Panggung untuk Penjahat Seksual: Inikah Bukti Media Sekuler Nirnilai?


TintaSiyasi.com-- Tontonan jadi tuntunan, akhirnya tontonan merusak tatanan. Hidup di zaman serba digital begini, bisa jadi ladang pahala, atau sebaliknya, bisa jadi sumur dosa. Bagaimana tidak? Diakui atau tidak, tontonan sekarang lebih kuat pengaruhnya daripada pelajaran di sekolah yang berulang kali diajarkan gurunya. Walhasil, adanya tontonan yang nirnilai ini merusak tatanan kehidupan.

Masih pilu hati mendengar kabar pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh tujuh orang pegawai KPI yang melakukan pelecehan seksual dan perundungan. Tiba-tiba publik dikejutkan dengan sambutan berlebih dan kembali tayangnya Saiful Jamil (SJ) eks narapidana pedofil di salah satu stasiun televisi terkemuka.

Lumrah, jika akhirnya, stasiun televisi tersebut minta maaf atas sikap berlebihan kepada SJ. Tapi, perlu dipertanyakan, mengapa sosok SJ diglorifikasi bak pahlawan? Padahal dia keluar dari penjara karena melakukan kejahatan seksual. Sekali lagi ini memang tidak pantas.

Wajar jika hal ini semakin menegaskan, media sekular hanya mementingkan keuntungan, yakni uang semata. Berbekal kejar tayang, mereka melupakan nilai-nilai agama yang harus dijaga. Nyatanya, banyaknya tontonan, hiburan, dan tayangan media sekular lebih cenderung merusak daripada yang mendidik.

Ndakik-Ndakik

Sudah menjadi hal yang lumrah, jika guru di sekolah digaji kecil untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi artis digaji milyaran untuk merusak generasi bangsa. Dibuat kurikulum ndakik-ndakik dengan sistem pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan persuasif. Ternyata hanya dengan sekejap generasi dirusak oleh tontonan yang dijadikan tuntutan oleh mereka.

Belum lagi dengan adanya virus Covid-19, memaksa semua elemen untuk melakukan pembelajaran via daring. Sehingga membuat pelajar yang notabene adalah generasi muda asik bersentuhan hari-harinya dengan gawai dan laptop. Alasannya memang untuk belajar dan mengikuti pembelajaran. Tetapi, bagaimana pengaruh racun media sekuler yang setiap detik iklan-iklan menghiasi di segala kanal medsos.

Di balik gencarnya media sekuler mempromosikan tayangan-tayangan yang tidak mendidik, bahkan terkategori unfaedah. Sebenarnya mengapa hal itu bisa terjadi? Dan mengapa media sekuler bisa sesubur ini perkembangannya? Ditelisik lebih jauh memang ada beberapa poin yang perlu dijabarkan. 

Pertama, sekularisme. Lahirnya media sekuler karena adanya sistem sekuler yang melindungi perkembangan mereka. Bagaimana tidak? Hukum pun tidak bisa menghukum media sekuler yang menayangkan kembali SJ lantaran media tersebut sudah minta maaf. Selain itu, penjahat seksual dalam pandangan Islam harus dihukum secara Islam. Yaitu, diterapkan hukum hudud bagi mereka pelaku kejahatan seksual maupun pezina. Jelas hukumannya, kalau bukan cambuk ya rajam. Sehingga ini tidak memungkinkan, satu pun media yang akan beri panggung mereka.

Kedua, orientasi keuntungan. Ya, profit oriented, begitulah gambaran media saat ini. Bukan halal haram, tapi mereka hanya memikirkan berapa banyak keuntungan yang didapat. Atas dasar itulah yang membuat media hanya menampilkan unfaedah, nirnilai, bahkan maksiat.

Ketiga, orientasi rating. Kejar peringkat, rating, dan viral. Walhasil, konten yang disuguhkan bukannya mendidik tapi malah pppmerusak generasi. Banyak sekali tayangan-tayangan berisi lucu-lucuan, bahkan hina-hinaan, ngobrol ngalor ngidul enggak jelas. Terkadang, media sekuler memang sering meWem-blow up artis-artis sensasional demi kejar rating.

Jika negara serius dalam menjaga dan mendidik generasi, harusnya pengelolaan media dalam kontrol utamanya. Bukan malah dikuasai pasar. Bukan edukasi lagi, lebih ke glorifikasi kemaksiatan. Beginilah akibat apabila kehidupan jauh dari nilai Islam. Bagaimana kehidupan berjalan sesuai syariat Islam, jika aturan yang diterapkan saja adalah sekulerisme. Bobroknya media dan berpengaruh dengan generasi adalah pil pahit yang harus ditelan negeri ini. Jika negeri ini tidak segera berbenah, kembali kepada Islam dan aturannya, tidak tahu lagi, bagaimana kerusakan yang akan terjadi selanjutnya? []Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar