Pernyataan Jokowi soal China dan Amerika Sahabat Indonesia Amat Disayangkan dan Menyakiti Umat Islam


TintaSiyasi.com -- Pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengatakan bahwa Amerika dan Tiongkok merupakan sahabat, sangat disayangkan Pengamat Politik Internasional Umar Syarifudin, bahkan menurutnya telah meyakiti hati kaum Muslim. 

“Menurut kami, amat disayangkan Jokowi mengucapkan apa yang menyakiti kaum Muslim. Dikabarkan di KTT G20 di Bali Presiden Indonesia Joko Widodo juga menyebut Xi Jinping sebagai 'Kakak Besar'. Jokowi bahkan mengucapkan ucapan selamat kepada Xi Jinping, yang kembali menjadi Sekjen Partai Komunis China. Presiden Xi Jinping mengapresiasi Jokowi sebagai Presidensi KTT yang berhasil dan bisa mendorong ekonomi dunia," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Ahad (19/11/2022).

Ia mengatakan, jika seorang Presiden di negeri yang mayoritas Muslim menyampaikan selamat kepada Sekjen Partai Komunis China yang berkuasa, hal tersebut telah memperkeras retorikanya terhadap Islam. Para pejabat tinggi China sebelumnya juga telah memperingatkan secara berulang-ulang tentang momok agama sebagai “ekstremisme” global yang merembes ke negara itu. Danperlunya melindungi identitas tradisional Cina.

Presiden Jokowi penting untuk mengingat bahwa dunia Islam masih menyoroti dengan tajam atas semua kekuatan ekonomi China yang melengking di dalam negeri. Namun, pemerintah diktator Xi Jinping masih harus menghancurkan dan menindas warga Muslim dari Turkmenistan Timur. 

“China diberitakan oleh banyak media telah menyiksa orang-orang tak berdosa, baik wanita, anak-anak dan orang tua. Satu-satunya kesalahan yang dituduhkan kepada Muslim Uighur adalah karena mereka menyembah Tuhan Yang Esa, Allah Subhanahu wata'ala. Jika gaya hidup komunis mereka ‘dengan karakteristik Cina’ merasa begitu superior dan kuat, mengapa mereka menindas kaum Muslim di Turkmenistan Timur?” tanya Umar. 

Jelas sekali derita Muslim Uighur adalah fakta, tegas pengamat politik internasional itu. Umat Islam di Uighur menghadapi berbagai tekanan dan intimidasi dari pemerintah komunis Tiongkok. Gerak mereka dibatasi, aktivitas mereka dipantau, sedikit mencurigakan akan mengantarkan mereka pada kamp-kamp konsentrasi.

"Lalu, para pemimpin Muslim di negeri-negeri kaum Muslim hanya diam. Seakan menutup mata dan telinga terhadap derita saudara-saudaranya muslim Uighur. Padahal Muslim Uighur ditekan bukan oleh individu, bukan oleh sebuah kelompok. Tetapiz  oleh sebuah kekuatan yang besar bernama negara. Hanya negara yang bisa menghadapi negara," katanya.

Umar menghimbau, pemimpin Indonesia harusnya bisa berbuat banyak untuk menghentikan kezaliman rezim China. Apalagi, umat Islam memiliki memori buruk terhadap komunisme. Misalnya, pada tragedi 1948 di Madiun. Hingga saat ini, umat Islam masih terngiang pembantaian ulama dan santri di Pesantren Takeran yang dimotori PKI. 

“Pemimpin Indonesia harusnya bisa berbuat banyak untuk menghentikan kezaliman rezim China Umat Islam memiliki memori buruk terhadap komunisme. Misalnya pada tragedi 1948 di Madiun. Hingga saat ini umat Islam masih terngiang pembantaian ulama dan santri di Pesantren Takeran yang dimotori PKI. Umat Islam, khususnya NU pun punya memori buruk terhadap paham komunisme,” pungkasnya.[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar