Prof. Suteki: Isu Radikalisme Terorisme Terkesan Hanya Sasar Umat Islam


TintaSiyasi.com -- Pakar Hukum dan Masyarakat, Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum. menilai, perbedaan sikap terhadap Khilafah Muslimin yang dianggap gerakan radikal dan penemuan senjata di rumah Djie Kian Han dipastikan bukan terorisme, terkesan isu radikalisme terorisme hanya menyasar Muslim.

"Terkesan isu radikalisme terorisme hanya menyasar umat Islam. Kecenderungannya memang begitu," tuturnya dalam segmen Tanya Profesor: Khilmus Dikaitkan Terorisme, Temuan Senpi Malah Dianggap Sepi, di kanal YouTube Prof. Suteki, Rabu (15/6/2022). 

Prof. Suteki mengungkapkan, berbagai kegiatan kekerasan, pembunuhan, penembakan massal yang terjadi di negara-negara non-Muslim dan pelakunya non-Muslim tidak ada yang dikaitkan dangan radikalisme dan terorisme, melainkan hanya dianggap kejahatan berbau rasis atau penyalahgunaan senjata api, atau soal gangguan jiwa si pelaku. 

"Sementara jika pelakunya Muslim, sering dikaitkan dengan jaringan tertentu, apakah itu terorisme atau setidaknya kelompok radikal," ujarnya. 

Bahkan katanya, golok saja bisa menjadi bukti akan melakukan makar menggulingkan pemerintahan yang sah, tidak harus punya detonator, bahan peledak, senpi laras pendek dan panjang. 

"Memang tampak sekali ketidaksamaan perlakuan atas tindakan yang sama," tegasnya. 

Untuk mengantisipasi keadaan lebih buruk bagi umat Islam, menurut Prof. Suteki, perlu melakukan kontranarasi terkait radikalisme terorisme. 

"Kontranarasi terhadap ketidaktepatan pemahaman atas ajaran Islam harus terus dilakukan, khususnya oleh masyarakat pengemban dakwah," terangnya.  

Ia menjelaskan, Islam tidak pernah mengajarkan radikalisme dalam pengertian peyoratif apalagi mengajarkan terorisme. Guru Besar Fakultas Hukum Undip ini menyebut, khilafah misalnya harus dipahami sebagai bagia ajaran Islam terkait fiqih siyasah. 

"Boleh dipelajari dan didakwahkan oleh siapa pun. Namun ada catatannya, yakni tidak menggunakan pemaksaan, kekerasan apalagi makar," imbuhnya. 

Dua Hal

Untuk itu, Prof. Suteki memandang, ada dua hal yang perlu diperhatikan, bukan hanya oleh masyarakat tetapi juga aparat penegak hukum (APH) dan pejabat pemerintahan. 

Ia menyampaikan, pertama, semua pihak (APH dan pejabat negara) harus memahami kesamaan persepsi terhadap radikalisme dan terorisme.  

"Jika tidak, akan terus berulang peristiwa yang diarahkan termasuk radikalisme dan terorisme. Tidak boleh ada pemahaman yang 'ngaret' sehingga kedua istilah itu cenderung dipakai sebagai alat gebuk rezim terhadap umat Islam," bebernya. 

Kedua, ia menilai, umat Islam harus sadar terhadap political will rezim berkuasa dengan menghindari tindakan kontraproduktif yang akhirnya terjebak dalam urusan hukum yang dijalankan rezim. 

"Namun di sisi lain, wajib istiqamah terhadap pelaksanaan ajaran Islam. Memang rasanya seperti menggenggam bara api, digenggam panas, dilepas mati. Perjuangan itu memang berat karena Allah menjanjikan pahala surga, bukan hadiah berupa kipas angin," pungkasnya. [] Puspita Satyawati

Posting Komentar

0 Komentar