Ketua LBH Pelita Umat: Nasdem Terlalu Sibuk Membela Diri

TintaSiyasi.com -- Merespons gaduhnya isu politik identitas menjelang pemilu 2024, Ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan S.H., M.H. mengatakan bahwa Nasdem terlalu sibuk membela diri. "Partai Nasional Demokrat (Nasdem) terlalu sibuk membela diri atas framing politik identitas," lugasnya kepada TintaSiyasi.com, Rabu (18/1/2023).

Menurutnya, Anies Baswedan berpotensi terkena upaya pembingkaian (framing) politik identitas, radikal radikul . Pola-pola stigmatisasi, hingga mobilisasi politik framing.

"Stigmatisasi biasanya menjadi modus dalam komodifikasi (perubahan fungsi) dengan target untuk mendistorsi opini publik dan memberikan label negatif pada figur yang disasar. Aksi politik tersebut, digelar secara terpola, sistematis, dan sulit dimungkiri adanya rancangan politik tertentu di balik itu," terangnya.

Chandra mengungkapkan, Partai Nasdem yang mengusung Anies Baswedan tak luput dari framing politik identitas. Sehingga, Nasdem tampak kewalahan menghadapi framing politik tersebut hingga akhirnya menyibukkan partai untuk melakukan pembelaan diri.

"Misalnya, sibuk membela diri atas framing politik identitas, padahal "Tidak ada yang salah dengan politik identitas selama disampaikan secara damai, intelektual, adu gagasan, dialektika, tanpa kekerasan, dan tanpa pemaksaan," jelasnya.

Oleh karena itu, katanya, jika politik identitas dilarang, maka ini akan menjadi paradoks atau pertentangan dengan konstitusi dan peraturan perundang-undangan. 

"Misalkan, dalam konteks agama Islam, Islam memiliki ajaran konsep tentang kepemimpinan, pemimpin atau penguasa, dan menjalankan pemerintahan," ujarnya.

Sebab menurutnya, berdasarkan prinsip non-derogability yaitu negara tidak boleh mengurangi kebebasan beragama atau berkeyakinan dalam keadaan apapun. 

"Dikarenakan Nasdem sibuk membela diri atas framing Anies Baswedan mendukung khilafah, maka akhirnya partai sibuk membela diri atas framing tersebut. Padahal, khilafah adalah bagian dari ajaran Islam yang siapa pun tidak boleh melakukan stigmatisasi dan monsterisasi," tegasnya.

Ia menambahkan, terkait framing Anies Baswedan didukung oleh FPI Dan HTI, akhirnya Nasdem sibuk membela diri bahwa jika Anies Baswedan sebagai Presiden FPI dan HTI tetap dilarang. 

"Padahal, FPI dan HTI adalah organisasi dakwah Islam yang damai dan memiliki basis massa besar," katanya.

Ia mempertanyakan, lantas bagaimana cara Nasdem ingin memenangkan pemilu jika sibuk membela diri dan memukul pihak-pihak organisasi dan tokoh tertentu?

"Sayangnya pembelaan diri tersebut kemudian memukul pihak-pihak yang bahkan dapat menjadi basis dukungan massa atau masyarakat dalam kontestasi politik, dan ini disebut dengan apologetic defensive," ungkapnya.

Ia menyarankan, sebaiknya Nasdem melawan framing dan stigmatisasi politik tersebut dilawan dengan cerdas dan merangkul semua pihak. "Bukan sebaliknya, malah memukul," tuntasnya. [] Nurmilati

Posting Komentar

0 Komentar