Apa Aktivitas Hizbut Tahrir Setelah (Berhasil) Menegakkan Daulah Khilafah Rasyidah Kedua?

TintaSiyasi.com-- Soal:

Assalamu`alaikum, Ya Amir kami, bagaimana kondisi Anda, ketika Anda (telah) menegakkan Daulah Islam, di fase mana Hizbut Tahrir berjalan? 
Sebagian orang mengatakan, "Hizbut Tahrir berjalan sebagaimana fase kedua". Dan sebagian orang mengatakan, "Bahwa ketika berpindah ke pemerintahan, maka berakhirlah fase dakwah kedua dan Hizbut Tahrir memulai aktifitas baru secara total, yaitu mengoreksi penguasa dan memimpin masyarakat. Pendapat manakah yang shahih dan unggul?


Jawab:

Wa`alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.
Kami telah menuturkan di kitab Ta`riifu Hizbut Tahrir sebagai berikut:

Metode dakwah Hizbut Tahrir:

Metode perjalanan Hizbut Tahrir dalam mengemban dakwah adalah hukum-hukum syara` yang diambil dari metode perjalanan Rasulullah SAW dalam mengemban dakwah karena wajib diikuti, karena Firman Allah ta'ala:

"Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharap pahala Allah dan selamat di hari kemudian dan banyak mengingat Allah" (Al Ahzab). 

Dan firman-Nya: "Katakanlah; "Apabila kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Ali `Imron: 31).

Dan firman-Nya: "Dan apa saja (perkara agama) yang telah dibawa oleh Rasulullah kepada kalian maka ambillah ia. Dan apa saja yang Rasulullah telah melarang kalian darinya, maka berhentilah kalian (dari melakukannya)" (Al Hasyer: 7).

Dan banyak ayat-ayat yang lainnya yang menunjukkan kewajiban mengikuti Rasulullah, meneladani dan mengambil darinya. 

Karena kaum Muslimin saat ini sedang hidup di Darul Kufri, sebab mereka berhukum (diperintah) dengan selain hukum yang telah diturunkan Allah. Maka negara mereka menyerupai Makkah ketika diutusnya Rasulullah SAW. Oleh karena itu, fase Makkah wajib menjadi tempat meneladani Rasulullah SAW dalam mengemban dakwah. 

Dari mencermati perjalanan Rasulullah SAW di Makkah sehingga beliau menegakkan Daulah di Madinah, menjadi terang bahwa beliau telah melewati beberapa fase yang tanda-tandanya nampak jelas, di mana di Makkah beliau telah menjalankan aktifitas tertentu yang nampak jelas. Maka Hizbut Tahrir mengambil dari semua itu metode perjalanannya, fase-fase dakwahnya, dan aktifitas yang wajib dikerjakannya dalam fase-fase tersebut, karena meneladani aktifitas yang telah dikerjakan oleh Rasulullah SAW pada fase-fase perjalanan dakwahnya. 

Atas dasar hal itu, Hizbut Tahrir telah menentukan metode perjalanan dakwahnya dengan tiga fase:

Pertama: fase pengkaderan untuk mewujudkan pribadi-pribadi yang mengimani fikrah serta thariqah Hizbut Tahrir untuk membentuk kelompok politik. 
Kedua: fase interaksi dengan umat, agar umat mengemban Islam. Sehingga umat menjadikan Islam sebagai masalah utamanya, supaya umat mewujudkan Islam di dalam realita kehidupan. 
Ketiga: fase menerima kekuasaan, menerapkan Islam secara umum dan menyeluruh, dan mengemban risalah Islam ke penjuru dunia. 

Adapun fase pertama: Maka Hizbut Tahrir benar-benar telah memulainya di Al Quds (Baitul Maqdis) pada tahun 1372 H / 1953 M melalui tangan pendirinya. Yaitu ulama besar, pemikir cemerlang, politikus ulung, hakim di pengadilan banding di Al Quds, Al Ustadz (sebutan sekelas profesor) Taqiyuddin An Nabhani ra. Disana Hizbut Tahrir melakukan kontak dengan individu-individu umat dengan menawarkan fikrah dan thariqahnya secara personal. Siapa saja yang meresponnya, maka Hizbut Tahrir mengaturnya untuk kajian intensif dalam halqah-halqah. Sampai mematangkannya dengan afkaar dan ahkaam Islam yang telah ditabani Hizbut Tahrir, menjadi pribadi Islam yang berinteraksi dengan umat, yang bangga dengan aqliyah Islamiyah dan nafsiyah Islamiyah, dan berjalan mengemban dakwah kepada khalayak manusia. 

Ketika seseorang telah sampai kepada level tersebut, maka ia menghadapkan dirinya kepada Hizbut Tahrir dan Hizbut Tahrir merangkulnya menjadi anggotanya. Sebagaimana telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam fase pertama dakwahnya yang berlangsung selama tiga tahun, mulai dari dakwahnya kepada manusia secara personal dengan menawarkan agama yang Allah telah mengutusnya dengannya. Siapa saja yang beriman, maka beliau mengumpulkannya bersamanya secara rahasia atas dasar agama Islam. Beliau terus mengajarkan Islam kepadanya, membacakan Al-Qur'an yang telah dan sedang turun kepadanya sampai mematangkan mereka dengan agama Islam.  Beliau bertemu dengan mereka secara rahasia, mendidik mereka secara rahasia, di tempat-tempat rahasia, dan mereka melaksanakan ibadahnya secara rahasia. Kemudian Islam menjadi buah bibir di Makkah, di mana manusia sama memperbincangkan Islam, dan mereka berbondong bondong masuk Islam.
Dan setelah Hizbut Tahrir mampu membentuk kelompok politik dan masyarakat telah mengindranya, mengenalinya, mengenali afkaar-nya dan sesuatu yang didakwahkannya, maka Hizbut Tahrir berpindah ke:

Fase kedua: Yaitu fase interaksi dengan umat. Supaya umat mengemban Islam, mewujudkan kesadaran dan opini umum di sisinya atas afkaar dan ahkaam Islam yang telah ditabanni Hizbut Tahrir. Sehingga umat menjadikannya sebagai afkaarnya, beraktivitas untuk mewujudkannya di dalam realita kehidupan, berjalan bersama Hizbut Tahrir dalam aktifitas menegakkan daulah khilafah dan mengangkat khalifah, untuk melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke penjuru dunia. 
Pada fase ini Hizbut Tahrir berpindah menyeru mayoritas umat secara kolektif. Pada fase ini Hizbut Tahrir melakukan sejumlah aktifitas berikut:

Pertama- Pembinaan secara intensif dalam halqah-halqah bagi individu-individu untuk membesarkan tubuh Hizbut Tahrir, memperbanyak anggotanya, mewujudkan pribadi-pribadi Islam yang mampu mengemban dakwah, dan menyelami berbagai kesulitan (yang laksana banjir bandang) dengan pergolakan (perang) pemikiran dan perjuangan politik. 

Kedua- Pengkaderan secara kolektif kepada mayoritas umat dengan afkaar dan ahkaam Islam yang telah ditabnni Hizbut Tahrir di dalam kajian-kajian di masjid-masjid, tempat-tempat pertemuan dan ceramah-ceramah, dan tempat-tempat perkumpulan umum, dengan surat kabar, buku, selebaran, untuk mewujudkan kesadaran umum pada umat dan berinteraksi dengan umat. 

Ketiga- Pergolakan pemikiran dengan berbagai akidah, sistem dan pemikiran kufur, dengan berbagai akidah yang rusak, pemikiran yang salah, pemahaman yang keliru, dengan menjelaskan kebobrokannya, kesalahannya, dan kontradiksinya terhadap Islam, untuk menyelamatkan umat daripadanya dan dari pengaruhnya. 

Keempat- Perjuangan politik. Ketika masyarakat telah membeku (keras laksana batu) di hadapan Hizbut Tahrir akibat umat kehilangan kepercayaannya terhadap para tokoh dan pemimpin yang selama ini menjadi tumpuan angan-angan dan harapannya; akibat situasi yang sulit dimana telah diletakkan padanya teritorial untuk menjalankan rencana persekongkolan; akibat dominasi dan kediktatoran yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya; akibat kerasnya gangguan yang ditimpakan penguasa terhadap Hizbut Tahrir dan para pemudanya. Ketika masyarakat telah membeku akibat itu semua, maka Hizbut Tahrir melakukan thalabun nushrah (mencari pertolongan) dari orang-orang yang punya kemampuan atasnya.

Meskipun Hizbut Tahrir melakukan aktifitas thalabun nushrah ini, tetapi Hizbut Tahrir tetap berjalan melakukan semua aktifitas yang selama ini dilakukannya. Mulai dari kajian intensif dalam halqah-halqah, pengkaderan kolektif, mengonsentrasikan umat agar mampu mengemban Islam, mewujudkan opini umum di tengah umat, melakukan serangan politik terhadap negara-negara kafir penjajah serta membongkar rencana jahat dan persekongkolannya, menyerang penguasa yang menjadi kepanjangan negara-negara kafir penjajah, dan mentabanni kemaslahatan umat serta mengatur urusan umat. 
Hizbut Tahrir terus menerus melakukan semua itu dengan penuh harap kepada Allah agar mewujudkan baginya dan bagi umat Islam kebahagiaan, kesuksesan dan kemenangan. Lalu terwujud:

Fase ketiga: Di mana Hizbut Tahrir berhasil menegakkan khilafah rasyidah. Ketika itu berbanggalah orang-orang mu'min dengan pertolongan Allah. (Selesai. Dikutip dari kitab Atta`riif). 

Atas dasar penjelasan diatas, tiga fase tersebut itu ketika belum wujudnya daulah khilafah. Dan di sanalah Hizbut Tahrir beraktifitas melaksanakan kewajiban dakwahnya dalam tiga fase.

Adapun ketika daulah telah berdiri, maka setiap aktifitas yang punya kaitan dengan penegakkan daulah itu tidak akan terjadi lagi sebagai bagian dari pelaksanaan aktifitas Hizbut Tahrir. Contohnya thalabun nushrah pada akhir pase kedua untuk menegakkan daulah itu tidak akan terjadi lagi, begitu pula fase ketiga, yakni menegakkan daulah. Semua itu tidak akan terjadi lagi. Karena daulah telah berdiri tegak. Tetapi semuanya itu akan diganti dengan aktifitas mengoreksi penguasa sesuai dalil-dalil syara`.

Adapun fase-fase yang lainnya, maka akan tetap berjalan dengan kekuatan yang lebih kuat dan aktifitas yang lebih besar. Karena keadilan setelah berdirinya daulah akan bertempat di tempat kezaliman. Sedang penyediaan suasana kondusif bagi aktifitas Hizbut Tahrir akan bertempat pada tempat pencarian yang keras bagi Hizbut Tahrir. Betul. Ketika itu berbanggalah orang-orang mu'min dengan pertolongan Allah. 
 
Kami benar-benar telah menjelaskan pada kitab-kitab kami, terlebih kitab Alkarosah, mekanisme mengoreksi penguasa sesuai hukum-hukum syara`.

Dan pada tulisan ini ada kecukupan. Wallahu a'lam wa ahkam. 


Oleh: Syekh `Atha bin Khalil Abur Rasytah

1 Dzul Hijjah 1442 H / 11 Juli 2021M 

Penerjemah: Ustaz Abulwafa Romli

Posting Komentar

0 Komentar