Kasasi KM 50 Ditolak, Chandra Khawatir Jadi Legitimasi Pembunuhan dengan Alasan...

 


TintaSiyasi.com -- Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pelita Umat Chandra Purna Irawan, S.H., M.H. khawatir penolakan permohonan kasasi Jaksa terkait putusan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis lepas dua polisi penembak laskar FPI (Front Pembela Islam) di tol Cikampek KM 50 menjadi legitimasi pembunuhan dengan alasan pembelaan darurat yang melampaui batas.

"Pertama, saya khawatir putusan Mahkamah Agung tersebut dijadikan legitimasi oleh siapapun tidak terkecuali aparat bersenjata untuk melakukan tindakan pembunuhan dengan alasan pembelaan darurat yang melampaui batas," tuturnya kepadaTintaSiyasi.com, Rabu, 14 September 2022.

Kedua, terdapat batasan yang sangat jelas dalam penggunaan dalil “pembelaan darurat yang melampaui batas” atau noodweer exces dapat dilakukan dengan syarat memenuhi unsur yaitu "Harus ada serangan dengan sekonyong-konyong atau pada ketika itu juga". "Sebagai contoh yaitu, seorang pembegal tiba-tiba menyerang polisi dengan celurit atau senjata tajam, maka dalam kondisi darurat dapat memungkinkan untuk menembak. Tetapi, jika si pembegal telah tertangkap, maka polisi tersebut tidak boleh memukuli, menganiaya, menyiksa, dan menembak mati karena pada waktu itu sudah tidak ada serangan mendadak dari pihak pembegal," bebernya.


Ketiga, dalam kasus KM 50 apabila santri pengawal Habib tersebut telah ditangkap dan teriak minta ampun, terlebih lagi misalnya santri pengawal tersebut tidak mengetahui yang mengejar adalah aparat. "Maka dalam situasi tersebut aparat dilarang melakukan tindakan pembelaan diri yang melampaui batas, misalnya sebagai contoh dengan menganiaya dan menembak. Kenapa? Karena unsur atau syarat serangan '...mengancam dengan sekonyong-konyong atau pada ketika itu juga' tidak terpenuhi, sehingga mestinya mengedepankan proses hukum terhadap santri tersebut seharusnya dapat diproses sebagaimana ketentuan pidana yang belaku. Proses hukum tersebut merupakan cerminan dari asas praduga tak bersalah dan memberikan kesempatan bagi pihak yang dituduh untuk melakukan pembelaan secara adil dan berimbang (due process of law)," jelasnya.

Keempat, bahwa Chandra khawatir vonis tersebut membuat masyarakat tidak percaya (distrust ) terhadap hukum, dan khawatir menimbulkan pembangkangan publik (public disabodiance).

"Sebagai penutup bahwa barang siapa membunuh seseorang, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia," tuntasnya.[] Alfia/Ika

Posting Komentar

0 Komentar