Amaliah Dakwah Rasulullah SAW Mengikuti Marhalah Dakwahnya


TintaSiyasi.com -- Sobat. Sebagaimana artikel sebelumnya ada tiga tahapan atau marhalah dakwah Rasulullah SAW :

Pertama, marhalah tatsqif wa takwin. Tahap Pembinaan dan Pembentukan. Pembinaan kader dakwah dan pembentukan kerangka gerakan.

Rasul memulai dakwah dengan mengajak manusia memeluk Islam.Rasul membina mereka dengan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam. Rasul menghimpun mereka dalam satu kutlah (kelompok). 

Pembentukan kutlah dakwah dilakukan secara rahasia. Rasul membina di rumah-rumah mereka, terkadang di bukit-bukit, terkadang di rumah al-Arqam. Tahap ini berakhir setelah turun perintah untuk berdakwah secara terang-terangan (QS. Al-Hijr: 94).

Kedua, marhalah tafa’ul ma’al ummah wal kifah.Tahap Interaksi dan Perjuangan. Berinteraksi di tengah masyarakat dan melakukan perjuangan politik. Melakukan thalabun nushroh.

Tahap ini dimulai dengan menampakkan kutlah (kelompok dakwah Rasulullah SAW) secara terang-terangan.Uslub yang digunakan Rasul yaitu dengan keluar bersama shahabat dalam 2 kelompok. Mereka keluar dengan barisan rapi mengitari Kakbah. Mereka mendakwahkan Islam dan mengkritik sesembahan orang-orang kafir. 
Amaliyah dakwah yang dilakukan oleh kutlah ini adalah: 
1. Shiro’ul fikri, yaitu melakukan pergolakan pemikiran.
2. Kifahus siyasy, yaitu melakukan interaksi politik.
3. Kasyful khuthath, yaitu mengungkap ide kufur dan persengkongkolan orang-orang kafir.
4. Tabanny masholihul ummah, yaitu menjelaskan hak-hak kemashlahatan yang seharusnya diterima oleh ummat.

Ketika dakwah terus meluas, tekanan dakwahpun semakin menghebat, Rasul menyelesaikan tahap ini aktivitas thalabun nushrah, thalabun nushrah, yaitu meminta pertolongan dan perlindungan kepada pemilik kekuasaan, agar mereka mau menyerahkan kekuasaannya.

Amaliyah Thalabun Nushrah: Rasul SAW mencari nushrah ke Thaif, menemui pemimpin Bani Tsaqif. Tetapi upaya ini gagal dan tertolak. Rasulullah SAW menemui pemimpin qabilah-qabilah yang datang ke musim Haji di Makkah untuk meminta nushrah. Tetapi juga gagal. Thalabun Nushrah yang sukses adalah dari Mush’ab Bin Umair di Yastrib. Puncak dari tahap ini ditandai dengan Bai’at Aqabah 2.                    

Ketiga, marhalah tathbiq ahkamul Islam. Tahap Penerapan Hukum-hukum Islam. Menerapkan hukum Islam di dalam negeri dan mengemban dakwah dan jihad ke luar negeri. 

Dalam marhalah tathbiq ahkamul Islam. Di Madinah Rasul memulai dengan membangun masjid sebagai tempat shalat, bermusyawarah dan mengatur urusan masyarakat. Rasul mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai wazir. Rasul menjadi pemimpin negara, hakim dan komandan pasukan. 

Rasul mengatur urusan pemerintahan dan menyelesaikan pertikaian dan perselisihan dengan hukum Islam. Rasul juga mengangkat komandan-komandan pasukan dan mengirimkannya ke luar madinah untuk mengemban dakwah dan jihad. Ketika Rasul wafat wilayah kekuasaan Rasul sudah meliputi seluruh jazirah Arab.

Allah SWT berfirman :

وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن يَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَٱعۡلَمۡ أَنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعۡضِ ذُنُوبِهِمۡۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ 

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah (5) : 49).

Sobat. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas, bahwa Kaab bin Asad, Abdullah bin Suriya, Wisyas bin Qais dari orang-orang Yahudi berkata "Mari kita pergi kepada Muhammad, mudah-mudahan kita dapat menyesatkannya." Maka pergilah mereka menghadap Rasulullah lalu mereka berkata kepada 

Rasulullah SAW.: 
"Hai Muhammad, kamu telah mengetahui bahwa kami ini adalah pendeta Yahudi, para pembesar dan pemimpinnya. Kalau kami mengikuti kamu, orang-orang Yahudi pasti mengikuti kami dan tidak akan ada di antara mereka yang berani menentang. Di antara kami dan kaum kami ada sengketa. Persengketaan itu akan kami bawa kepadamu, maka hendaklah engkau memenangkan kami terhadap mereka, dan kami akan beriman dan akan membenarkan kamu. Maka Rasulullah enggan (mengikuti kehendak mereka) itu dan Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat tentang perkara mereka.... wa anihkum bainahum bima anzala Allah...."(Riwayat Ibnu Jarir dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas)

Sobat. Nabi SAW menolak permintaan mereka, maka turunlah ayat ini. Nabi Muhammad agar memutuskan perkara orang-orang Yahudi yang diajukan kepadanya sesuai dengan apa yang telah diturunkan Allah dan jangan sekali-sekali menuruti keinginan dan kehendak hawa nafsu mereka. 

Allah mengingatkan kepada Nabi supaya berhati-hati menghadapi siasat mereka, jangan sampai terjebak oleh tipu daya mereka yang ingin menyelewengkan beliau dari sebagian hukum yang telah diturunkan dan digariskan Allah kepadanya.

Kalau mereka masih juga berpaling dan tidak mau menerima keputusan yang berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah karena memang maksud mereka meminta kepada Nabi untuk memutuskan perkaranya sekedar untuk memancing dan menjebaknya, kalau-kalau bisa berpaling dari hukum Allah. 

Ketahuilah bahwa yang demikian itu karena Allah menghendaki akan menimpakan azab kepada mereka di dunia, akibat dosa-dosanya dan akan disempurnakan nanti di akhirat, siksaan yang amat pedih. 

Memang kebanyakan manusia adalah fasik, bersifat seperti orang-orang kafir, senang meninggalkan hukum-hukum Allah dan syariat yang telah dipilihkan untuk mereka. Aktivitas yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat di Madinah adalah aktivitas Rasul sebagai kepala Negara dan Hakim. 

Bagaimana aplikasi ‘Amaliyah Dakwah dan Thariqah dakwah Rasulullah SAW di era kekinian? Jangan ke mana-mana. Nantikan artikel selanjutnya masih bersama kami.


Oleh: Dr. Nasrul Syarif M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Buku BIGWIN

Posting Komentar

0 Komentar