Citayam Fashion Week, Rusaknya Generasi Akibat Sekularisme dan Islamofobia

TintaSiyasi.com -- Citayam Fashion Week merupakan istilah yang diberikan warganet kepada sekelompok remaja dari daerah Citayam (Depok), Bojonggede (Bogor), Tangerang dan Bekasi, yang sekadar nongkrong di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. 

Hal ini dimanfaatkan pasca singkatan SCBD itu ramai di mana anak anak remaja dari kawasan pinggiran itu nongkrong di kawasan dukuh atas umumnya, khususnya di kawasan terowongan Kendal.

Bahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menggelar rapat bersama Wakil Presiden Bank Investasi Eropa, Kris Peeters di Stasiun Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Anies juga mengajak Kris beserta rombongan berkeliling kawasan Taman Dukuh Atas. Anies menuturkan, mulanya mereka bertemu untuk membahas mengenai rencana pembiayaan pembangunan MRT Fase lanjutan. Anies menyebut pertemuan ini merupakan kelanjutan dari investasi pengembangan transportasi umum di Jakarta di Luxemburg beberapa waktu lalu. 

Mereka bahkan sempat mencoba melakukan catwalk di zebra cross kawasan Taman Dukuh Atas. Sebagaimana diketahui, zebra cross itu belakangan viral karena menjadi lokasi 'Citayam Fashion Week'. 

Fenomena apa ini sebenarnya? Menurut pendapat saya, fenomena ini lebih karena pendidikan era hari ini yang terkenal kapitalistik membuat sebagian remaja nanggung itu ada yang putus sekolah. Hal ini bisa diwakilkan oleh Roy Citayam, yang putus sekolah dan hanya sampai kelas 3 SMP. 

Serupa juga dengan Jeje Slebew, pacarnya, yang juga eksis di kawasan tersebut. Sama dengan Roy, Jeje sendiri putus sekolah hingga Kelas 3 SMP. 

Kehadiran fenomena dukuh atas, justru memperlihatkan betapa kapitalisme telah memperbesar jarak kehidupan dan gaya hidup masyarakat. Citayam Fashion Week menurut saya juga merupakan bentuk perlawanan atas pamer outfit yang juga ditampilkan oleh Artis, Selebgram dan anak muda metropolitan "crazy rich".

Sekularisme juga telah menjauhkan peradaban mulia bangsa Indonesia yang religius sehingga fenomena ini terjadi. Kontrol negara, masyarakat dan keluarga yang harusnya saling berpadu membesarkan dan menyiapkan generasi bangsa ditengah ancaman krisis global justru "terkagum-kagum" dengan fenomena ini. 

Justru saya melihat, bangsa kita tengah kehilangan identitas, akibat fobia yang dimunculkan, utamanya islamofobia. Isu kekhawatiran bahwa bila anak anak diajarkan Islam akan menjadi radikal ini akhirnya membuat kita pasrah melihat fenomena seperti hari ini.

Ini baru satu sudut sisi fenomena remaja yang terjadi hari ini. Belum lagi kita harus mengupas tuntas soal narkoba yang masih marak, hubungan seksual pranikah yang marak hingga kontrol perilaku penyimpangan di masyarakat yang terus terjadi semacam LGBTQ dan sebagainya.

Sampai kapan kita menyadari bahwa permasalahan besar yang terjadi hari ini adalah anak anak dan remaja kita dijauhkan dari nilai Islam, diberikan bumbu isu radikalisme berbagai media, dan buzzer-buzzer yang pro kepada gaya hidup liberal dan kemunafikan.

Seharusnya, generasi kita itu bangga ke masjid, menyemarakkan lingkungan dengan aktivitas kesalehan, bila perlu rasa rasanya indah bila di kawasan Dukuh Atas itu ada Kajian Islam, baca Qur'an bersama hingga shalat fardhu berjamaah di sana. Sekali lagi, ini semua karena sekularisme dan islamfobia! []


Oleh: Rizqi Awal, S.E.Sy.
Pengamat Kebijakan Publik

Posting Komentar

0 Komentar