TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Jika Airnya Tak Berombak, Bukan Laut Namanya

Foto: Stoksnap/pixabay


Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS Al Mulk : 2)

Pagi ini saya membaca status FB dari Nina Marliana yang menuliskan kalimat singkat namun sarat dengan makna. Kalimat itu adalah : jika airnya tidak berombak, bukan laut namanya. Kalimat ini bisa ditimbang dalam memandang kehidupan manusia. Terkhusus bagi orang-orang beriman yang akan selalu mendapatkan ujian kehidupan, sebagai bagian dari kasih sayang Allah.Jika tidak ada ujian, bukan hidup namanya. 

Memang benar faktanya bahwa laut itu memiliki cirri khas adanya ombak yang bergulung-gulung. Ombak kadang kali bisa dijadikan sebagai tantangan bagi para peselancar. Ombak yang besar justru yang dicari oleh mentalitas peselancar. Namun bagi yang tak mampu berenang, lantar bermain-main di laut, bisa mati karena digulung ombak. Entah sudah berapa ribu korban tenggelam di laut, seperti di Pelabuhan Ratu atau pantai Parangtritis.

Menyambung kalimat Nina Marliana, ada juga pepatah yang mengatakan bahwa pelaut ulung tidak akan lahir dari laut yang tenang. Maknanya adalah bahwa ombak sesungguhnya bagian dari cara alam untuk melahirkan manusia-manusia pemberani. Begitulah berbagai persoalan hidup, sesungguhnya begitulah cara Allah mendidik hambaNya agar tumbuh kuat dan tangguh.

Bagi orang-orang beriman, ujian hidup atau ombak kehidupan adalah sebuah keniscayaan untuk menakar sejauh mana kebenaran iman yang dimilikinya. Itulah mengapa semakin tinggi iman seorang muslim, maka akan berbanding lurus dengan beratnya ujian yang disiapkan oleh Allah untuknya. Lihatlah para Nabi dan Rasul, adakah orang yang lebih berat ujiannya selain mereka.

Lihatlah ketika Nabi Ayyub mendapat ujian berat berupa penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun hingga ditinggalkan istri-istrinya. Lihatlah ujian yang dihadapi oleh Nabiyullah Ibrahim yang mesti menyembelih putra kesayangannya. Lihatlah ujian berat yang harus ditanggung Nabi Musa disaat dizolimi oleh pemimpin diktator kufur Fir’aun. Lihatlah ujian terberat yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW sejak kecil hingga perjalanan dakwahnya.

Namun lihatlah pula akhir yang indah bagi hamba-hambaNya yang bersabar. Fir’aun pada akhirnya ditelan ombak besar di hadapan Nabi Musa. Ibrahim pada akhirnya tidak jadi menyembelih Nabi Ismail, sebaliknya justru mendapatkan gantinya berupa domba dari surga. Nabi Ayyub pada akhirnya juga sembuh total dari seluruh penyakitnya dan kembali hidup normal dengan para istrinya. Akhir yang indah bagi para penyabar.

Mari kita renungkan bebeberapa ayat Al Qur’an yang membicarakan tentang ujian bagi orang-orang beriman : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi ?. Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS Al Ankabut : 2-3)

Jika Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya, maka Dia menyegerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan bagi hambaNya, maka Dia menahan hukuman kesalahannya sampai disempurnakannya pada hari kiamat (HR Imam Ahmad, At Tairmidzi, Hakim, Ath Thabrani dan Baihaqi)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS Al Baqarah : 214)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah : 155)

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS Ali Imran : 186)

Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu (QS Muhammad : 31).

Bahkan Allah menegaskan bahwa ujian bukan hanya berupa kesusahan sebagaimana dipahami oleh banyak orang, namun kesenangan juga merupakan ujian, mungkin malah bisa lebih berat. Sebab bisa jadi ada orang bersabar saat miskin, namun tidak kuat godaan saat mendapat kekayaan berlimpah. Sa’labah adalah contoh nyata bahwa kekayaan justru telah menggelincirkan dia, meski pernah hidup bersama Rasulullah.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan (QS Al Anbiyaa : 35).

Setidaknya ada lima himah besar dibalik setiap ujian yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman. Pertama, ujian hidup  akan meninggikan derajat dan  menghapus dosa. Selain akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan bersabar, cobaan hidup juga akan menghapus dosa-dosanya. Jika orang-orang kafir Quraisy tidak menyiksa keluarga Yasir ra apakah keluarga Yasir mendapat kehormatan dari Rasulullah,” Sabarlah keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kalian kelak adalah di syurga” (HR Al Hakim, Ahmad, At Tabrani dan Nu’aim)

Andai saja Bilal bin Rabah tidak disiksa oleh Umayyah bin Khalaf dan para algojonya, ia tidak akan meraih sebutan, Bilal tokoh kami” (HR al Bukhori). Andai Nabi Yusuf tidak bersikap sabar saat dirayu permaisuri Mesir dan di penjara, ia tidak akan mendapat gelar, “ Hai orang-orang yang jujur” (QS Yusuf : 46).  Jika Umar bin Khattab ra tidak bersikap sabar dalam menghadapi pahitnya kebenaran dan keadilan, maka ia tidak akan mendapat ungkapan, “ tangannya memukul bumi dengan tongkat”. Andai saja Umar bin Abdul “aziz tidak bersikap sabar saat atas pahitnya menegakkan kebenaran dan keadilan, ia tidak akan mendapat gelar Khalifah kelima. Andai saad bin muaz tidak sabar, tidak berkorban di jalan Allah, tidak syahid dalam perang khandak, maka ia tidak akan mendapat predikat, “ arasy ar rahman bergetar karena karena kematian saad bin muaz” (HR Bukhori, Muslim, Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad)  

Kedua, ujian sebagai penyaring mutu diri.  Untuk mendapatkan sebuah permata, seekor kerang harus mengerang menahan sakit. Untuk menjadikan sebuah pisau yang berkualitas, besi itu harus ditempa dalam bara api berkali-kali. Mereka yang sudah bekerja, juga perlu disaring dengan diberikan tugas-tugas sulit agar mudah  dilihat siapa yang capable dan siapa yang tidak layak. Hanya manusia-manusia pilihan saja yang dapat bertahan hingga garis finish.

Ketiga, ujian sebagai siklus kehidupan. Alam ini bergerak sesuai dengan sunatullah. Seluruh alam ini tunduk kepada aturan Allah. Bumi akan terus berputar pada garis edarnya. Daun dari tunas, tumbuh hijau sejuk dipandang hingga menguning dan kering akhirnya rontok ke bumi. Kesulitan merupakan siklus kehidupan yang pasti akan terjadi. Hanya giliran saja yang menanti. Kalau hari ini ada kesulitan berarti memang hari-hari yang lalu sudah kita lalui dengan kenikmatan. Jika hari ini ada air mata kesedihan, sesungguhnya Allah telah memberi senyum kebahagiaan hari-hari sebelumnya. Jika hari ini sakit, sungguh Allah telah memberi kita kesehatan yang lebih lama.  

Keempat, ujian sebagai tanda-tanda datangnya kemenangan. Hidup adalah berjuang. Berjuang dalam pengertian yang luas. Seorang suami harus berjuang menunaikan kewajibannya. Seorang pemimpin berjuang menjaga amanah dan menerapkan hukum Allah. Seorang istri berjuang mendidik anak dan menjaga harta suami, seorang guru berjuang membentuk kepribadian Islam murid-muridnya, seorang pengemban dakwah berjuang menyadarkan umat untuk menegakkan syariah.  Perjuangan membutuhkan pengorbanan. Tanpa pengorbanan tidak akan diraih kemenangan. Cobaan dan kesulitan akan banyak menyita waktu, tenaga, potensi dan biaya untuk menyelesaikannya. Ini adalah bagian dari pengorbanan.

Kelima, ujian hidup adalah harga surga. Surga itu mahal. Kata-kata itu diulang oleh Nabi hingga tiga kali, karena keindahan dan kenikmatannya belum pernah dirasakan dan terdetikpun di dalam hati. Namun surga hanya akan diberikan kepada hamba-hambaNya yang beriman, bertaqwa dan bersabar saat menghadapi ujian kehidupan. Dia tetap tegar berdiri di tengah ombak laut kehidupan yang menggulungnya.[]


Oleh : Ahmad Sastra
KotaHujan, 07/09/20 : 10.00 WIB

Posting Komentar

0 Komentar