TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Keunggulan Mendidik Anak dengan Akidah Islam


Kaum liberal dan orang-orang yang tidak paham serta membenci Islam, seringkali membayangkan bahwa pendidikan anak dengan ajaran Islam itu penuh dengan paksaan, intimidasi dan ancaman. Dalam imajinasi mereka, anak-anak keluarga muslim terkekang dan tertekan dengan indoktrinasi ajaran-ajaran Islam.

Apa yang mereka katakan itu lebih sebagai fitnah ketimbang pemikiran ataupun imajinasi. Karena, andaikan pendidikan anak-anak kaum muslimin sejak dulu seperti yang  mereka bayangkan, tidak mungkin bangsa Arab yang dominan buta huruf, tinggal di gurun tandus, penyembah patung dan roti, bisa berubah menjadi kaum yang beradab, cinta ilmu dan memancarkan budi pekerti yang luhur.

Dari bangsa yang penuh tahayul dan khurafat, menjadi kaum yang intelek dan gemar mencari penjelasan ilmiah – dalam koridor iman dan takwa – dalam memecahkan persoalan yang dihadapi. Saat Eropa memandang wabah Black Death sebagai perbuatan tukang sihir, para ilmuwan muslim seperti Ibnu Khatima dan Ibnu al-Khatib sudah membuat hipotesa transmisi atau penularan penyakit.

Ada kisah yang menarik dari hipotesa Ibnu Khatib yang tinggal di Granada, Spanyol. Ia mendapati fakta saat kota Sevilla lumpuh oleh wabah, namun para tahanan di penjara tetap sehat karena mereka terpisah dari keramaian dan tetap dipasok makanan yang sehat. Bukankah ini hipotesa yang ilmiah?
Sebab itu, jangan terlalu pusing dengan tudingan kaum liberal dan pembenci Islam, karena mereka sedang berkhayal dan memaksakan khayalan itu untuk diterima masyarakat, agar muncul kebencian pada Islam.

Banyak keunggulan mendidik anak dengan basis akidah Islam, dibandingkan pendidikan berbasis sekulerisme atau tak berbasis apapun.

Pertama, Akidah Islam adalah konsep pemikiran yang mudah dicerna oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Untuk beriman pada Allah sebagai al-Khaliq terbentang ratusan ayat yang mengajak anak-anak untuk memikirkan keindahan dan kokohnya alam semesta yang tak mungkin ada tanpa proses penciptaan dari Allah Azza wa Jalla sebagai al-Khaliq.

Justru tidak masuk di akal bila anak dipaksa untuk ateis, menolak keberadaan al-Khaliq, tapi mereka diminta percaya bila sepeda, ponsel, atau pakaian ada pabrik yang menciptakannya. Padahal alam semesta lebih rumit ketimbang sepeda, ponsel bahkan pesawat terbang sekalipun.

Kedua, anak-anak yang dididik dengan basis akidah Islam akan teguh dalam prinsip. Tuduhan bahwa anak-anak yang dipaksa untuk patuh pada ajaran agama akan tertekan adalah hoax. Bila memang begitu, seharusnya akan banyak orang yang murtad, keluar dari Islam, di dunia ini. Nyatanya semenjak wafatnya Nabi SAW. hanya segelintir orang yang memilih keluar dari Islam. Mayoritas, bahkan mungkin 90 persen lebih tetap menjadi muslim. Malah di Spanyol saat pasangan Monarki Katolik Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella dari Kastilia memaksa murtad kaum muslimin, lebih banyak yang memilih mati dalam keadaan beriman, atau eksodus keluar Spanyol ketimbang berganti agama.

Kenapa bisa begitu? Karena anak-anak itu ditanamkan akidah Islam bukan dengan doktrin, tapi melalui metode berpikir (thariqah ‘aqliyyiah). Itulah cara yang digunakan al-Qur’an dengan mengajak manusia berpikir tentang keberadaan Allah melalui perantaraan mahluk-mahluknya. Sehingga keyakinan itu kuat menancap, sulit untuk digoyahkan.

