Terorisme Upaya Mendiskreditkan Islam


Cerita klasik narasi terorisme kembali didaur ulang. Narasi ini bukan hanya menjadi perbincangan heboh di berbagai kalangan, justru menuai kontroversi. Pasalnya dalam fakta penerapannya di lapangan dari dulu hingga sekarang, umat Islam selalu menjadi korban tertuduh narasi terorisme. Tidak hanya itu, nampak adanya upaya framing jahat untuk mendiskreditkan ajaran Islam tentang jihad dan menganggap terorisme adalah bagian dari ajaran Islam.  

Sebagaimana aksi yang diduga bom bunuh diri terjadi di depan Gereja Katedral Makassar jalan Kajaolalido, Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3/2021). Diduga, pelaku bom bunuh diri berencana meledakkan diri di dalam Gereja Katedral. Namun rencana tersebut berhasil dicegah oleh petugas keamanan gereja yang bernama Kosmas (51). Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol E Zulpan mengatakan, korban luka akibat bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar bertambah menjadi 14 orang.  Aksi ini adalah murni aksi bom bunuh diri menurut satu versi yang bersumber dari aparat kepolisian. Begitupun yang beredar di berbagai media-media bahwa ini adalah dugaan aksi bom bunuh diri. Sejauh ini publik belum menemukan versi pembanding. Dalam artian cerita yang dikabarkan oleh aparat kepolisian  dianggap  belum memiliki otoritas dan otentitas sebagai cerita yang kredibel. Sebab pelaku telah meledakkan dirinya atau diledakkan oleh orang lain menggunakan remote control, sehingga rakyat tidak mudah percaya begitu saja.

Berselang tiga hari narasi terorisme kembali digulirkan. Seorang wanita berumur 25 tahun memakai hijab syar'i dan cadar, ditembak mati di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri). Pelaku bernama Zakia Aini (ZA), pada Rabu (31/03/2021) sore (cnnindonesia.com).  Diduga pelaku tersebut masuk ke Mabes Polri dengan membawa senpi (senjata api). Anehnya pelaku lolos dari metal detector. Sebegitu lemahkah sistem keamanan dan deteksi dini di Mabes Polri?

Meskipun pelaku wanita, gelarnya bukan almarhumah. Wanita yang ditembak mati ini oleh Polisi digelari  'lone wolf', berideologi ISIS. Sekali lagi semua narasi cerita  tersebut  hanya bersumber sepihak dari kepolisian tanpa ada pembanding, dan tanpa ada dasar logika untuk menguatkan atau membenarkannya disebabkan orang yang ditembak mati, yang kemudian disebut terduga pelaku teroris, tak sempat dimintai keterangan dan/atau klarifikasi.

Parade terorisme selalu memiliki pola dan narasi yang sama, dari cerita sebelumnya hingga cerita ini, dan mungkin cerita yang akan ada selanjutnya. Semua diarahkan pada isu radikalisme, dan yang dimaksud radikal digambarkan Islam. Narasi radikalisme selalu dibumbui dengan atribut Islam seperti berkerudung, bercadar, jihad, gerakan Islam, simbol bendera Islam, dan ujungnya selalu digunakan untuk mendiskreditkan umat Islam. 

Semua yang mereka tuduhkan terhadap para pelaku aksi terorisme, hakikatnya para pelaku itulah adalah korban, sesungguhnya mereka orang yang dirugikan, termasuk umat Islam pada umumnya dari narasi war on terrorism or war on radicalism. Sebab slogan sesungguhnya adalah perang terbuka terhadap Islam yaitu War On Islam.

Berbagai tindakan penangkapan yang diduga teroris  terus digencarkan di berbagai daerah oleh Densus 88. Untuk kepentingan tersebut, polri mengusulkan anggaran sebesar Rp.44 Triliun. Seolah negara dalam keadaaan darurat terorisme yang memaksa,  sehingga siapa pun yang diduga bergabung dalam jaringan teroris dan atau memiliki ciri-ciri teroris maka tidak segan-segan untuk dilibas dan direnggut nyawanya. Apa jadinya jika Perpres No.7 tahun 2021 tentang RAN PE diloloskan? Akan menjadi abuse of power atau penyalahgunaan wewenang jika Perpres tersebut disahkan. Bisa jadi Densus 88 akan lebih masif melakukan penangkapan sesuka hati karena telah dilindungi konstitusi.

Islam adalah agama yang mengajari umatnya untuk selalu menebarkan kasih dan sayang di muka bumi kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Sabda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (Mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia)”.  (HR. Ath-Thabrani).  

Narasi terorisme memunculkan fobia Islam di tubuh kaum Muslimin dan ini akan menjadi alat adu domba sebab semua yang termasuk ciri-ciri teroris ada pada umat Islam itu sendiri. Jelas Allah mengharamkan tindakan adu domba. Firman Allah SWT yang artinya:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍ، هَمَّازٍ 
مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍۙ

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (TQS. Al Qalam: 10-11)

Bagi mereka yang senantiasa taat kepada pencipta-Nya yaitu Allah subhanahu wa ta'ala akan dituduh teroris. Secara tidak langsung ini adalah upaya adu domba dan menstigmatisasi Islam bahwa Islam adalah agama teroris. Persis narasi Global War On Terorism yang digembar-gemborkan oleh Amerika sejak peristiwa 911. War On Terorism yang kemudian bermetamorfosis menjadi war on radicalsm. Orang yang beriman berusaha dengan susah payah menjadi orang yang taat, menjadi insan Rabbani kepada Allah dan Rasul-Nya. Di satu sisi ada pihak yang melontarkan semena-mena dengan tuduhan teroris. Maka bisa dipastikan bahwa dalang dari narasi teroris adalah bukanlah orang Islam atau bukan beragama Islam tetapi mereka adalah orang-orang di luar Islam yang sangat benci terhadap Islam terlebih lagi amat besar kebencian mereka akan tibanya hari kemenangan Islam menjadi Rahmatan Lil'alamiin. 

...وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa." (QS. An-Nur: 55).

Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh: Murni, SE 

Posting Komentar

0 Komentar