Singa Itu Akan Mengaum Kembali


Alhamdulillah, bersyukur terlahir sebagai seorang Muslim, yang mendapat gelar umat terbaik (Q.S Ali Imran : 110). Umat yang pernah merajai dunia dengan negara adidayanya selama 13 abad lamanya. Ibarat seekor singa yang sekali mengaum maka akan menggetarkan musuh-musuhnya.
Namun singa itu kini tengah tak berdaya, ia kehilangan kekuatannya.

Sebagai seorang Muslim sumber kekuatan kita tentu saja akidah Islam. Kekuatan yang dulu pernah membawa Rasulullah ﷺ dan pasukannya memenangkan perang badar dengan kekuatan yang sangat tidak sebanding. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang, di saat pasukan kaum Muslim sedang berpuasa Ramadhan pula.

Kekuatan itu pula yang membukakan jalan kemenangan bagi 3000 pasukan kaum muslim melawan 200.000 pasukan musuh, gabungan dari 100.000 pasukan Byzantium Romawi dan 100.000 pasukan dari kaum musyrik Arab. Allahu Akbar!!
Berbagai kemenangan demi kemenangan terus tercatat dalam tinta emas sejarah kejayaan Islam. Siapa yang tak kenal dengan Salahuddin Al Ayyubi sang penakluk Yerussalem?! Siapa pula yang tak kenal dengan Muhammad Al Fatih sang penakluk negara super power yang sebelumnya tak terkalahkan yakni Konstantinopel?

Sayangnya kekuatan itu kini telah terenggut oleh pemikiran sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan, seolah Islam hanya tersisa di saat sedang sholat, puasa, dan ibadah-ibadah ritual saja. Pemikiran yang terlahir dari ideologi kapitalisme, ideologi yang begitu memuja nafsu duniawi dan menjadikan materi serta kebahagian duniawi sebagai tujuan utamanya.

Di negeri ini saja, pemikiran-pemikiran sekuler terpampang begitu jelas. Salah satunya yang beberapa waktu lalu kita lihat di berita bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama meluncurkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri terkait Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut di lingkungan sekolah negeri jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah daerah dan kepala sekolah, papar Mendikbud Nadiem Makarim, wajib mencabut aturan yang mewajibkan atau melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak keputusan bersama ini ditetapkan. (Kompas.com 03/02/2021). 

Sungguh memprihatinkan. Peraturan semacam ini dibuat oleh negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Atau kisah viral lainnya yang juga menunjukkan betapa sekulernya pemikiran di negeri ini. Yaitu kisah seorang guru non muslim yang mengajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Guru Mata Pelajaran Geografi bernama Eti Kurniawati itu, adalah CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) dari Kementerian Agama. (kompas.tv, 01/02/2021)

Bukankah keberadaan sekolah Islam juga untuk mengintensifkan pembelajaran ilmu-ilmu Islam yang termasuk di dalamnya ada pembelajaran soal akidah? Jika ingin pembelajaran dan penjagaan akidah Islam tetap intensif, mengapa harus mendatangkan guru yang beragama non Muslim?
Tanpa bermaksud mendiskriminasi para guru non Muslim, namun batasan akidah bukanlah sesuatu yang layak untuk dimoderasi, apalagi dikompilasi atau dicampuradukkan. Islam telah mengatur hal ini secara tegas. 

Allah Swt. berfirman: “Janganlah kalian campur adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kalian sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya.” (QS Al-Baqarah [02]: 42).

Begitulah sekulerisasi pemikiran di negeri mayoritas Muslim ini telah terjadi, juga pada banyak kasus lainnya. Melemahkan sendi-sendi umat Islam. Hingga membuatnya tak berdaya. Meski lemah namun singa tetaplah singa. Kekuatannya tetap saja membuat musuhnya cemas dan gelisah, jika suatu saat ia akan bangkit dan mengaum lagi.