Ketiga, Akidah Islam akan menjadikan anak-anak untuk punya sandaran kehidupan yang hakiki, yakni Allah SWT. Dengan dipahamkan konsep qadha dan qadar secara sederhana seperti musibah, ajal dan rizki dari Allah akan membuat anak-anak selalu bersandar pada kebesaran Allah SWT. sembari berikhtiar sekuat tenaga. Dengan begitu, anak-anak yang hidup dalam pendidikan berbasis akidah Islam akan punya kekuatan mental yang kuat dan kepercayaan diri yang tinggi.
Pendidikan berbasis non-agama atau sekulerisme rawan melahirkan para pelajar dan pemuda yang boleh kritis dalam pemikiran, tapi rapuh mentalnya. Negara seperti Jepang, Korea Selatan, juga beberapa negara Eropa berisikan masyarakat yang mudah dilanda depresi hingga bunuh diri. Bahkan di Jepang dan Korea Selatan punya tingkat bunuh diri yang tinggi di kalangan pelajar.

Situs Koreaboo.com menurunkan curhat seorang pelajar SMA yang depresi akibat tekanan pelajaran di sekolah. “Saat SMP, tidak peduli dimana kau akan mendaftar, kau tetap akan berpikiran tentang bunuh diri.” Kata siswa itu. “Kau bangun tidur pada jam 6 pagi, mandi dan berangkat mengendari bus selama satu jam untuk ke sekolah. Di sekolah, kau belajar dan beristirahat. Lalu kau pergi ke tempat les dan ketika kau pulang, hari sudah sangat malam. kemudian kau sadar bahwa kau akan melakukan ini selama tiga tahun,” ungkapnya.

Keempat, dengan basis akidah Islamiyyah, anak-anak akan mudah untuk taat syariat dan hidup disiplin. Ketaatan dan kedisiplinan itu dengan akidah Islam mereka dipahamkan bila ajaran Islam itu benar dan akan menuntun mereka pada kebaikan. Jadi, bukan dengan indoktrinasi apalagi tekanan, ancaman, paksaan atau intimidasi.

Kekeliruan itu bisa terjadi karena orang tua atau pendidik tidak paham uslub menanamkan ketaatan pada agama, dan juga karena mengabaikan penguatan akidah anak-anak. Lalu mereka memaksakan ajaran Islam dengan ancaman ‘neraka’, ‘azab’, ‘siksa’, ‘dosa’, dsb. Intimidasi, ancaman, tekanan, adalah uslub yang harus dihindarkan oleh orang tua dan para pendidik dalam proses pengajaran.

Siapa saja yang terlibat dalam proses pendidikan mesti memahami dua unsur; penguatan akidah dan uslub yang ahsan. Soal uslub, al-Qur’an memotivasi kaum mukminin agar taat pada hukum Allah dengan memberi pujian pada orang yang berbuat kebaikan. Dalam hal larangan, dalam beberapa ayat al-Qur’an menyebutkan dampak buruk perbuatan tersebut. Tatkala menyebutan keharaman khamr dan judi, Allah SWT. mencela perkara tersebut dan juga menyertakan dampak buruk yang bisa ditimbulkan khamr dan judi yakni permusuhan.

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (TQS. al-Maidah: 91)

Bandingkan dengan pendidikan hari ini yang berbasis sekulerisme, bahkan agama pelan-pelan dimusuhi dan disingkirkan, justru melahirkan banyak persoalan. Tawuran, pergaulan bebas, narkoba, dan lahir pula para pejabat dan pengusaha yang tidak amanah, praktekkan risywah dan bermental korup. Tidak sedikit dari mereka lulusan kampus-kampus terbaik di tanah air, namun mereka gagal sebagai manusia. Apakah ini yang dibanggakan dan diharapkan?
 
Para pembaca sekalian, pendidikan berbasis akidah Islam juga tidak akan melahirkan generasi yang phobia pada umat lain dan melahirkan permusuhan. Karena ajaran Islam bukanlah seperti tuduhan kaum liberal ataupun orientalis yang menurut khayalan mereka berisi kebencian, radikalisme, dan permusuhan pada umat lain. Justru tidak ada ajaran yang memberikan rasa hormat pada sesama manusia melainkan hanya Islam.

Bandingkan dengan sekulerisme dan demokrasi yang katanya berwajah humanis namun bengis. Bukankah Amerika Serikat dan sekutunya mengembargo Irak lalu menginvasinya, juga menyerang Afghanistan, dan menyebabkan kematian jutaan orang, dengan alasan menegakkan demokrasi di Irak dan Afghanistan?

Yakinlah dengan konsep pendidikan berbasis akidah, sebagaimana kita juga meyakini hanya Islam satu-satunya ajaran mulia dan memuliakan manusia. Dan anak-anak kita akan tumbuh sebagai generasi yang baik dan inovatif dengan landasan akidah Islam, bukan dengan sekulerisme-liberalisme.[]

Oleh: Ustaz Iwan Januar

Posting Komentar

0 Komentar