedang berada di Hungaria untuk berjihad. Tak ada yang menduga kalau negeri itulah yang menjadi tempat terakhir Sultan Sulaiman melihat alam dunia. Surat Sultan Aceh tak sempat beliau baca. Untungnya, anak almarhum Sultan Sulaiman yang diangkat menjadi Khalifah ‘Utsmaniyah berikutnya, Sultan Salim II, menanggapi surat Sultan Aceh dengan antusias. Dengan bantuan para wazir-nya yang dipimpin Sokollu Mehmed Pasa, Sadrazam ‘Utsmaniyah yang luar biasa, Sultan Salim II mengabulkan permohonan Sultan al-Qahhar. Bala bantuan dan alutsista yang diminta sampai ke Aceh tahun 1568 atau 1569.⁵ Sampai hari ini kita masih dapat menemui kompleks pemakaman sebagian tentara ‘Utsmaniyah yang dikirim Sultan Salim II tersebut di Gampong Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh. 

Menariknya, elemen tentara ‘Utsmaniyah tersebut ternyata tidak berhenti di Aceh belaka. Banyak dari mereka yang melanjutkan jalan juangnya untuk berjihad di berbagai pulau negeri Jawi. Ada yang pergi ke Demak di Jawa,⁶ Pattani di Thailand,⁷ bahkan sampai jazirah Maluku dengan Kesultanan Ternate sebagai magnetnya.⁸ Semua jangkauan super luas Khilafah ‘Utsmaniyah yang terentang dari Granada di Andalus hingga Ternate di Maluku ini terjadi pada abad ke-16 (tahun 1500-an), sebuah abad yang dikenang masyarakat Turkiye kontemporer sebagai “abad kejayaan” (muhtesem yuzyil). Abad ke-16 menyaksikan lahirnya khalifah-khalifah luar biasa dari Bani ‘Utsmaniyah seperti Yavuz Salim I, Sulaiman al-Qanuni dan Salim II. Hal yang sama juga terjadi di egeri Jawi. Pada abad ini banyak kesultanan mulai bangkit dengan figur-figur mengagumkan seperti para ulama Wali Songo, Sultan ‘Ala’uddin Ri’ayat Syah al-Qahhar di Aceh, Maulana Hasanuddin di Banten, Ratu Kalinyamat di Jepara, Sultan Trenggana di Demak, Sultan Babullah di Ternate, dan lain-lain. []


Oleh: Nicko Pandawa
Sejarawan

Sumber: Al Wa'ie

Catatan Kaki: 
1        Makalah disampaikan dalam safari dakwah al-Faqir di Makassar, Palopo, Wotu, Kendari, dan Baubau selama 27 Oktober – 7 November 2022. 

2        Sarjana ilmu sejarah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2020); Penulis buku Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda: Riwayat Pan-Islamisme dari Istanbul sampai Batavia 1882-1928 (2021) dan Dafatir Sulthaniyah: Menguak Loyalitas Muslimin Jawi kepada Khilafah Utsmaniyyah (2022); Sutradara dan Script-Writer film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara I & II. 

3        Halil Inalcik, The Ottoman Empire: The Classical Age 1300-1600, (London: Phoenix, 1994), 41. 

4        Muthahhar bin Thahir al-Maqdisi, Kitab al-Bad’i wa’t-Tarikh, ed. M. Huart, (Paris, 1907), 62. Dikutip dari SQ. Fatimi, “Two Letters from the Maharaja to the Khalifah: A Study in the Early History of Islam in the East”, Islamic Studies (Islamabad: 1963), 2:1, 123. 

5        Anthony Reid, “Rum and Jawa: The Vicissitudes of Documenting a Long-Distance Relationship”, dalam ACS. Peacock dan Annabel Teh Gallop, From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia, (Oxford University Press, 2015), 27. 

6        Giancarlo Casale, “His Majesty’s Servant Lutfi: The career of a previously unknown sixteenth-century Ottoman envoy to Sumatra based on an account of his travels from the Topkapi Palace Archives”, Turcica, 37 (2005), 49-56. 

7        Ismail Hakki Goksoy, “Ottoman-Aceh relations as documented in Turkish sources”, dalam Michael Feneer, dkk, Mapping the Acehnese Past, (Leiden: KITLV Press, 2011), 78. 

8        Kesaksian Mendez Pinto: “Fourteen days after our coming to this town of Japara, the King of Demaa (yakni, Sultan Trenggana) went and imbarqued himself for the kingdom of Passuruan … the King of Zunda (yakni, Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati, raja Islam pertama di Banten), his brother in law who was General of the army, went by land with a great part of the forces … Their platforms fortified with great beams, whereupon they planted divers great pieces of ordnances, amongst the which were eagles and lions of metal, that the Achems and Turks had cast.” Mendez Pinto, The Voyages and Adventures of Ferdinand Mendez Pinto, ed. HC. Gent, (New York, Cornell University Library, 1996), 377-378. 

9        “Maka bedil itu pun dititahkan Baginda kepada Datuk Bendahara suruh tuanglah, dan tukangnya orang Rum bernama ‘Abdushshamad. Maka bedil itu pun dituang oranglah dengan sempurnanya di hadapan Kampung Tembaga itulah.” Hikayat Patani: The Story of Patani, ed. A. Teeuw dan DK. Wyatt (The Hague: KITLV, 1970), 77. 

10      “The fort in Ternate had been strengthened by Babullah … In the ensuing battle the Spaniards had to contend with some twenty Turkish gunners who ‘used a lot of bombs, grenades, and other instrument of fire.’” Leonard Y. Andaya, The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period, (Honolulu: University of Hawaii Press, 1993), 137.

Posting Komentar

0 Komentar