Toleransi dalam Islam Luar Biasa dan Jelas Batasannya

TintaSiyasi.com -- Analis Tabayyun Center, dr. Muhammad Ali Syafi'udin menyatakan toleransi dalam Islam luar biasa dan jelas batasan-batasannya. "Di dalam Islam toleransinya luar biasa dan jelas batasan-batasannya," ujarnya dalam Kabar Petang: Jokowi Hadiri Ibadah Natal di Gereja, Bagaimana Menurut Ulama? di Youtube Khilafah News, Senin (26 Desember 2022).

Kiai Ali mempertegas kembali betapa telah jelas batasan toleransi di dalam Islam sebagaimana surah Al-Kafirun. "Sebenarnya dahulu dalam pandangan Islam sendiri, batas-batasnya itu semua sudah jelas. Jadi, kita sesuai dengan surah Al-Kafirun, membiarkan mereka menyembah apa pun dalam agama mereka, tidak menganggu, tidak menghina, silakan mereka menjalankan itu. Ini cukup fair sebab toleransi bukan harus bergabung bersama dengan cara melakukan ibadah mereka, ini adalah suatu kekeliruan," tandasnya.

Kemudian Kiai Ali memaparkan cara Islam bertoleransi. "Sebenarnya cukup singkat dalam surah Al-Kafirun sudah jelas, lakum dinukum waliyadin artinya biarkan mereka dengan ibadahnya, kita tidak boleh menghina, mencela dan itu sudah cukup. kalau sudah seperti ini, ketika didalam Islam mereka (kaum Nasrani) akan dibiarkan melaksanakan ibadahnya, maka umat Islam itu bisa rukun," jelasnya.

Kiai Ali juga menyinggung batasan toleransi dalam Islam yang ketika itu dijalankan terbukti mereka bisa hidup rukun. "Sebenarnya cukup singkat dalam surah Al-Kafirun sudah jelas, lakum dinukum waliyadin artinya biarkan mereka dengan ibadahnya, kita tidak boleh menghina, mencela dan itu sudah cukup," cetusnya. Sebagai bukti ia menyebut, dahulu di Eropa selama tujuh abad bisa rukun antara Islam, Nasrani dan Yahudi. Begitulah luar biasanya Islam. Bahkan diakui sejarawan Barat Amerika.

Bukti Keberhasilan Khilafah

Ini membuktikan bahwa sistem yang bisa menjaga kerukunan adalah Sistem Islam (Khilafah), karena Islam itu menjamin agama umatnya, jiwanya, hartanya, keturunannya, kehormatan, keamanan negara. "Ini adalah sesuatu yang pasti akan terjadi ketika Islam diterapkan," tegasnya

Menurutnya, masyarakat Islam semenjak dahulu sudah jelas akan batasan dalam bertoleransi. "Berkenaan dengan ini sebenarnya sudah disampaikan ulama terdahulu, bahkan Umar bin Khatab sewaktu menjadi Khalifah, beliau menyampaikan jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka dan janganlah kalian masuk ke Gereja mereka saat mereka merayakan hari raya karena saat itu sedang turun murka Allah," paparnya.

Kiai Ali melanjutkan ceritanya ketika Sistem Islam masih berdiri di daratan Eropa. "Dahulu di Eropa selama tujuh abad bisa rukun antara Islam, Nasrani dan Yahudi. Begitulah luar biasanya Islam. Hal itu pun diakui sejarawan barat Amerika. Ini membuktikan bahwa sistem yang bisa menjaga kerukunan adalah sistem Islam, karena Islam itu menjamin ketika itu diterapkan ada jaminan agama, jiwa, harta, keturunan, kehormatan, keamanan negara, sampai ada delapan yang disebutkan. Ini adalah sesuatu yang pasti akan terjadi ketika Islam diterapkan," ungkapnya.

Oleh sebab itu, Kiai Ali menekankan soal keharaman mengucapkan selamat pada perayaan umat Nasrani. "Terkait dengan mengucapkan selamat hari natal, para ulama terdahulu  semua telah sepakat sebagaimana yang disampaikan Imam Ibnu Qoyyim di dalam kitabnya, adapun mengucapkan selamat kepada syiar-syiar kekufuran yang dikhususkan oleh mereka maka hukumnya itu haram secara ijmak," bebernya.

Kiai Ali kemudian membandingkan sikap toleransi ala kapitalis hari ini. "Sistem sekarang melakukan itu (mengucapkan selamat, pujian dan ikut merayakan hari raya Nasrani) dalam rangka untuk menjaga kerukunan hingga semua agama dianggap sama. Hal demikian terjadi karena adanya peradaban kapitalisme yakni peradaban yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga terjadi seperti itu," tandasnya.[] Tenira

Posting Komentar

0 Komentar