TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Belajar dari Kisah Semut, Walau Tak Banyak Membantu, Setidaknya Ada di Barisan Kebenaran



Mengambil pelajaran dari sebuah kisah inspiratif, banyak hal yang dapat kita peroleh. Senang berkisah dan terus belajar pada ahlinya, akan menambah pengetahuan kita dan terhindar dari kelalaian. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an misalnya, adalah kisah terbaik yang dipilihkan Allah agar manusia bisa mengambil hikmah dan teladan yang baik. 

Dengan mendengarkan kisah para nabi, maka kita akan memahami metode nabi dalam berdakwah, merasakan kesabaran para nabi dalam ujian dakwah dan mendorong untuk meneladani nabi dalam dakwah. Begitu pula kisah-kisah penyerta yang terjadi di masa nabi, juga bisa kita ambil hikmah dan teladan di dalamnya.

Abu Hanifah dalam Al-Madkhol, 1:164 mengatakan bahwa kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih beliau sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih, karena dalam kisah tersebut diajarkan berbagai adab dan akhlak luhur mereka. Berkisah dengan kisah yang benar tentunya akan dikenang sepanjang masa.

Seperti kisah semut yang membawa setetes air, cicak dan burung gagak di masa Nabi Ibrahim as. Waktu itu, Nabi Ibrahim as, yang terus menerus berdakwah mendapat hadangan dari Raja Namrud yang kejam. Singkat cerita, Nabi Ibrahim diselamatkan Allah SWT ketika dibakar oleh Raja Namrud. Ketika Raja Namrud memerintahkan pasukannya untuk membakar Nabi Ibrahim, seekor semut mendengar kabar itu. Semut lalu berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Nabi Ibrahim meskipun bertubuh kecil. Semut pun membuat bejana dari kayu kecil untuk membawa setetes air yang akan digunakan untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. 

Dalam perjalanan, semut bertemu dengan seekor burung gagak yang mencemooh dan mengejek tindakannya yang ingin memadamkan api besar Raja Namrud dengan setetes air. Semut mengatakan bahwa sebenarnya dia tahu bahwa setetes air yang dibawanya tidak akan bisa memadamkan api besar, tetapi dengan tindakannya itu dia bisa menunjukkan dan memastikan di pihak manakah semut berada. Ternyata semut berada di pihak Nabi Ibrahim as. Walaupun tubuhnya kecil, tapi semut memiliki tekad yang kuat. Semut tahu betul, Allah selalu memilih hamba-Nya yang melakukan kebaikan meskipun sangat kecil. Semut ingin membuktikan bahwa dirinya adalah makhluk yang beriman yang senantiasa siap sedia membela kebenaran.

Tidakkah kita malu dengan seekor semut dalam kisah tersebut? Kita malu karena hanya bisa berdiam diri, tidak melakukan apa-apa ketika orang-orang yang berjuang di jalan Allah mengalami kezaliman. Kita malu karena kita malah menjadi penolong bagi orang-orang yang melakukan kezaliman, baik sadar maupun tidak sadar.

Ketika terjadi kezaliman di depan mata, setidaknya kita bisa membantu semampunya. Lantas apa yang akan kita pertanggungjawabkan nanti di sisi Allah pada saat hari Penghisaban, hari ketika tidak ada seorang penolong pun kecuali amal shalih kita. 

Janganlah kita menjadi seekor cicak yang dengan susah payah malah meniup-niup kobaran api yang membakar Nabi Ibrahim supaya nyala apinya bertambah besar. Cicak melakukan hal sia-sia yang menimbulkan penyesalan tidak terkira di kemudian hari. Janganlah pula seperti burung gagak yang menertawakan usaha keras semut membela kebenaran.

Kita tidak perlu menghiraukan orang yang mencoba menghalangi jalan dakwah, karena akan senantiasa ada saja orang-orang yang menghalangi jalan kebenaran dan kebaikan. Kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita. Siapa yang menabur kebaikan maka akan menuai kebaikan.

Maka, bagaimanakah sikap kita ketika ulama yang tidak bersalah dikriminalisasi dengan tuduhan yang mengada-ada? Akankah kita bersikap seperti yang dilakukan semut? Ataukah bersikap seperti burung gagak atau malah seperti cicak? Berada di posisi manakah kita saat ini? Tentu saja kita harus berdiri tegak laksana kesatria, membela ulama yang membawa kebenaran. Menunjukkan keberpihakan kita kepada kebenaran, meskipun kita tidak memiliki kemampuan sebesar gunung dan setinggi langit.    

Begitulah, kita bisa belajar dari kisah semut yang membawa setetes air untuk menolong Nabi Ibrahim dari kobaran api, walaupun memang tak banyak membantu, tapi setidaknya semut berada dalam barisan kebenaran. Meskipun kisah semut ini tidak ada dalam Al-Qur’an atau hadits, namun kita bisa mengambil banyak hikmah. []



Oleh: Fitriana, Guru/Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok





Posting Komentar

0 Komentar