Ustazah Wiwing Noeraini: Lagi-lagi karena Kemiskinan, Banyak Perempuan Jadi Pekerja Migran


TintaSiyasi.com -- Merespons terkait banyaknya perempuan yang rela bekerja di luar negeri dengan berbagai konsekuensi, Aktivis Muslimah Ustazah Wiwing Noeraini, itu karena kemiskinan.

"Lagi-lagi karena kemiskinan, maka banyak sekali yang ingin menjadi pekerja migran," ujarnya kepada Tintasiyasi.com, Kamis (11/05/2023).

Ia melanjutkan, seandainya kehidupan mereka sejahtera, dan semua kebutuhan tercukupi, pastilah mereka akan lebih suka bekerja di negeri sendiri daripada harus pergi ke luar negeri meninggalkan suami dan anak-anak.

"Bahkan anak-anak yang masih sangat kecil yang pasti sangat membutuhkan kehadiran ibunya," tuturnya.

Ia menambahkan , kalau semua kebutuhan sudah tercukupi dari nafkah suami dan adanya tanggungan negara terhadap jaminan pendidikan dan kesehatan, maka pasti kaum perempuan ini lebih memilih perannya sebagai istri dan ibu pengurus rumah tangga dan pendidik anak, daripada harus bekerja, bahkan bekerja di luar negeri dengan segala risikonya.

"Seperti rentan terhadap penipuan dengan berbagai modus, sehingga banyak yang terjerumus ke dalam perdagangan orang, mereka dijual menjadi pekerja seks komersial, sebagaimana baru-baru ini terjadi, kasus WNI di Myanmar yang diduga menjadi korban perdagangan orang, sementara mereka terjebak di daerah konflik bersenjata di sana, sehingga masih menunggu proses untuk bisa dipulangkan," paparnya.

Dalam keterangannya, Ustazah Wiwing melanjutkan, mayoritas karena miskin, sementara lapangan pekerjaan sempit. Suami tidak bekerja karena sulit mencari pekerjaan, sementara anak-anak butuh makan, juga kebutuhan lainnya. Maka bekerja ke luar negeri menjadi pilihan.

Karena kemiskinan pula lanjut Ustazah Wiwing, para pekerja migran punya pendidikan yang rendah, sehingga kurang dari sisi kemampuan intelektualitas, juga skill. Sehingga, hanya bisa masuk di sektor yang dianggap unskilled labour (tenaga kerja tidak terampil), seperti pembantu rumah tangga.

"Mereka juga rentan terbawa proses migrasi ilegal karena ketidaktahuan serta prosesnya lebih mudah dan cepat," mirisnya.

Maka menurutnya, banyak sekali kasus pekerja migran dianiaya oleh majikan, bahkan ada yang sampai meninggal, sebagian lagi mendapat pelecehan seksual dari majikan, bahkan ada yang sampai hamil.

"Sementara sang majikan lepas dari hukuman, atau kalaupun dihukum maka dengan hukuman yang sangat ringan," pungkasnya.[] Faizah

Posting Komentar

0 Komentar