TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

KERUNTUHAN PERADABAN KAPITALISME PASCA PANDEMI COVID-19: Sebuah Peluang Bangkitnya Kembali Peradaban Islam



Tragedi Covid-19 belum berakhir jua. Tak ada seorangpun yang mampu memastikan kapan usainya. Sementara dampak negatif yang telah ditimbulkan sungguh luar biasa. Pun luasan penyebarannya dalam skala global, terjadi di berbagai negara di belahan dunia. Per Jumat (8/5/2020), situs gisanddata.maps.arcgis.com mencatat total kasus Covid-19 terkonfirmasi di seluruh dunia ada 3.847.047 kasus dan ada 269.584 kasus kematian. 

Negara-negara kapitalis sang raksasa dunia pun “keok” di hadapan makhluk berpartikel renik berdiameter 50–200 nanometer ini. Kapitalis timur yaitu China yang awalnya begitu pongah dengan besarnya tentara, senjata, kemajuan ekonomi dan ketinggian teknologi, hari ini harus menyerah dengan adanya wabah. Mereka mengatakan “kami mengalami banyak sekali problem dalam menghadapi virus ini.” Kesombongan China –yang ekonominya berjaya, tumbuh rata-rata 9,4 persen sejak 1978- usai lockdown 76 hari saja, kini harus nyungsep di kisaran 4 persen. 

Sementara kapitalis barat yaitu Amerika Serikat (AS) juga kewalahan menghadapi pandemi Covid-19. AS menempati kasus Covid-19 peringkat pertama sedunia. Hingga Jumat (8/5/2020) tercatat ada 1.256.927 kasus dan angka kematian mencapai 75.670. Padahal AS memiliki fasilitas rumah sakit terbaik di dunia, berbagai teknologi maju dan riset kedokteran, serta anggaran kesehatan yang sangat besar yaitu 3,6 miliar U$D (17% pendapatan bersih AS dan setara lima kali lipat dana yang telah dianggarkan untuk angkatan militernya).

AS dengan kejumawaannya selama puluhan tahun, kini mengaku kalah dihadapan rival dagangnya, yaitu China. Sebagaimana berita yang dilansir dari viva.co.,  presiden Amerika Serikat, Donald Trump langsung menelepon presiden China, Xi Jinping. Dalam akun twitternya, Trump berharap agar kerjasama yang baik dengan China bisa terjalin dalam menangani penyebaran Covid-19 di negara adidaya. Permintaan tolong tersebut akan menjadi aib bagi super power di hadapan negara-negara koloninya.

Bagaimana dengan Indonesia, negeri kita tercinta? Dalam kisaran dua bulan, perJumat (8/5/2020), terjadi 13.112 kasus, 943 meninggal dan 2.494, sembuh. Penanganan yang dilakukan pun sebagaimana negara kapitalis lainnya. Terkesan lebih mementingkan aspek ekonomi dan investasi, dibandingkan penyelamatan jiwa dan kesehatan mental rakyat. Padahal sebelum pandemi Covid-19, kondisi Indonesia sudah memburuk. Hal ini ditandai dengan membesarnya utang serta naiknya harga barang dan biaya pelayanan publik. Juga problematika sosial lainnya.

Tanda-tanda keruntuhan kapitalisme global diperkuat oleh pernyataan Henry Kissinger: Virus Corona Akan Mengubah Tatanan Dunia Selamanya. Kantor berita Al-Jazeera (4/4/2020) mengutip pernyataan serigala politik Amerika dan mantan Menteri Luar Negeri, Henry Kissinger, dalam sebuah artikel di Wall Street Journal, bahwa pandemi Corona akan mengubah sistem global selamanya. Kissinger menjelaskan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh pandemi virus Corona mungkin bersifat sementara, tetapi kekacauan politik dan ekonomi yang disebabkannya dapat berlanjut selama beberapa generasi.

Lantas, dalam kondisi demikian, akankah pandemi Covid-19 memberi peluang terjadinya perubahan wajah peradaban? Mampukah peradaban Islam tampil menggantikan keruntuhan peradaban kapitalisme sekular? 


