Soal Tewasnya Brigadir J, Begini Tanggapan Ketua KPAU


TintaSiyasi.com -- Ketua Koalisi Persaudaraan Advokasi Umat (KPAU) Ahmad Khozinudin, S.H. menanggapi kasus tewasnya Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. "Adanya penemuan-penemuan tersebut justru membenarkan kecurigaan publik adanya dugaan rekayasa kasus," lugasnya dalam YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data yang bertajuk Perspektif PKAD: PB IBHRS dan Update Brigadir J, Wajah Hukum?! Kamis (21/7/2022).

Ia menduga hal itu karena yang terakhir ditemukan recorder TV, dalam pers realease yang disampaikan oleh Bareskrim Jakarta Selatan akan diteliti dan dikalibrasi isinya, baik dari sisi waktu maupun tangkapan kamera yang berhasil di-recorder oleh recorder CCTV dan secara forensik sedang teliti di Mabes Polri.

"Penemuan recorder CCTV tadi justru mengkonfirmasi, sebab sejak awal kita disuguhkan pada fakta bahwa CCTV rusak, konon tersambar petir dan informasi dari Ketua RT yang mantan jenderal, tetiba CCTV diambil oleh Bareskrim," lugasnya.

Ia mempertanyakan, jika fakta konsisten merujuk pada sebuah fakta apa adanya, apa gunanya menemukan bukti recorder CCTV yang sudah tersambar petir. Apa gunanya mengolah CCTV yang sudah dua minggu rusak sebelum terjadinya peristiwa pada tanggal 8 Juli.

"Maka, saya kira jika nanti sampai ketemu temuan ada peristiwa lain berbeda dari peristiwa sebelumnya yang sudah disampaikan oleh Polri melalui Kabag Penum Mabes Polri Brigjen. Ahmad Ramadhan, berarti ini ada kebohongan publik nantinya," tegasnya.

Ia menilai, jika dikaitkan dengan kasus Km 50 yang korbannya enam orang Muslim, justru ada ketidakadilan bagi umat Islam. Pada kasus tersebut, muncul narasi di Polri bahwa CCTV sepanjang Km 50 rusak, sudah selesai, dan tidak ada proses pengungkapan secara forensik terhadap recorder kasus Km 50.

"Kenapa pada kasus Brigadir J bisa dilakukan itu, jika demikian berarti kita juga menuntut agar ada proses dan penyelidikan ulang pada kasus Km 50 dengan menggunakan pendekatan apa yang disebut Kapolri scientic kriminal justice, dan itu tidak pernah dilakukan oleh institusi Polri pada kasus Km 50," tanyanya.

Ia mengatakan, polisi tetap bertahan pada apa yang disampaikan, misalkan uji CCTV forensik untuk melakukan penelitian recorder TV untuk melakukan kajian ulang terhadap isi recorder TV-nya.

"Nah, pada kasus Brigadir J, ko bisa? Makanya saya juga mempersoalkan penegakan hukum pada Km 50. Ada ketidakadilan bagi umat Islam dalam kasus Brigadir J," jelasnya.

Bang Ahmad, sapaan akrabnya mengatakan, hingga saat ini belum mempercayai institusi Polri, meski Polri sudah melakukan pencopotan pada tiga petingginya, yaitu

Pertama, Kadiv Propam Polri Irjen Ferdi Sambo, kedua, Kepala Biro Pengamanan Internal (Paminal) Polri Brigjen Pol Hendra Kurniawan, dan ketiga, Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Budhi Herdy Susianto.

"Belum terlihat bahwa pencopotan itu indikator adanya arah yang terang dan jelas dapat mengungkapkan kasus pembunuhan Brigadir J, yang cerita awalnya terjadi tembak-menembak antara Brigadir J dengan Bharada E yang berujung pada kematian Brigadir J," tandasnya.[] Nurmilati

Posting Komentar

0 Komentar