Kedahsyatan Rasa Syukur


TintaSiyasi.com -- Sobat. Rahasia keberkahan hidup terletak pada kemampuan menjalani kehidupan dengan penuh kesyukuran, karena di sanalah kita akan memperoleh kelimpahan dan keberkahan. Kebahagiaan, kelimpahan, keberuntungan, kesuksesan, dan keberkahan hanya bisa diperoleh dari rasa syukur.

Sobat. Kebahagiaan tak akan datang dari mengeluh. Keberkahan tak akan datang dan muncul dari ketamakan. Kelimpahan tidak bias diharapkan dari sikap mengemis. Keberuntungan tidak berpihak pada kemalasan. Kenikmatan tidak bisa diraih dengan kedengkian. Hanya syukur-lah satu-satunya solusi yang bisa membuat hidup kita berkah dan berkelimpahan.

Sobat. Sudah sepantasnyalah kita berusaha sekuat tenaga menjadi pribadi ahli syukur yang luar biasa. Rasulullah SAW pun mengajarkan resepnya kepada kita. Kata-kata Beliau cetar membahana ketika isterinya Siti Aisyah ra, mempertanyakan tentang kegigihan Beliau dalam beribadah. Beliau hanya menjawab, ”Afalaa akuuna ábdan syakuura. Tidaklah aku ini melainkan hanya ingin menjadi hamba yang bersyukur?”.

Sobat. Beliau juga berdoa, “Allahummaj’alni minas sajidin wassyakirin. Ya Allah jadikanlah aku daripada hamba-hamba-Mu yang bersyukur dan orang-orang yang bersujud. Syukur merupakan pembangkit medan magnet yang paling dahsyat karena syukur bermakna “Kelimpahan atau keberkahan yang senantiasa bertambah.” Bukankah Allah telah berjanji di dalam Al-Qur'an :

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ  

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim (14) : 7).

Sobat. Dalam ayat ini Allah swt kembali mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Bila mereka melaksanakannya, maka nikmat itu akan ditambah lagi oleh-Nya. Sebaliknya, Allah juga mengingatkan kepada mereka yang mengingkari nikmat-Nya, dan tidak mau bersyukur bahwa Dia akan menimpakan azab-Nya yang sangat pedih kepada mereka.

Sobat. Mensyukuri rahmat Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, dengan ucapan yang setulus hati; kedua, diiringi dengan perbuatan, yaitu menggunakan rahmat tersebut untuk tujuan yang diridai-Nya.

Sobat. Dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita lihat bahwa orang-orang yang dermawan dan suka menginfakkan hartanya untuk kepentingan umum dan menolong orang, pada umumnya tak pernah jatuh miskin ataupun sengsara. Bahkan, rezekinya senantiasa bertambah, kekayaannya makin meningkat, dan hidupnya bahagia, dicintai serta dihormati dalam pergaulan. 

Sebaliknya, orang-orang kaya yang kikir, atau suka menggunakan kekayaannya untuk hal-hal yang tidak diridai Allah, seperti judi atau memungut riba, maka kekayaannya tidak bertambah, bahkan lekas menyusut. Di samping itu, ia senantiasa dibenci dan dikutuk orang banyak, dan di akhirat memperoleh hukuman yang berat.

Sobat. Syukur merupakan keterbukaan dan penerimaan hati, tanpa ada beban, tanpa ada tekanan. Ketika hati seseorang dipenuhi rasa syukur, maka pada saat itu, tak ada sedikitpun celah bagi iblis untuk membisikkan kegundahan dan kegelisahan.

Sobat. Sekiranya Anda memiliki permasalahan dan problematika hidup maka bersyukurlah! Sebab anda masih dimampukan menghadapi permasalahan. Permasalahan akan mematangkan kedewasaan berpikir dan menjadikan Anda pribadi yang tangguh.

Jika Anda sakit, maka bersyukurlah ! Sebab Allah ingin mengampuni dan membersihkan dosa-dosa Anda! Jika anda dirundung kesedihan maka bersyukurlah! Sebab Anda diingatkan kepada pemilik kebahagiaan sejati. Sekiranya rezeki anda sulit, bisnis Anda terancam gagal, bahkan sudah gagal maka bersyukurlah! Barangkali Allah ingin melihat Anda bersimpuh mengadukan ketidakberdayaan Anda kepada-Nya.

Syukur Nabi Nuh As diabadikan dalam Al-Qur'an :

فَإِذَا ٱسۡتَوَيۡتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى ٱلۡفُلۡكِ فَقُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي نَجَّىٰنَا مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

"Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim"” (QS. Al-Mu’minun (23) : 28).

Sobat. Allah memerintahkan kepada Nuh, jika ia bersama orang-orang yang beriman telah berada di atas perahu, maka ia harus mengucapkan pujian kepada Allah sebagai rasa syukur atas keselamatan mereka semuanya yang berada dalam perahu itu, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim".

Ayat ini memberi petunjuk bahwa kita tidak boleh merasa gembira dengan turunnya azab kepada orang atau golongan lain, kecuali bila di dalamnya mengandung keselamatan bagi kaum mukminin, terhindarnya mereka dari bahaya kemusnahan, dan tersapu bersihnya dunia dari segala bentuk kemusyrikan dan kemaksiatan.

Menurut keterangan Ibnu 'Abbas ra bahwa yang berada dalam perahu Nuh itu selain semua jenis binatang itu ada 80 orang manusia, yaitu Nuh beserta tiga orang putranya beserta istri-istrinya dan 72 orang Mukmin umat Nuh yang setia kepadanya.

Sobat. Syukur adalah ilmu tingkat tinggi, karena latihannya harus setiap saat dan belajarnya harus seumur hidup. Bila seseorang sudah memiliki “Mantra Syukur”, maka ia mampu menciptakan berbagai macam keajaiban dan selalu menjadikan dirinya sebagai magnet rezeki yang menarik berbagai macam kelimpahan bagi dirinya dan orang-orang lain di sekitarnya.

Sobat. Sekali lagi saya mengingatkan rasa kebahagiaan bukan terletak pada seberapa banyaknya nilai kuantitasnya, namun seberapa besar nikmat yang dirasakan dan seberapa banyak rasa syukur yang diucapkan. Di sinilah sobat, letak keberkahannya. []


Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
CEO Educoach, Penulis Buku The Power of Spirituality dan Goreskan Tinta Emas,  Dosen Pascasarjana IAI Tribakti Lirboyo, Wakil Ketua Komnas Pendidikan Jawa Timur

Posting Komentar

0 Komentar