Kegagalan Peradaban Kapitalisme dan Potensi Bangkitnya Kembali Peradaban Islam Pasca Pandemi Covid-19
----------------------------------------

Secara realitas, akibat kegagalan menangani pandemi Covid-19, kini kapitalisme global tengah di ujung tanduk. Dalam artikelnya di Wall Street Journal yang dilansir Al-Jazeera (4/4/2020), Henry Kissinger sangat menyadari akan kesibukan Amerika dan negara-negara kapitalis lainnya menghadapi krisis pandemi Covid-19. Menurutnya, hal ini benar-benar telah menciptakan kasus baru di mana semua kebijakan penyelamatan ekonomi berakhir dengan yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. 

Sudah menjadi tabiat kapitalis. Bahwa ia akan disibukkan dalam mencari solusi akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh kapitalisme, sistem hidup pilihannya sendiri. Faktanya, sistem ini terbukti menyelesaikan masalah dengan menimbulkan atau menyisakan masalah bukan?

Sekalipun hari ini peradaban kapitalisme masih merasa mampu bertahan di tengah krisis, namun masyarakat pada umumnya pasti kian merasakan keanehan dan kezaliman yang dilakukan oleh penguasa mereka di seluruh dunia. Covid-19 telah membuka mata hati rakyat bahwa sistem kapitalisme telah gagal mengatasi wabah sejak pertama kali muncul. Tidak hanya memanfaatkan krisis dan kebutuhan rakyat demi kepentingan kelompok elite global saja, kapitalisme pun “sukses” membawa manusia pada krisis kepercayaan.

Di AS contohnya. Ketidakpercayaan publik diakibatkan kebohongan yang sering dipertontonkan penguasa, ditambah kegagalan mengelola krisis Covid-19. Bagaimana tidak, jika produsen utama dan kapitalis medis nomor satu dunia ini tak mampu menjawab keluhan banyak gubernur Amerika akan kekurangan ventilator, masker, dan peralatan medis lain yang diperlukan di negara-negara bagian untuk merawat korban Covid-19? Tersebab meski anggaran kesehatan besar tapi lebih dari 53 persennya dibelanjakan pada perusahaan asuransi. Juga untuk pasar modal dan kepemilikan hak cipta produksi obat. 

Semua itu jelas mengecewakan rakyat. Pembayar pajak dengan nominal yang amat tinggi, yang mengongkosi kesehatan dengan kantongnya sendiri melalui mekanisme batil asuransi. Demikianlah tabiat kapitalisme. Sistem yang hanya memikirkan penimbunan dolar tanpa pernah tulus memberikan kesejahteraan rakyat secara cuma-cuma. 

Berharap ketulusan pemimpin di era kapitalistik bagai pungguk merindu sang bulan. Jika hal ini terus terjadi maka kepercayaan rakyat terhadap penguasa kapitalis dan sistem kapitalisme akan kian turun. Selanjutnya berpengaruh pada tingkat kepatuhan rakyat terhadap keduanya. Bahkan rakyat akan menghendaki terjadinya perubahan sistem hidup. 

Kini, tantangan historis yang dihadapi para pemimpin dunia adalah mengelola krisis dan membangun masa depan pada saat yang bersamaan. Jika negara-negara kapitalis gagal dalam tantangan ini, berarti keruntuhan kapitalisme global kian menjadi keniscayaan. 

Di sisi lain, kabar di atas tentu memberikan “angin surga” bagi kaum muslimin akan tegaknya kembali peradaban Islam yang telah terkubur sejak keruntuhan khilafah islamiyah pada tahun 1924. Pandemi Covid-19 in syaa Allah merupakan kesempatan/peluang yang diberikan oleh Allah Swt untuk mengubah tatanan peradaban kapitalisme nan jahiliyah menjadi tatanan peradaban ilahiyah. 

Perubahan adalah keniscayaan. Apalagi jika Allah Swt telah menghendakinya. Sejarah telah mengajari kita bagaimana Allah Swt telah mempergilirkan kepemimpinan sebuah peradaban atas dunia. Bicara kemungkinan, perubahan tatanan dunia baru pasca pandemi Covid-19 akan mungkin terjadi. 