Kita tentu masih ingat ketika perbankan sempat guncang karena isu rush money. Berawal dari kicauan netizen pada akhir Juni lalu yang mengatakan “Bank Bukopin diserbu nasabah untuk menarik uangnya, selamat pagi Indonesia”, yang di-retweet sebanyak 1.200 kali dan mendapatkan likes 4.000 kali (CNBC, 30/6/2020).

Begitupun dengan hashtag salah satu produk roti menjadi viral dan membuat perusahaan jepang pemiliknya turun nilai sahamnya. Kita juga pasti tak akan melupakan kasus pelecehan terhadap Nabi tercinta kita, Nabi Muhammad ﷺ yang dilakukan Perancis. Hingga muncul seruan dari seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia untuk memboikotnya. Hingga akhirnya Perancis mendesak negara-negara Timur Tengah untuk megakhiri seruan boikot mereka terhadap barang-barang produksi Perancis, sebagai bentuk protes terhadap pembelaan Presiden Emmanuel Macron untuk menayangkan kartun Nabi Muhammad. (Kompas.com 26/10/2020)

Atau kejadian di awal tahun yang baru saja terjadi kemarin. Ketika korporasi kapitalis global sempat dibuat kalang kabut oleh seruan untuk meninggalkan aplikasi WhatsApp. Terutama di negeri-negeri muslim yang menjadi bagian besar penggunanya. WhatsApp menuai kritik dari sejumlah penggunanya setelah WhatsApp menerbitkan kebijakan privasi baru, yakni data pribadi milik penggunanya dan bisa dibagi kepada Facebook. (cnnindonesia.com, 16/1/2021)

Belum lagi potensi berlimpah yang telah dianugerahkan Allah untuk umat Islam. Dari sumber daya alamnya yang seolah tak akan habis meski telah dikeruk oleh perusahaan-perusahaan asing, juga potensi agrarianya hingga potensi pemuda dengan bonus demografinya.

Tidak ada negara atau bangsa lain, ataupun konfederasi bangsa-bangsa yang memiliki sumber energi yang setara dengan sumber energi milik kaum muslim. Limpahan aset yang sangat strategis bagi kaum muslim untuk mewujudkan keseimbangan kekuatan, geopolitik, serta tata dunia baru di masa depan.

Dan yang menjadi sumber dari segala kekuatan umat Islam adalah aqidahnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” (HR Ad Daruquthni dan Baihaqi). Akidah Islam yang terpancar darinya aturan kehidupan yang sempurna. Kita semua memahami bahwa Islam dan syariatnya adalah solusi atas semua masalah manusia, tidak hanya bagi umat Islam tapi juga untuk umat agama dan kepercayaan lain.

Islam mampu memecahkan masalah pribadi manusia dan juga masyarakat. Ajaran Islam itu luas, mulai dari masalah thaharah hingga masalah jihad. Islam diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan seperangkat aturan untuk mengatur manusia mulai dari urusan ibadah hingga muamalah (urusan politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya).

Bayangkan jika seluruh potensi itu disatukan dengan dilandasi akidah yang kokoh, maka bukan hanya gertakan yang akan dimunculkan, tapi ledakan kekuatan super power akan mampu diciptakan untuk meluluhlantakkan kekuatan musuh-musuhnya.

Ditambah keyakinan terhadap bisyarah Rasulullah ﷺ “..Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa khilafah ‘ala minhaaj al-nubuwwah (khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam.” (HR Imam Ahmad) Semakin mengokohkan keyakinan bahwa Islam pasti akan kembali memimpin dunia.

Maka teruslah berjuang, sampaikan Islam kepada seluruh dunia, sadarkan singa yang sedang tak berdaya itu bahwa ia memiliki kekuatan luar biasa yang tak ada bandingannya. Layakkan diri untuk mendapatkan ridha Allah, cinta Allah, dan jannahNya. Jangan pernah berhenti, jangan berbalik arah dan jangan putus asa. In syaa Allah atas pertolongan Allah, Islam akan berjaya lagi. Singa itu akan segera bangkit berdiri lagi. Singa itu akan mengaum kembali.[]

Oleh: Nur Aini Istiqomah 
(Pemerhati dan Pembina Remaja Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar