Islam Moderat, Millenials Terjerat


Peristiwa pengeboman katedral di Makassar 28 Maret kemarin menyita perhatian banyak pihak. Tak sedikit yang mengutuk kejadian tersebut. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut pelaku bom bunuh diri yang tewas sebanyak dua orang terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan. “Pelaku merupakan bagian dari kelompok Jama’ah Ansharut Daulah (JAD) yang pernah melakukan pengeboman di Jolo Filipina,” ungkap Sigit (kompas.com). Selain itu, Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan total ada 14 orang yang mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit (humas.polri.go.id).

Aksi pengeboman tersebut menerima kecaman dari berbagai pihak. Tak ada yang membenarkan kejadian tersebut, namun sayangnya sering terjadi opini atau framing yang melekatkan ajaran Islam dengan terorisme dan radikalisme untuk ditanamkan di benak publik. Padahal sudah dinyatakan bahwa peristiwa ini tidak terkait dengan agama apapun. 

Hal ini kemudian dimanfaatkan dengan penguatan opini Islam harus dimoderisasi. Arus pelibatan generasi muda dalam penguatan moderasi beragama sedang terus digencarkan pemerintah. Millenials (Generasi Muda) menjadi target atas moderisasi Islam ini dengan dalih mencegah dan menanggulangi paham radikalisme dan terorisme yang digadang-gadang kian memapar entitas potensial ini menjadi ancaman serius dan berbahaya bagi bangsa ini.

Islam moderat diangkat, untuk menyerang Islam kaffah. Islam kaffah dicap ekstrim, radikal, dimutilasi ajaran-ajarannya, para pengembannya dikriminalisasi, difitnah dan dipersekusi. Islam kaffah didesain sedemikian rupa agar ditakuti dan ditinggalkan umat melalui berbagai aturan yang diterbitkan negara.

Pemuda adalah generasi penerus, tonggak pembangunan. Maka dengan menjadikan millenials sebagai target utama dari Islam moderat adalah upaya dari pelemahan akidah dari generasi muda kita. Ketika akidah pemudanya rusak maka dengan mudah pemikiran-pemikiran asing masuk. 

Islam moderat, ketika kita melihat dengan teliti maka didapati bahwa gagasan ini tak hanya muncul semata-mata karena adanya pengeboman, dan aksi-aksi kekerasan lain yang mengatasnamakan Islam. Namun, gagasan ini sudah dari dulu dimunculkan bahkan terencanakan oleh negara Barat, menjadi agenda global yang menginginkan keterpurukan Islam. 

Kapitalisme demokrasi sebagai ideologi yang mendominasi dunia ini. Kapitalisme bertumpu pada kebebasan kepemilikan menjadikan individu berhak mengeksploitasi hajat hidup masyarakat sesuai kehendaknya. Inilah sebabnya, penjajahan merupakan satu hal yang niscaya bagi negara kapitalis sejati. Munculnya larangan penjajahan secara fisik membuat mereka mengubah strategi dengan menjajah negeri-negeri secara pemikiran dan undang-undang.

Bila Islam bangkit dan pemikiran umat tercerahkan, kapitalis Barat akan mati. Maka dari itu dengan berbagai cara mereka berusaha melemahkan keyakinan kaum Muslim agar Islam tak dapat bangkit. Generasi muda menjadi target yang tepat karena mereka masih dalam tahap mencari jati diri. Jika akidah generasi muda dilemahkan maka generasi penerus Islam memiliki keyakinan yang lemah untuk menjadi tonggak tegaknya Islam secara kaffah.

Rezim penguasa bahkan juga berusaha menghapus ingatan umat terutama kalangan milenial dari semua narasi yang mengandung gagasan, ataupun sekadar mengandung diksi khilafah dengan menghilangkannya dari kurikulum agama dan pelajaran sejarah. Lalu di saat sama, diaruskanlah narasi Islam moderat yang begitu welcome terhadap nilai-nilai Barat dan ditampilkan sebagai Islam yang ramah. Sementara sebaliknya, ajaran Islam kaffah dan khilafah terus dipropagandakan sebagai Islam “marah” yang tak layak untuk mereka jamah.

Maka dari itu kita sebagai umat Islam, pemuda Islam, harus memperkuat diri agar tidak termakan propaganda-propaganda manis kapitalisme yang justru merusak. Terus berjuang agar bisa segera hidup di atas akidah dan syariat, dalam institusi negara bernama Khilafah Islamiyyah. Sebuah institusi yang akan menyatukan semua potensi umat melawan hegemoni kekufuran dan hegemoni kapitalisme global. Wajib pula bagi kita untuk membongkar kedok mereka, yang tanpa malu memilih tunduk di ketiak penjajah. Sampai-sampai mereka rela mengorbankan agama dan saudaranya demi dunia yang tak seberapa.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS Al An’am: 112).

Wallahu a'lam. []

Oleh: Sri Hasniah Ashara
(Mahasiswi Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin Makassar)

Posting Komentar

0 Komentar