Kurikulum Merdeka, Apa Tujuannya?


TintaSiyasi.com -- Pendidikan menempati posisi penting bagi kemajuan dan kejayaan sebuah bangsa. Pendidikan yang baik dan berkualitas menjadi modal utama untuk memastikan kualitas sumber daya manusia. Kemajuan dan kejayaan sebuah bangsa bukan hanya dilihat dari kekayaaan sumber alamnya saja, tetapi bagaimana sumber daya manusia bangsa tersebut dapat mengelola sumber daya alam dengan baik.

Pentingnya pendidikan sangat bergantung pada rumusan tujuan pendidikan itu sendiri. Bagaimana gambaran tujuan pendidikan di negara kita, Indonesia? mari kita ikuti perjalanan perumusan tujuan pendidikan di Indonesia.

UUD 1945 (versi amandemen) pasal 31 ayat 3, menyebutkan , "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,yang diatur dengan undang!undang. "Pasal 31 ayat 5 menyebutkan, "Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang Undang no. 20, tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa , berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."

Bila dibandingkan dengan undang-undang pendidikan sebelumnya, yaitu Undang.Undang No 2/1989, agak mirip kecuali hanya dalam pengungkapannya saja. Pada pasal 4 ditulis, "Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan."

Jika kita pelajari, dari uraian di atas tujuan pendidikan nasional di negara kita sangat lugas menegaskan menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa. Namun, apakah tujuan pendidikan ini terkonesikan dalam kebijakan pendidikan Nasional sekarang, sebuah konsep dan kebijakan pendidikan nasional yang digagas oleh Pak Nadiem makarim, yakni Merdeka belajar. 

Dilansir dari laman kurikulum.kemdikbud.go.id, Kurikulum Merdeka dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik. Karakteristik utama dari kurikulum ini yang mendukung pemulihan pembelajaran adalah: 1) Pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil Pelajar Pancasila. 2) Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. 3) Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal. 

Kurikulum merdeka ini sebenarnya bukan baru karena embrionya sudah dijalankan sejak Kurikulum Darurat, Kurikulum Prorotipe, kemudian disahkan sebagai Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka dianggap solusi oleh Kemdikbudristek atas kesenjangan belajar (learning loss) akibat pandemi. Cukup logis memang, karena Kurikulum Merdeka terfokus pada ketertinggalan pembelajaran. Sebagaimana yang diuraikan dalam modul paparan Merdeka Belajar Episode Kelima Belas.

kesalahan terbesar dari pemerintah terkait perubahan dan penerapan kurikulum, sejak tahun 1945 hingga 2022 ini. Pemerintah terkesan tidak bijaksana dalam melakukan pergantian kurikulum, seolah tidak memiliki grand design dan Blue Print pelaksanaan pendidikan nasional. Kondisi ini bisa sangat mengganggu hasil yang diharapkan dari dunia pendidikan Indonesia, di mana masa depan bangsa tentu akan menjadi taruhannya. Hal ini jelas-jelas bisa terjadi jika kurikulum diterbitkan tanpa melalui proses penyusunan yang bijak dan matang.

Kurikulum merdeka berisi semangat memberi kemerdekaan bagi siswa dalam memilih pelajaran yang mereka inginkan, tentu ini akan memunculkan polemik. Permasalahan akan muncul jika siswa dibebaskan memilih, jamak kita ketahui siswa sering kesulitan mengambil keputusan dan ragu, hingga berujung serabutan dalam memilih bidang mata pelajaran. Belum lagi, kecenderungan siswa menyukai mata pelajaran bukan karena esensi pelajarannya namun karena gurunya, atau bahkan sekedar ikut-ikutan teman. Kemudian hal ini juga berpotensi masuknya pembelajaran unfaedah.

Selain itu, Kemendikbud Ristek memberikan kewenangan kepada kepala sekolah dan guru untuk memilih kurikulum. Artinya sekolah yang belum bisa menerapkan Kurikulum Merdeka, maka bisa menggunakan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Darurat. Tentu hal ini akan menimbulkan disparitas dalam kualitas pembelajaran. 

Di sisi lain, adanya kebebasan yang memberikan fleksibilitas bagi guru dalam menentukan metode pembelajaran juga berpeluang menimbulkan masalah. Kebebasan di tengah kebingungan. 
Dalam pendidikan, umat Islam pernah mengalami kemajuan pesat yang diakui dunia. Sistem Pendidikan yang dijalankan oleh negara khilafah dengan tujuan Pendidikan, yaitu membangun kepribadian Islam, dengan cara menjalankan perangkat pembinaan, pengaturan, dan pengawasan di seluruh aspek pendidikan melalui penyusunan kurikulum, pemilihan guru berkompeten, dan pemantauan prestasi anak didik serta upaya peningkatannya. 

Dilengkapi dengan sekolah-sekolah, akademi-akademi, dan universitas-universitas beserta sarana dan perlengkapan yang diperlukan.
Kurikulum dalam khilafah wajib berlandaskan akidah Islam. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut. Kurikulum yang digunakan seragam dan tidak boleh menggunakan kurikulum selain yang sudah ditetapkan oleh negara khilafah. Dengan seperti ini akan memunculkan generasi-generasi yang berkepribadian Islam, taat pada syariat dan siap menjadi ilmuan atau ahli dalam bidang-bidang di kehidupan. 

Mata pelajaran dalam Pendidikan di negara khilafah dirancang sesuai dengan kebutuhan terutama ilmu-ilmu terapan yang tidak terikat dengan dengan tingkatan manapun dalam jenjang pendidikan. Tsaqofah islam diajarkan di seluruh jenjang Pendidikan sebelum perguruan tinggi yang disesuaikan dengan kebijakan tertentu yang tidak bertentangan dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam. Inilah beberapa strategi pendidikan negara khilafah.[]

Oleh: Agustina, S.Pd 
(Praktisi Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar