Doa Semua Agama, Pendangkalan Akidah Berbalut Moderasi Agama


Tiada habisnya, ajaran Islam dikerat-kerat hingga tanpa sisa.  Adalah upaya moderasi agama masif diskenariokan. Hal tersebut sesuai pernyataan  Menteri Agama Yaqut Chalil Choumas meminta agar semua agama berkesempatan mengisi doa pada acara di lembaga yang dipimpinnya. Hal tersebut disampaikan dalam daring dan luring Rapat Kerja Nasional Kementerian Agama. Menurutnya, Kementerian Agama harus menjadi naungan semua agama.  Bukan hanya Islam. Tidak seperti sekarang. Ia berharap Kemenag memberi kesempatan yang sama untuk semua agama. 

AntaraNews.com (5/4/2021) melansir pernyataan Yaqut tersebut, meminta Kemenag dapat mencerminkan moderasi agama yang nyata di tengah masyarakat. Bukan sebuah paradoks. Berkoar-koar moderasi agama tapi kenyataannya berseberangan. 

Senada dengan itu Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid menjelaskan bahwa doa dari semua agama yang dimaksud adalah untuk acara umum di lingkungan internal Kemenag. Menurut beliau, hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan (viva.co.id 9/4/2021).

Miris, Islam dan ajarannya seakan menjadi bulan-bulanan rezim. Padahal sampai hari ini kaum Muslimin masih menjadi mayoritas di negeri ini. Akan tetapi, mereka tidak membiarkan kaum Muslimin menunjukkan jatidirinya.  Atas nama modernisasi. 

Dalih penanggulangan paham radikalisasi dan terorisme acapkali seperti senjata yang menyerang membabi buta. Seolah itu ancaman besar dan berbahaya bagi bangsa ini.  Melebihi bahaya korporasi asing. 

Hal tersebut sebenarnya tidak lagi asing kita saksikan.  Ketika rezim mempertontonkan moderasi agama.  Sejatinya moderasi agama merupakan proyek asing.  Dan rezim menjadi kaki tangan mereka.  Mereka dengan rela melaksanakan agenda liberalisme asing. 

Target moderasi membentuk masyarakat yang toleran, menganggap semua ajaran agama sama. Masyarakat menjadi semakin liberal, individualis, materialis dan hedonis. Mendukung demokrasi, menjunjung tinggi hak asasi manusia, memperjuangkan kesetaraan gender, dan pemikiran "nyeleneh" lainnya. 

Dampak modernisasi menjadikan Muslim lemah akidahnya.  Kehilangan jati diri mereka sebagai seorang Muslim. Alih-alih memperjuangkan Islam. Tapi justru menolak dan menentang ajaran agamanya. Mereka justru menjadi musuh bagi agamanya sendiri.

Ide moderasi sejatinya bersumber dari akidah sekuler.  Sekularisme meniscayakan hubungan yang terpisah antara agama dan kehidupan.  Hal tersebut nampak dari kehidupannya yang tetap menjalankan ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.  Di lain sisi, mereka justru melanggarnya, seperti melakukan aktivitas ekonomi ribawi dan pergaulan bebas. Yang jelas dilarang Islam. 

Hal itulah yang dicita-citakan oleh asing untuk melancarkan korporasinya di negeri-negeri Muslim. Ketika kaum Muslim lemah akidahnya, maka mereka mudah dikuasai. Baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. 

Kaum Muslimin harus kritis melihat setiap fenomena yang ada.  Menjadikan Islam sebagai kaca mata berpikir mereka.  Sehingga tidak mudah dibelokkan dengan ide asing. Tidak mudah ikut-ikutan dengan trend yang merusak. 

Kondisi ketiadaan khilafah sebagai junah/perisai bagi kaum Muslimin, meniscayakan lemahnya akidah.  Karena sejatinya orang-orang kafir tak kan berhenti hingga kaum Muslimin mengikuti langkah mereka. 

Allah SWT berfirman: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka." (QS. Al-Baqarah: 120)

Oleh karenanya, kaum Muslimin harus senantiasa menguatkan akidah dan memperjuangkan tegaknya kembali kehidupan Islam.  Agar harga diri kaum Muslimin kembali mulia.  Ajarannya tidak diinjak-injak seperti sekarang. Karena sampai kapan pun hanya Islam lah yang diridhai Allah.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam". (QS. Ali Imran: 19). 

Wallahu a'lam bishshawab. []

Oleh: Sifa Isnaeni, S.Pt.
(Owner Bimbel Aladdin Purbalingga dan Mompreneur)

Posting Komentar

0 Komentar