TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Belanda Balas Susu Khilafah dengan Tuba



Atas bantuan Khilafah Utsmani, Belanda pun merdeka. Tapi susu yang diberikan kaum Muslimin dibalasnya dengan tuba. Belanda malah berkomplot dengan kerajaan-kerajaan Kristen Eropa lainnya untuk meruntuhkan Khilafah.


Karena kewalahan melawan serangan Kerajaan Katolik Spanyol, pada abad ke-15 Kerajaan Protestan Belanda pun secara aktif meminta dukungan negara adikuasa saat itu, Khilafah Utsmani. 

Pemimpin perlawanan Belanda, Raja William I ‘Oranye’ mencari sokongan dana dan persenjataan dari Khalifah, yang akhirnya dikabulkan. Khalifah mendukung perlawanan Belanda bukan hanya dengan dana, angkatan lautnya pun dikerahkan menyerang armada kapal perang Spanyol di Laut Mediterania untuk melepas tekanan Spanyol terhadap Belanda.

Setelah mencapai kemerdekaannya, Belanda diundang membuka kedutaannya di Istambul pada 1612. Cornelis Haga adalah duta besar Belanda pertama pada masa pemerintahan Khalifah Ahmed I (1603-1617). 

Karena kerja sama Khalifah dalam Perang Kemerdekaan Belanda, Belanda menjalin kerja sama perdagangan dengan umat Islam. Mereka membuka kantor konsuler di berbagai kota pelabuhan di kawasan Mediterania, termasuk membuka daerah komunitas Belanda di kota Smyrna (Izmir) dalam wilayah kekuasaan Khilafah Utsmani. 

Di daerah tersebut, warga Belanda diberi kebebasan beragama dan mendirikan gereja dan membangun pemakaman di samping juga rumah sakit, tempat pembuatan roti dan bahkan kedai bar. Duta besar Belanda untuk Indonesia (2005-2010) Nicolaos van Dam bahkan menulis buku tentang relasi Belanda dengan Khilafah Utsmani yang berjudul “Belanda dan Dunia Arab: Dari Abad Pertengahan menuju Abad ke 21.”

Salah satu konsekuensi dari hubungan dagang yang dilakukan melalui laut adalah terlibatnya banyak pelayar Belanda yang ikut mengabdi dalam Angkatan Laut Khilafah Islam. 

Contohnya adalah Jan Janszoon van Haarlem dan Ivan Dirkie de Veenboer, yang kemudian berganti nama sebagai Murat Reis dan Suleyman Reis setelah mereka memeluk Islam. Maka sejak abad 17 dan 18 sudah ada beberapa warga Belanda yang telah masuk Islam.

Bermula dari hubungan ini juga, banyak warga Belanda yang kemudian mempelajari Islam dan juga bahasa yang digunakan oleh umat Islam. Di tahun 1575, Universitas Leiden membuka Fakultas Bahasa Oriental (kawasan Asia Timur) untuk membekali warga Belanda dengan kemampuan bahasa seperti bahasa Arab, Turki dan Persia, serta pengetahuan tentang Islam. 

Bidang studi Oriental ini dimulai untuk mendukung hubungan perdagangan dengan umat Islam. Namun sejak turunnya pamor intelektual serta pengaruh Khilafah Islam terhadap dunia, studi tentang Islam dan bahasa umat Islam di Belanda mulai berpindah arah dan tujuan.


Dibalas dengan Tuba

Bukannya balas budi dengan membela Khilafah, air susu yang diberikan kaum Muslimin dibalasnya dengan tuba. Belanda malah berkomplot dengan kerajaan-kerajaan Kristen Eropa lainnya untuk meruntuhkan Khilafah. Mereka ‘memotong-motong kue’ khilafah untuk dimakan bersama. Belanda pun  mendapatkan jatah untuk ‘mencaplok kue’ berbagai kesultanan Islam di Nusantara (sekarang Indonesia).  

Ketika Belanda menjajah Indonesia, pengetahuan yang dimiliki Belanda tentang Islam dan bahasa para pemeluknya digunakan untuk mendukung upaya penundukan umat Islam dan penjarahan sumber daya alamnya. Hal ini sungguh menjadi ironi tersendiri dan kejahatan terburuk dalam sejarah peradaban.

Belanda memulai untuk belajar tentang Islam karena kaum Muslim telah membantu mereka ketika mereka tertindas Kerajaan Katolik Spanyol, menawarkan perdagangan, dan menerima mereka dengan persahabatan di wilayah kekuasaan mereka. 

Setelah terbebasnya Kota Leiden dari pendudukan Spanyol, suatu Universitas dibangun di atasnya sebagai monumen kemenangan dan di kampus inilah studi Bahasa Oriental berkembang pesat. 

Namun ketika Muslim mulai menurun pengaruhnya, pengetahuan yang dibina di kampus Universitas Leiden justru digunakan untuk menundukkan dan menjajah umat Muslim yang sama yang sebelumnya telah membantu Belanda, memberi perlakuan istimewa dalam perdagangan dan memperlakukannya dengan hormat.

Selama masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia, Universitas Leiden pun berkembang sebagai pusat studi tentang Islam yang difungsikan untuk menguasai penduduk Muslim Indonesia. 

Ilmu yang awalnya dikembangkan di Universitas Leiden sebagai ilmu pengetahuan yang bernilai positif (dengan tujuan membangun relasi yang baik dengan umat Islam) mulai bergeser menuju perkembangan ilmu yang bernilai negatif (dengan tujuan melanggengkan dominasi Belanda terhadap Muslim Indonesia). 

Lulusan Universitas Leiden pun adalah sarjana Barat yang mendalami Islam (yang juga dikenal sebagai Orientalis), yang juga menyimpan kesinisan terhadap Islam dan Muslim. Mereka ini terlibat dalam administrasi penjajahan Belanda di Indonesia. 

Salah satu di antaranya adalah Profesor Christiaan Snouck Hurgronje yang ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Indonesia pada abad ke 19 untuk menyamar sebagai ulama dengan nama Abdul  Ghaffar, sehingga mampu menyesatkan umat Muslim dengan menggunakan ilmu tentang Islam. 

Ia memberikan berbagai strategi kepada pemerintahan Belanda dalam upaya menundukkan umat Islam, contohnya, pemerintah selayaknya tidak mencampuri urusan ritual seperti shalat dan puasa. Akan tetapi, pemerintah harus tegas membasmi mereka yang mempraktekkan politik Islam.

Meskipun sejarah Belanda yang berhubungan dengan Muslim dan Islam telah berlangsung lama dan menghasilkan berbagai pengetahuan tentang Islam, warga Belanda biasa pada umumnya masih tidak banyak mengerti Islam secara benar. 

Pengetahuan tentang Islam yang berumur tidak kurang dari 300 tahun tidak mudah diakses oleh orang biasa dan hanya bisa dikuasai oleh kalangan elite saja di Universitas Leiden. Contohnya, perpustakaan Universitas Leiden menyimpan informasi khusus tentang Islam tapi tidak boleh dipelajari oleh orang biasa.

Maka maraknya opini anti Islam di Belanda dewasa ini terjadi karena kombinasi antara ketidaktahuan masyarakat Belanda tentang Islam dan mentalitas para akademisi yang tidak mempelajari Islam untuk mencari kebenaran atau untuk menumbuhkan hubungan yang baik dengan umat Islam.

Setelah menikmati masa keemasan saat berkuasanya pemerintahan Hindia Belanda, pamor Universitas Leiden sebagai pusat studi Islam sempat menurun.  

Namun akhir-akhir ini ketika umat Islam mulai terbangkitkan intelektualnya, mendekatkan diri mereka kembali ke Allah SWT dengan rajin beribadah dan melaksanakan sunnah Nabi Muhammad SAW, kalangan akademisi Orientalis Universitas Leiden kembali menemukan kesempatan untuk mengulang masa keemasan mereka. 

Para akademisi tersebut digunakan oleh elite pemerintahan Barat dan juga oleh mereka yang memiliki tendensi kepentingan kapitalistik untuk membendung laju kebangkitan Islam dan menggagalkan aspirasi penegakan kembali Khilafah dan implementasi sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Para orientalis ini menggunakan ilmunya tentang Islam untuk mengaburkan realita Islam yang sebenarnya. Mereka berharap mereka mampu menjauhkan Muslim dari Islam. 

Atau, setidaknya, Muslim terisolasi dari pemahaman Islam yang benar bahwa satu-satunya solusi terhadap semua permasalahan hidup adalah sistem yang diturunkan oleh Allah SWT. Mereka juga berharap agar kaum non Muslim juga menjadi takut dan khawatir terhadap Islam dan Muslim. 

Para orientalis dan kalangan elite Belanda telah berhasil menanamkan rasa takut terhadap Muslim dan Islam di dalam masyarakat non Muslim di negeri kincir angin itu. 

Ketakutan ini bahkan sudah mencapai ke tingkat kebencian hingga masyarakat tidak lagi segan untuk mendukung secara terbuka politisi yang mengampanyekan untuk mengambil hak-hak Muslim, menutup masjid, dan memaksa Muslim untuk mengikuti gaya hidup Barat dan menerima ide Barat sebagai ide baik, serta melarang keyakinan Muslim yang menaati Allah SWT dalam segala bidang kehidupan.

Walhasil, masyarakat Belanda dewasa ini memang memiliki sentimen anti Islam. Hal ini memang bisa dipahami karena kalangan yang berpengaruh dalam pembentukan opini publik memiliki agenda untuk menyebarluaskan sentimen anti Islam. Opini yang tersebar umum inilah yang diambil oleh mayoritas anggota masyarakat sebagai bagian dari opini mereka masing-masing.

Kendati demikian, usaha para orientalis dan para elite petingginya dalam menekan umat Islam di Belanda menemui banyak sekali kendala. Alhamdulillah, serangan anti Islam yang datang bertubi-tubi, yang menyerang Nabi Muhammad SAW khususnya, dan umat Islam umumnya, justru membuat umat Islam semakin dekat kepada agamanya. 

Dalam banyak peristiwa, Muslim di Belanda merapatkan barisannya ketika menghadapi celaan terhadap agamanya. Contohnya, sebagai tanggapan terhadap film _Fitna_ yang dibuat politisi Belanda Geert Wilder pada 2008, kaum muda Hizbut Tahrir menyeru umat Islam untuk mengumpulkan petisi yang mengecam pelecehan terhadap Islam. Dalam beberapa pekan saja, aktivis Hizbut Tahrir telah mengumpulkan 35.000 tanda tangan dari seluruh pelosok Belanda.

Sungguh luar biasa, karena jumlah tandatangan dalam petisi tersebut adalah jumlah terbesar dalam sejarah pengumpulan petisi di Belanda! Di mana-mana, aktivis Hizbut Tahrir disambut oleh umat Islam di berbagai masjid di Belanda yang menyatakan apresiasinya dan rasa terima kasih atas usaha yang mereka lakukan. 

Bahkan banyak di antara warga Muslim yang menawarkan para aktivis Hizbut Tahrir sejumlah dana yang besar untuk melakukan kegiatan protes, namun Alhamdulillah hal itu ditolak oleh para aktivis.[]


Penulis: Idries de Vries | Aktivis Islam asal Belanda
Penerjemah: Riza Aulia
Editor: Joko Prasetyo

Dimuat pada rubrik KISAH Tabloid Media Umat Edisi 210 (Pertengahan Desember 2017).

Posting Komentar

0 Komentar