Direktur ILKI: Rezim Modi di India Mengidap Islamofobia!


TintaSiyasi.com -- Direktur Institut Literasi Khilafah dan Indonesia (ILKI), Septian AW mengatakan bahwa rezim Modi India menghapus kurikulum jejak politik Islam dari sejarah India sebab mengidap Islamofobia. 

"Bahwa penghapusan kurikulum jejak politik Islam dari sejarah India oleh sebab rezim Modi mengidap Islamofobia," ucapnya dalam program Kabar Petang : Kurikulum jejak politik Islam dilenyapkan rezim Modi?, pada kanal YouTube Khilafah News, Senin (17/4/2023). 

Septian katakan bahwa pemerintah dan politisi nasionalis India menarasikan penghapusan jejak kurikulum politik Islam karena ingin prestasi India hanya dilihat dari budaya Hindu daripada sejarah Islamnya. 

"Narasi ini akhirnya mempengaruhi kontribusi dan mengabaikan pengaruh dari kelompok lain termasuk kaum Muslim dan tentunya sejarah kebesaran penguasa Mughal," ujarnya. 

Lebih lanjut dia katakan, penghapusan kurikulum jejak politik Islam di India berdampak pada pemahaman siswa dalam kerangka budaya termasuk kontribusi penguasa Muslim di India. "Akibatnya muncul generasi-generasi di India nantinya yang tidak memahami Islam dan umat Islam," imbuhnya. 

Kebijakan Kontroversi

Septian katakan, sebelum menjadi Presiden, Modi pernah menjadi Perdana Menteri pada 2014 dengan kebijakan yang penuh dengan kontroversi yaitu merubah UU Kuan Kewarganegaraan atau amandemen UU 2019. 

"Memberikan kewarganeraan negara pengungsi tetangga India yang non Muslim seperti Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan, sedangkan umat Muslim mendapatkan diskriminasi," ungkapnya. 

Septian katakan, itu bukan yang pertama kali presiden Modi mengeluarkan kebijakan yang konservatif dan diskriminatif kepada umat Islam. 

"Beberapa adalah Menghapus otonomi khusus wilayah Jamiy dan Kashmir (wilayah yang mayoritas Muslim) serta memperketat masjid dan madrasah yang dianggap radikal oleh pemerintahan atau rezim India," tuturnya. 

Kekuasaan Islam

Septian mengatakan dalam konteks sejarah atau historis, kekuasaan Islam pernah menjadikan India menjadi negara yang besar. "Selama beberapa abad yang lalu, India pernah dipimpin oleh penguasa Muslim seperti kesultanan Mughal, Kashajari, Brahmani dan lain sebagainya," ungkapnya. 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa penguasa Muslim mampu memimpin India yang heterogen penduduknya dan membawa mereka menuju puncak kejayaan dan menjadikan masyarakatnya  menjadi negara adidaya atau masyarakat besar. 

"Mengapa bisa terjadi? Karena mereka dipimpin oleh penguasa-penguasa Muslim yang cakap dari berbagai dinasti Islam. Maka dari itu, kalau India ingin mengkaitkan kebesaran masa lalunya, kebesaran Islam lah sebenarnya yang besar," bebernya. 

Dia menceritakan dulu abad ke enam belas sampai tujuh belas, India diperintah oleh Kaisar Akbar yang bijaksana, toleran dan mampu membangun kekuasaan Islamnya hingga luasnya mencapai seluruh India. 

"Catatan sejarah mengatakan bahwa kejayaan Kaisar Akbar ini mampu membangun dan memajukan India dari kebudayaan hingga segi ekonomi," pungkasnya. [] Ma'arif Apriadi

Posting Komentar

0 Komentar