Indonesia Darurat Bunuh Diri Anak


TintaSiyasi.com -- Menyoroti meningkatnya jumlah kasus bunuh diri pada usia muda, pengamat sosial politik Iwan Januar mengungkapkan Indonesia sudah masuk darurat bunuh diri anak.

“Jumlah bunuh diri pada usia muda juga meningkat. Menurut data WHO pada 2005, pelaku bunuh diri kebanyakan usia muda antara 15—24 tahun. Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat, Indonesia sudah masuk darurat bunuh diri anak. Pada 2014 saja ada 89 anak meninggal akibat bunuh diri,” terangnya kepada muslimahnews.net yang dikutip TintaSiyasi.com, 24 September 2023.

Ia mengungkapkan, meningkatnya depresi dan bunuh diri pada remaja adalah gambaran memburuknya kesehatan mental masyarakat. Selama ini, pembangunan selalu ditujukan untuk perbaikan materi dan gizi masyarakat, bukan pada kesehatan mental. "Tidak heran karena memang begitulah paradigma masyarakat dengan sistem sekulerisme-kapitalisme,” terangnya.

UIJ menerangkan, anak-anak muda tidak akan lagi bisa mendengarkan lengkingan live dari seorang Chester Bennington, vokalis grup rock Linkin Park. Kamis (20-7-2017) “Chester ditemukan mati bunuh diri. Selain mengalami depresi, ia dirundung adiksi narkoba dan minuman keras. Sudah berulang kali pula ia menyatakan mencoba bunuh diri. Kali ini benar-benar ia lakukan dan berhasil,” jelasnya.

“Ada Chester, ada juga Oka. Siapa Oka? Pria ini memang hanya dikenal di kalangan anak-anak muda pecandu media sosial Instagram. Oka salah satu dari sekian orang yang menjadi selebgram. Di dunia Instagram, pria bernama lengkap Oka Mahendra ini terkenal bersama kekasihnya, Awkarin. Mereka berdua kerap memajang foto keintiman yang kontroversial namun disukai oleh anak-anak muda. Oka juga diberitakan meninggal di tengah depresi terlilit utang usaha. Awalnya ia diberitakan bunuh diri, tetapi keluarga membantah meski tidak memungkiri putra mereka memang tengah depresi berat,” tambahnya.

Begitu juga dengan lainnya. Iwan membandingkan lain Chester, lain Oka. Chester Bennington mati justru bunuh diri di tengah kesuksesan karirnya. “Beberapa album Chester bersama Linkin Park sukses terjual jutaan keping. Beberapa lagu mereka kerap dijadikan soundtrack film box office. Anak muda mana yang tidak hafal lagu Crawlin, Numb, atau What I’ve Done yang jadi soundtrack film Transformers 2?,” ujarnya.

“Akan tetapi, ada yang sama dari keduanya, yakni depresi dan bunuh diri pada usia muda. Tragedi ini seharusnya menjadi sinyal penting bagi orang tua, masyarakat, dan negara bahwa bunuh diri akibat depresi sudah menjadi epidemi. Jumlah remaja yang mengalami depresi di seluruh dunia rata-rata memang meningkat. Di AS, dalam satu dekade jumlah teenager yang mengalami depresi, khususnya remaja putri, naik menjadi 37 persen. Begitu laporan situs Time (15-11-2016),” tegasnya.

Ia menegaskan, sekularisme kapitalisme memiliki “anak kandung”, yakni hedonisme. Hedonisme adalah paham yang memuja kejayaan materi dan ketenaran, dua hal yang paling diburu manusia yang hidup di dalamnya. Faktanya, dua hal itu tidak membawa kebahagiaan pada pemiliknya. Chester Bennington, Heath Ledger, Chris Cornell, Whitney Houston, dan lainnya adalah para korban kesuksesan hidup. Mereka tenar dan kaya, tetapi tidak bahagia.

“Sayangnya, masyarakat apalagi remaja tertarik dengan hal itu. Oka dan Awkarin, misalnya, dua sejoli yang merintis kesuksesan di dunia maya, khususnya Instagram. Mereka kerap pajang foto-foto keintiman yang kontroversial, tetapi selalu dinanti para follower-nya. Namun, belitan masalah ternyata tidak bisa ditanggung oleh Oka yang kemudian memilih bunuh diri,” imbuhnya.

Menurutnya, bagaimanapun, negara dan masyarakat bertanggung jawab mencegah depresi dan tindak bunuh diri di masyarakat, khususnya remaja. Budaya sekularisme kapitalisme harus dihentikan karena menjadi penyebab hancurnya mental remaja.

“Benar, negara harus bertanggung jawab. Namun, orang tua adalah benteng pertama dalam melindungi remaja dari depresi dan tindak bunuh diri. Dalam kacamata Islam, orang tua bertanggung jawab menjaga kesehatan fisik dan mental anak. Orang tua wajib melindungi anak-anak mereka dari berbagai serangan budaya yang dapat menghancurkan mental sehingga mereka depresi,” pungkasnya.[]Sri Nova Sagita

Posting Komentar

0 Komentar