Syam: Ibu Kota Negara di Akhir Zaman


TintaSiyasi.com -- Syam adalah bumi yang diberkati. Negeri ini berada di timur Laut Mediterania, berbatasan dengan Sungai Efrat disebelah timurnya, disebelah selatannya ada Gurun Arab dan Pegunungan Taurus disebelah utaranya. 

Negeri ini merupakan tempat dimana agama-agama Samawi yaitu Yudaisme, Nasrani, dan Islam memiliki tempat yang disucikan. Bukit Golgota, Lembah Sinai, Tembok ratapan, dan Masjidil Aqsa ada disana.

Namun, semenjak umat Islam dipecah-pecah dan disatukan secara secara paksa sebagai negara bangsa, yang dimaksud dengan Syam adalah wilayah Lebanon, Suriah, Yordania, Israel dan Palestina. 

Sebagian dari wilayah Mesir sebenarnya masuk ke wilayah bumi Syam. Namun karena nasionalisme, masing-masing negara itu seolah memiliki kepentingan yang berbeda-beda padahal Al-Quds dan Masjidil Aqsa ada di sana. Sungguh menyedihkan.

Pada masa kekhilafahan terakhir umat Islam, Syam masih menjadi tempat yang sangat terbuka bagi semua agama. Para peziarah bisa dengan sangat leluasa mengunjungi tempat-tempat suci mereka. 

Bahkan para penduduknya hidup dengan damai dan sejahtera. Bandingkan ketika Syam diduduki oleh Roma. Bait suci Yahudi dijadikan tempat pembuangan sampah oleh mereka. Hal yang pernah terjadi ketika umat Islam menjadi penguasa.

Palestina sebenarnya bukanlah sebuah entitas kenegaraan, bukan entitas kebangsaan, bahkan tidak ada bahasa Palestina di wilayah Al-Quds dan sekitarnya. Palestina adalah entitas politik yang dibangun atas dasar nasionalisme pasca diruntuhkannya kekhilafan Turki Utsmani kemudian dilegitimasi dengan perang enam hari yang penuh tipu daya dari Zionis Yahudi. Hanya dalam waktu singkat, penduduk Syam tiba-tiba memiliki bendera kebangsaan yang berbeda-beda.

Perjanjian Sykes-Picot 1916 dan dilanjutkan dengan Deklarasi Balfour 1917, membuat penduduk Syam seperti anak ayam yang kandangnya kemasukan musang. Mereka bingung dengan silih bergantinya mandat penjajah kepada para pembunuh khilafah yang sedang membagi-bagikan ghanimah. 

Para penjarah tidak khawatir lagi adanya perlawanan yang berarti dari umat Islam, sebab para pemimpin mereka sudah dibungkam dengan racun pemikiran dan kekuasaan.

Para penguasa negara bangsa, meskipun mereka muslim, tidak ada yang memiliki wawasan ideologis yang sempurna. Bahkan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang ditanam Barat untuk menjadi agen bagi penjajahan berikutnya. Organisasi Liga Arab dibentuk tidak lebih sebagai sandiwara untuk meluluskan antitesis bagi terbentuknya negara Israel.

Oleh karena itu, masalah Palestina sejatinya bukanlah masalah kemerdekaan seperti yang secara simultan dinarasikan. Akar masalah Palestina adalah ketiadaan kekhilafahan Islam. 

Negeri muslim yang saat ini disatukan dengan ashabiyah kebangsaan tidak akan mampu menghadapi gerombolan penjahat yang memiliki kesamaan ideologi. Negeri-negeri muslim harus kembali bersatu atas persamaan ideologi mereka, yaitu Ideologi Islam. 

Sudah saatnya kita menghancurkan sekat-sekat kebangsaan dan kembali menyatukan umat Islam dalam sebuah institusi legal untuk menerapkan Syariat Islam secara formal dan mengemban dakwah ke seluruh alam, yaitu kekhilafahan Islam. Karena hanya dengan itu musuh-musuh Islam bisa dikalahkan, dan permasalahan umat bisa secara tuntas diselesaikan.

Damaskus adalah ibukota kekhilafahan Islam di akhir zaman. Wallahu A'lam bish Shawwab.


Oleh: Trisyuono D
Pemerhati Sejarah 

Posting Komentar

0 Komentar