Sevisi Misi Milenial Sidoarjo, Erick Thohir Dicapreskan?


TintaSiyasi.com -- Seiring rakernas Partai-partai besar dalam menentukan Capresnya. Kalangan milenial Sidoarjo tak ingin kalah. Meski bukan penentu arah politik negeri, milenial ini sadar mereka memegang kunci mendulang suara. ‘Suara emasnya’ menjadi bergaining politic agar bisa dilirik. Berlepas ini dari lubuk hati terdalam atau gerakan spontanitas tanpa batas.

Puluhan kaum milenial Sidoarjo yang terdiri dari mahasiswa, anggota komunitas, dan pengusaha muda deklarasi mendukung Erick Thohir untuk maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024. Deklarasi dukungan itu digelar di Momen Klasik Cafe berlokasi di Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, Kamis (23/6/2022). Mereka menunjukan banner bertuliskan “Mendukung H. Erick Thohir sebagai Calon Presiden RI 2024” sambil melantangkan yel-yel “Erick Thohir Presiden 2024”.

Dikatakan Korlap Deklarasi Zuhan Naufal Lazuardi, alasan dirinya memilih Erick Thohir karena visi dan misi Erick sesuai dengan pola pemikiran kaum muda Sidoarjo, antara lain pekerja keras, inovatif, kreatif, dan sosok yang sangat menghargai para perempuan dan anak-anak.

https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/milenial-sidoarjo-deklarasi-dukung-erick-thohir-maju-pilpres-2024/

Identitas Milenial

Siapa yang tak kenal Erick Tohir? Kalangan pebisnis yang sukses mengusung Jokowi di periode kedua. Jabatan mentereng Mentri BUMN. Gayanya di media sosial menarik perhatian. Saat ini media sosial menjadi media branding untuk lebih mendekat ke milenial. Tak heran, jika beberapa milenial menyatakan dukungan kepada Erick.

Di antara sederetan milenial yang dunianya jauh dari hiruk pikuk politik tak banyak yang peduli sebenarnya. Pasalnya, politik bukanlah panggung milenial dikenal publik. Bahkan, sedikit milenial yang peduli kepada urusan bangsa dan negara. Apalagi urusan pencapresan? Biasanya milenial kenalnya dengan dunia entertainment dan fun, namun beberapa kalangan memanfaatkan medsos untuk kampanye politik. Hal ini terlihat dari politisi yang memiliki akun dan follower banyak.

Mungkin sebagian milenial juga tak paham politik. Selama ini dalam pembelajaran di sekolah tak banyak bahas politik. Bahkan ketika melihat perilaku politisi dan pejabat seringnya ‘eneg’. Mereka akhirnya menjauh dan bukan memandang sebagai masa depan cerah. Cara berpikir yang pragmatis dan instant kerap menghinggapi milenial. Tak heran jika milenial masih bingung menentukan pilihan.

Kalangan milenial merupakan floating mass (masa mengambang). Kondisi itulah yang dimanfaatkan partai politik atau juru kampanye meraih dukungan. Jumlahnya yang banyak bisa menambah pundi suara dalam pemiliahan. Mendekati milenial seperti jinak-jinak merpati. Penuh kehati-hatian dan mengambil hatinya.

Makna Dibalik Gejala

Apakah benar pola pemikiran kaum muda Sidoarjo, antara lain pekerja keras, inovatif, kreatif, dan sosok yang sangat menghargai para perempuan dan anak-anak? Pola pikir itu sama seperti sosok Erick Tohir? Hal ini perlu dianalisis lebih mendalam. Begitu juga, apa makna dibalik dukungan milenial kepada Erick Tohir?

Bagaimana analisis terkait dukungan milenial dalam pencapresan? Berikut analisisnya.

Pertama, gerakan dukung salah satu tokoh seperti Erick Tohir oleh komunitas menjadi daya tawar bagi tim pemenangan. Pasalnya, dukungan publik sangat signifikan untuk menaikkan nilai tawar. 

Kedua, kalangan milenial harus paham bahwa penentu calon Capres-Cawapres berada di tangan ketua umum partai. Berat jika harus maju independen tanpa mesin politik. Erick Tohir tak hanya di kalangan milenial, tapi juga masuk ke ormas keagamaan akar rumput.

Ketiga, kepentingan sesaat dalam politik demokrasi begitu kental. Biasanya pendukung pasca pemilu ditinggalkan. Kalau tidak begitu mereka juga saling berebut jatah kue kekuasaan. Merasa sudah berjasa ingin mendapatkan bagian yang sepadan.

Keempat, publik dan milenial harusnya memahami. Tak selamanya mendukung itu soal sosok dan kesamaan visi-misi. Harus lebih detail lagi sistem yang akan diterapkan di negeri ini. Ke mana arah negeri ini dinahkodai.

Pesan penting bagi komunitas dan milenial. Jika saat ini Anda masuk dalam permainan pencapresan maka pahami politik secara utuh. Urusan kenegaraan menentukan nasib jutaan umat manusia. Karenanya, perlu mengkaji politik yang berkeadaban dan sesuai kenabian.

Politik yang dimaknai sebagai pengurusan umat dengan aturan dari Allah SWT. Adapun sosok pemimpin bukan dilihat dari saat ini, tapi pahami rekam jejaknya. Jangan sampai pemimpin terpilih nanti nyatanya menjadi tangan oligarki. Kepentingan kekuasaan dan ekonomi berkelindan sehingga merugikan rakyat.

Alangkah baiknya, kalangan milenial kembali mengkaji politik Islam. Agar tak salah arah dan tak salah dukung. Sebab, bicara kepemimpinan negeri tak melulu soal sosok dan menang kalah. Lebih dari itu, apakah mau pemimpin itu menerapkan syariah?


Oleh: Hanif Kristianto 
(Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data)

Posting Komentar

0 Komentar