Hal ini diperkuat oleh pendapat Ibnu Khaldun dalam kitab Mukaddimah tentang lima sebab runtuhnya sebuah peradaban, yaitu: 

1. Ketika terjadi ketidakadilan (kesenjangan antara kaya dan miskin). 

2. Merajalelanya penindasan kelompok kuat terhadap kelompok lemah (negara kuat menindas negara lemah dan negara lemah harus mengikutinya). 

3. Runtuhnya moralitas pemimpin negara (korupsi, pidana, dll). 
 
4. Adanya pemimpin tertutup yang tidak mau dikritik, dan yang mengkritik akan dihukum.  

5. Terjadinya bencana besar (peperangan). Meski tak berwujud peperangan fisik, perlawanan terhadap Covid -19 bisa terkategori ini. 

Kelima sebab di atas sudah terjadi di dunia saat ini. Apalagi jika dikaitkan dengan laporan National Intelligence Council’s (NIC) pada Desember 20014 lalu yang berjudul “Mapping the Global Future.” Dalam laporan ini, diprediksi empat skenario dunia tahun 2020: 

1. Davod World. Digambarkan bahwa Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia.

2. Pax Americana. Dunia masih dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Pax Americana-nya. 

3. A New Chaliphate. Berdirinya kembali khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat.

4. Cycle of Fear (Munculnya lingkaran ketakutan).

Salah satu skenario yang cukup kontroversial adalah kemunculan kembali khilafah Islam. Skenario seperti ini sangat jarang diungkap dalam berbagai analisis dunia internasional. Bahkan banyak kaum muslim sendiri mengatakan berdirinya khilafah Islam adalah utopis dan mustahil. Namun hari ini dunia sudah berbeda. Pandemi Covid-19 telah mengguncang tatanan dunia. Apakah prediksi NIC ini kian dekat menjadi kenyataan? 

Menjadi tugas umat Islam untuk tidak hanya menanti apa yang akan terjadi. Teruslah melanjutkan perjuangan agar khilafah islamiyah sebagai representasi peradaban Islam bisa tegak tak lama lagi. Peluang akibat pandemi ini mesti diikuti dengan menakar kembali potensi umat yang telah dimiliki sebagai modal berjuang. 

Jika kita telisik, pada dasarnya umat Islam memiliki potensi luar biasa, sebagaimana yang diungkap oleh Ustaz Abu Abdullah dalam buku “Emerging World Order The Islamic Khilafah State.” Potensi kekuatan dunia Islam antara lain: 

1. Kekuatan penduduk dan demografi. Populasi umat Islam di dunia mencapai sekitar 1,6 miliar atau 24 persen dari total penduduk dunia. 

2. Kekuatan militer. Militer berada di seluruh negeri kaum muslimin. 

3. Kekuatan ekonomi dan industri. Dunia Islam memiliki cadangan energi dunia (minyak bumi), misalnya di negara-negara Teluk. Bahkan menjadi sumber energi terbesar dunia.

4. Kekuatan posisi geostrategis. Dunia Islam memiliki lokasi geografis yang paling memungkinkan untuk membangun dan memelihara aliansi strategis kekuatan maritim dan sekaligus kontinental. Ini sama saja dengan menguasai pintu-pintu dunia.

5. Kekuatan ideologi. Terletak pada kekuatan iman dan ajaran Islam yang solutif. Inilah kunci perubahan khususnya bekal mentalitas umat agar berani, penuh kekuatan dan berkapasitas sebagai agen perubah. 

Secara historis, peradaban Islam telah terbukti berjaya menguasai dunia selama kisaran 13 abad. Sejak berdirinya daulah islamiyah yang pertama di Madinah hingga Khilafah Utsmaniyah yang diruntuhkan oleh makar Mustafa Kemal Attaturk pada 1924 di Turki. Hal ini menjadi pengalaman politik umat Islam dalam rentang waktu panjang telah memimpin peradaban dunia.

Dan jangan dilupakan. Secara imani, kaum muslimin meyakini bahwa hadirnya kembali khilafah islamiyah merupakan janji Allah Swt. dan bisyarah Rasulullah Saw. Allah Swt. berfirman: 

 “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”(QS. An-Nur: 55)

Mudah-mudahan potensi umat Islam yang luar biasa ini khususnya di masa pandemi Covid-19 terus diasah dan dioptimalkan demi menyongsong tegaknya kembali tatanan peradaban Islam.


Faktor Penghambat Terwujudnya Tatanan Peradaban Islam Pasca Pandemi Covid-19
----------------------------------------

Selain memiliki peluang dan potensi kekuatan, umat Islam mesti memetakan sejumlah hambatan, baik yang berasal dari internal maupun eksternal. Agar dengan potensi yang dimiliki sanggup meniadakan berbagai hambatan tersebut. Hambatan yang hingga hari ini masih melingkupi kehidupan umat ialah:

1. Kelemahan internal umat Islam.

a. Akibat masuknya paham nasionalisme sebagai salah satu strategi peruntuh daulah khilafah, hingga kini kaum muslimin hidup terpecah-belah di lebih 50 negara.

b. Jauh dari bahasa ibu yaitu bahasa Arab. Jauhnya umat dari bahasa Arab menyebabkan langkanya proses ijtihad sebagai pemecah problematika kontemporer. Pun umat kesulitan dalam mempelajari Islam dari literatur klasik.

c. Kelemahan fikrah (pemikiran). Upaya perubahan kian berat dilakukan jika sedikit kelompok yang bekerja di bidang ini. Padahal umat mengalami kemunduran pemikiran yang parah. Akibatnya, secara intelektual mudah terserang peracunan Barat (westoxciation). Kelemahan fikrah juga memunculkan arah perubahan yang berbeda, sehingga ada tiga kelompok: pro status quo (jumud), reformasi sekular dan reformasi menuju tatanan islami.

d. Kelemahan thariqoh (metode). Ada begitu banyak individu dan kelompok yang menginginkan kehidupan islami, tapi tidak tahu bagaimana metode yang sesuai Islam. Sehingga  tidak tergambar bagaimanan proses perubahan harusnya berlangsung. Maka sering kita dengar komentar cita-cita tegaknya khilafah sebagai utopis, tidak mungkin, terlalu sulit, dst.

e. Pemimpin muslim yang ternodai pemikiran di luar Islam. Menjadi tabiat umat mengikuti pemimpinnya atau orang yang ditokohkan. Upaya perubahan kian sulit dilakukan bila pemimpin muslim justru menjadi penentang yang paling keras terhadap upaya tegaknya sistem Islam. Sementara di saat yang sama justru mengagungkan ide yang tidak islami. 

f. Belum memiliki media massa yang berkekuatan imbang dengan media lawan. Di tengah arus ghazwul fikri, media merupakan senjata ampuh untuk mengarahkan peluru berupa ide/pemikiran ke lawan. Ataupun sebagai sarana pembentukan opini publik yang berpihak pada kepentingan pemilik media atau yang berkaitan. Meski upaya telah dilakukan dengan memanfaatkan era teknologi media sosial, akan tetapi belum semua media islami bersifat kredibel. 

g. Masih cenderung berpecah-belah. Akibat kelemahan pemikiran, juga menyebabkan umat Islam mudah berpecah-belah. Bahkan seringkali hanya perkara cabang, misal dalam masalah fiqih. Yang idealnya tak perlu diributkan atau diperuncing perbedaannya.

h. Di masa pandemi ini, carut-marutnya pengelolaan krisis akibat Covid-19 juga akan menghambat pergerakan  perjuangan umat. 

2. Tantangan yang berasal dari eksternal.

Tantangan utama yang dihadapi ialah dominasi sistem sekularisme beserta sistem turunannya yaitu demokrasi di bidang pemerintahan, kapitalisme di bidang ekonomi dan liberalisme di bidang sosial budaya. Juga pemikiran lainnya yang lahir dari rahim sekularisme.  Adapun rinciannya sebagai berikut: 

a. Penerapan sistem politik, ekonomi dan perundang-undangan Barat di dunia Islam.
Hampir seluruh dunia Islam, sistem pemerintahannya berdiri atas dasar demokrasi.  Berjargon kedaulatan rakyat, rakyat (manusia) yang berwenang membuat hukum. Hakikatnya, pemikiran ini berkehendak menjauhkan umat Islam dari keterikatan pada hukum Allah. Agar diterima kaum muslimin, Barat membuat kamuflase bahwa demokrasi seolah hanyalah sarana memilih pemimpin. Andai umat Islam mengetahui hakikat demokrasi, maka tak akan mau untuk menerima dan meyakininya sebagai sistem politik terbaik.

b. Pengaruh pemikiran Barat terhadap politik dunia Islam. Keberadaan pemikiran/ide seperti nasionalisme telah mengkotak-kotakkan umat Islam ke dalam sekat-sekat negara. Hal ini menjadi penghalang persatuan dan kesatuan umat di seluruh dunia. 

c. Adanya kurikulum pendidikan warisan penjajah. Kurikulum pendidikan yang diajarkan di sekolah umum berdasar sekularisme. Agama “disingkirkan” dari pembelajaran materi umum. Pendidikan agama diberikan porsi waktu yang minimalis. 

d. Berbagai pemikiran destruktif menyerbu dunia Islam. Di tengah kedangkalan berpikir kaum muslimin, masuklah berbagai pemikiran Barat yang merusak seperti: hak asasi manusia, feminisme, hedonisme, dst. 

e. Upaya membelokkan persepsi kaum muslimin kepada kehidupan selain Islam. Saat ini terjadi kesenjangan antara kaum muslimin dengan sistem pemerintahan Islam (khilafah). Akibat dari upaya pendistorsian khilafah sebagai sesuatu yang buruk, kelam, bahkan jahat.
 
f. Serangan pemikiran berupa stigmatisasi/labelling dan upaya pecah-belah kaum muslimin. RAND Corporation, sebuah lembaga think tank Amerika Serikat telah merilis rekomendasi dalam rangka menghadang kebangkitan Islam dengan cara mengkotak-kotakkan umat Islam menjadi empat golongan: Islam radikal, Islam tradisionalis, Islam moderat dan Islam liberal. Berikut strategi untuk memanfaatkan atau membenturkan di antara mereka. 
 
Demikian berbagai hambatan yang menghadang di jalan perjuangan yang harus dihilangkan jika umat Islam menghendaki tegaknya peradaban baru pasca pandemi Covid-19 berakhir.


Agenda Besar Umat Islam dalam Mewujudkan Wajah Peradaban Islam Pasca Pandemi Covid-19
----------------------------------------

Saat dunia mulai lumpuh, pertanda babak baru sedang berada di hadapan. Sikap dan keputusan yang diambil umat Islam di saat kritis seperti ini akan sangat menentukan masa depan. Ada dua agenda besar umat Islam pasca pandemi Covid-19 berakhir, baik bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.

1. Agenda jangka pendek. 

Pasca pandemi berakhir, umat Islam melakukan recovery (pemulihan kembali) terhadap:

a. Kesehatan fisik. Selama pandemi, berupaya untuk tidak terkena virus Covid-19. Mengikuti teladan Rasulullah Saw. dalam menghadapi wabah, misalnya tidak keluar atau masuk ke daerah wabah. Dan ikhtiar lainnya seperti tetap di rumah, asupan bergizi, istirahat cukup, dst.

b. Kesehatan mental spiritual. Agar terhindar dari gangguan mental, mukmin harus memahami bahwa pandemi Covid-19 adalah musibah, bagian dari qodlo Allah. Sehingga kita menyikapinya dengan ridlo, ikhlas dan sabar. In syaa Allah kesabaran akan berbuah: sholawat dari Allah, rahmat dan petunjuk.

c. Kesehatan ekonomi. Untuk meringankan beban ekonomi saudaranya, bersikaplah ta’awun. Misalnya dengan membuat jaring pengaman sosial dan bentuk bantuan lainnya.

d. Kesehatan pemikiran dan ideologi. Dalam kondisi pandemi ini, seharusnya kian menguatkan akidah dan pemikiran seorang muslim. 

Jika sejak berada dalam masa pandemi Covid-19 umat mampu menjaga berbagai jenis kesehatan di atas, maka recovery akan berlangsung lebih cepat dan umat siap “bertarung" menuju agenda kedua yaitu menyongsong perubahan besar.

2. Agenda jangka panjang. 

Umat Islam mampu menyongsong perubahan besar jika terkonsolidasi. Konsolidasi umat menjadi keharusan. Peran parpol dakwah bersama dengan semua komponen umat yakni ulama, motivator, da’i, dst menjadi semakin vital. Ada dua jenis konsolidasi: 

a. Konsolidasi politik. 

Politik adalah kunci. Karena inti perubahan peradaban adalah perubahan politik. Naik turunnya peradaban ditentukan oleh perubahan politik. Namun kita masih memiliki masalah besar karena umat Islam berada di lebih dari 50 negara di bawah penguasa zalim dan antek kaum kuffar.

b. Konsolidasi kesadaran dan pemahaman.

Ini menjadi awal dari konsolidasi politik dan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan konsolidasi politik. Konsolidasi ini hendaknya berjalan konsisten demi mengembalikan umat pada pemahaman islam. Dalam buku Khilafah Rasyidah yang Telah Dijanjikan dan Tantangan-tantangannya karya dr. Hamdan Fahmi mengenai strategi mobilisasi secara pemikiran dan maknawi, menurut beliau, ini adalah strategi internal yang pertama dan paling penting. 

Yang dimaksudkan mobilisasi adalah menaikkan peringkat umat secara pemikiran dan kejiwaan dengan Islam, akidah dan hukum-hukumnya, ke peringkat menjadi kuat untuk bersikap tegar menghadapi bencana dan tantangan, berani terjun mengarungi bahaya tanpa takut kematian, sanggup menahan lapar dan berpanas-panasan tanpa menoleh kepada kenikmatan hidup di dunia, bahkan tetap fokus memperhatikan keridhaan Tuhannya, bersabar dan terus berharap di depan semua hambatan tersebut. 

Dan untuk melakukan perubahan besar menuju tata dunia baru dibutuhkan kesadaran terhadap realitas kerusakan yang akan diubah dan fakta baru untuk menggantikan fakta yang rusak tersebut. Sebagaimana pendapat Syekh Ahmad ‘Athiyat dalam bukunya Jalan Baru Islam (at Thariq). 

Menurut beliau, ada dua syarat perubahan yaitu kesadaran mengenai fakta kehidupan rusak yang melingkupi kehidupan umat (sistem kapitalisme sekulerisme) dan kesadaran tentang fakta alternatif pengganti fakta rusak tersebut, yakni syariah kaffah dan khilafah.
  
Jika kesadaran terhadap fakta rusak sudah dimiliki oleh umat Islam melalui proses berfikir mendalam, sekaligus kesadaran terhadap fakta baru yang akan menjadi penggantinya, maka selanjutnya yang dibutuhkan adalah pemahaman tentang metode yang akan ditempuh dalam mewujudkan perubahan menuju fakta baru tersebut. 

Metode tersebut tak lain ialah metode perjuangan Rasulullah Saw. yang menempuh tiga tahapan: pembinaan, berinteraksi dengan masyarakat dan penerimaan kekuasaan. Serta memahami karakter perjuangan beliau yaitu fikriyah (jalan pemikiran), laa madiyah (tanpa kekerasan) dan siyasiyah (politis).  

Demikianlah agenda besar umat Islam bersama langkah-langkah yang mesti dijalankan secara bersama dan konsisten demi menyongsong kehadiran tata dunia baru yaitu tatanan peradaban Islam yang mewujud dalam khilafah islamiyah ‘ala minhajin nubuwah.[]


Oleh: Puspita Satyawati
Dosol UNIOL 4.0 DIPONOROGO

PUSTAKA
Qisthi Yetty Handayani, Menuju Perubahan Tata Dunia Baru Pasca Covid-19, suaramubalighah.com

Pratma Julia Sunjandari, Situasi Sulit Dunia Hadapi Pandemi, muslimahnews.com, 13 April 2020

Analisis NIC 2020 dan Potensi Kebangkitan Islam, Institut Muslimah Negarawan, Youtube

Mempersiapkan Peradaban Baru Pasca Pandemi Covid-19, Dakwah Jateng, Youtube

Posting Komentar

0 Komentar