Umar Syarifudin: Kapitalisme Barat dan Timur Sama-Sama Penghisap Sumber Daya Indonesia


TintaSiyasi.com -- Pengamat Politik Internasional Umar Syarifudin mengatakan bahwa hakikatnya kapitalisme Barat dan Timur sama, tujuannya sama-sama ingin menghisap sumber daya yang ada di Indonesia, bahkan lebih. 

“Kapitalisme Timur itu sama dengan kapitalisme Barat. Caranya sama, dengan utang. Tujuannya juga sama, untuk menghisap sumberdaya negeri ini, bahkan lebih. Jika kapitalisme Barat biasanya hanya memberikan utang dan mensyaratkan tenaga ahli ikut di dalamnya, kapitalisme Timur (China) lebih dari itu. China mensyaratkan bahan, teknologi dan segalanya dari China, termasuk tenaga kerjanya. Itu masih ditambah lagi dengan bunga utang,” bebernya kepada TintaSiyasi.com, Ahad (19/11/2022).

Ia menyatakan bahwa salah satu kesamaan keduanya adalah utang. Dan utang tersebut tidak akan bisa berjalan kecuali dengan adanya penguasa yang sangat pro dengan investasi China. Utang itu untuk pembangunan infrastruktur nasional seperti pembangkit listrik, bandara, pelabuhan, kereta cepat dan kereta api ringan (LRT-Light Rail Transit).

Campur tangan ekonomi China ini merupakan bagian dari kerjasama Indonesia-China yang ditandatangani tahun lalu. Contohnya melalui China Development Bank (CDB), dan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC). Pemerintah China berkomitmen memberikan utang cukup besar. 

Investasi China di negeri ini kata Umar tidak lepas dari strategi global China, yakni Silk Road Economic Belt (SERB) in Asia (Sabuk Ekonomi Jalur Sutra di Asia), dan Maritime Silk Road Point (MSRP) atau Titik Jalur Sutra Maritim. MSRP ditujukan untuk menguasai jalur perdagangan laut, yang salah satunya melalui Selat Malaka. Untuk itu China berusaha menguasai pendanaan pembangunan infrastruktur. 

Oleh karena itu, menurutnya, merupakan suatu kejanggalan jika menganggap China sahabat Indonesia. Ia menjelaskan salah satu contoh, jika seandainya PT KCIC gagal membayar utang, maka BUMN Indonesia berpotensi yang menjadi jaminan utang itu bisa diambil-alih oleh CDB. Jika itu terjadi, aset milik rakyat akan dikuasai China.

“Merupakan kejanggalan jika menganggap China sahabat Indonesia. Contoh, seandainya PT KCIC gagal membayar utang, maka BUMN Indonesia berpotensi yang menjadi jaminan utang itu bisa diambil-alih oleh CDB. Jika itu terjadi, aset milik rakyat akan dikuasai China,” pungkasnya.[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar