Konvoi Khilafatul Muslimin Kibarkan Bendera Tauhid: Rezim Kian Resah


TintaSiyasi.com -- Buntut konvoi Khilafatul Muslimin pada Minggu (29/5), pihak kepolisian menetapkan beberapa orang sebagai tersangka. Menurut Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Iqbal Alqudusy, mereka adalah pihak yang harus bertanggungjawab atas peristiwa itu, karena telah menyebarkan pamflet terkait ideologi khilafah.

"Yang dilakukan para tersangka yaitu menyelenggarakan konvoi kendaraan roda dua dan melakukan penyebaran pamflet selebaran berupa maklumat serta nasihat dan imbauan yang diduga memuat berita bohong atau belum pasti di masyarakat serta berpotensi makar," dilansir detikJateng, (6/6/2022).

Tak hanya sampai di situ, dengan kejadian tersebut kata radikalisme kembali mencuat dan diperbincangkan di media serta menjadi bahan diskusi para akademisi. Menurut Muhammad A.S Hikam misalnya, ada 5 perguruan tinggi yang menjadi tempat penyebaran paham radikalisme dan menjadikan mahasiswa sebagai target utamanya.

"Universitas yang sangat terkenal di negara Indonesia, seperti IPB, ITB, UI, UGM, ITS, dan lain-lain itu adalah target utama dari pengembangan ide-ide radikalisme tadi itu" paparnya dalam seminar yang digelar Universitas Paramadina, Jum'at (3/6), dikutip dari Suaraislam.co (5/6).

Atas nama perang melawan radikalisme, para akademisi menginginkan pemerintah membuat regulasi yang menindak tegas pelaku penyebaran paham radikal.


Ketakutan Berlebihan

Ironis, negara yang berketuhanan Maha Esa tetapi anti dengan ajaran yang bersumber dari Tuhan, yakni ajaran Islam. Khilafah adalah ajaran Islam, lalu kenapa selalu dipersoalkan? Berbanding terbalik ketika ada sekelompok atau individu yang mempromosikan sekularisme dan membawa ajaran merusak, seperti liberalisme, LGBT, malah dibiarkan.

Ketakutan para pejabat maupun penguasa akan bangkitnya kesadaran umat terhadap ajaran agamanya, tampak pada sikap serta cara penanganan isu radikalisme itu sendiri. Sekali mereka mengatakan bahwa suatu perbuatan atau tindakan dikatakan radikal, maka dengan sigap para penguasa berperan aktif untuk menindaknya. Tanpa sedikit pun orang-orang yang dijadikan tertuduh melakukan klarifikasi menyampaikan argumen terkait tindakan dan sesuatu yang diyakininya.

Di saat bersamaan, negeri ini diinjak harkat martabatnya oleh sekelompok orang-orang yang menjunjung tinggi liberalisme. Yang mana paham liberal telah terbukti merusak jiwa serta negara. Banyak dari masyarakat Indonesia terjerumus pada perbuatan hina akibat paham liberalisme yang mereka yakini. Salah satunya perbuatan kaum sodom yang kian berani menampakkan jati dirinya. Namun apa yang terjadi? Negara malah membuat regulasi undang-undang tuk melindungi eksistensi kelompok tersebut.

Salah satu kerugian negara akibat prilaku bebas tersebut adalah, merebaknya penyakit sipilis dan HIV di tengah komunitas mereka. Dan yang lebih berbahaya lagi tentunya bahwa penyakit tersebut merupakan penyakit menular yang belum ada obatnya. Maka kalau kita bandingkan antara paham liberalisme dengan paham khilafah, sejatinya yang lebih berbahaya adalah paham liberalisme.


Khilafah Dapat Menyelamatkan Umat

Isu radikalisme tak henti digulirkan penguasa semata tuk menghadang kebangkitan umat. Karena faktanya, orang-orang yang dikatakan radikal ialah orang-orang yang yakin dengan ajaran agamanya, sekaligus mereka kukuh melakukan perbaikan di tengah umat. Masyarakat apa lagi negara sedikit pun tak dirugikan oleh keberadaannya. Justru dengan adanya mereka, negara terbantu dalam memerbaiki kondisi masyarakat yang kian rusak. Tak henti kelompok yang dikatakan radikal ini tetap berkontribusi membantu perbaikan di segala aspek, sekalipun mendapat julukan yang tak mengenakkan dari penguasa.

Maka dari itu, isu radikalisme terus digemborkan oleh rezim, patut diduga sebagai pengalihan isu belaka. Banyak kasus di dalam negeri menguap tak jelas. Seperti kasus korupsi yang menimpa para pejabat, dan juga ulah sebagian penguasa yang menggadaikan SDA tak terjamah oleh hukum, sekalipun dibentuk badan legal penanganan korupsi.

Bagi siapa pun yang berpandangan bahwa khilafah ajaran sesat dan berbahaya, sesungguhnya pendapat tersebut sangat keliru. Khilafah adalah sebuah institusi negara yang akan membawa kondisi masyarakat rusak menjadi masyarakat baik dan beriman. Dengan adanya khilafah, segala bentuk perbuatan maupun undang-undang yang tidak sesuai dengan syariat serta fitrah manusia akan dihilangkan. 

Khilafah pun kan meniadakan kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyatnya. Khilafah adalah negara yang tegak atas akidah Islam dan berdiri mandiri tanpa intervensi asing.

Sekalipun keberadaan khilafah dimusuhi terutama oleh mereka orang-orang yang mengusung sistem kapitalisme liberal, yakinlah, bahwa suatu saat khilafah akan tegak. Karena merupakan janji Allah dan bisyarah Rasulullah. Walau radikalisme selalu dikaitkan dengan khilafah, itu hanya cara pembenci Islam tuk membunuh citra khilafah. Satu yang harus tertanam dalam benak kaum muslim, bahwa khilafah penyelamat umat dari segala bentuk penjajahan dan keterpurukan yang selama ini menimpa umat.

Tegas dalam menghukumi setiap tindak kejahatan. Lemah lembut ketika meriayah umat. Selalu mengajak umat pada ketaatan terhadap aturan Pemilik langit dan bumi. Meluruskan pemahaman keliru yang ada di tengah masyarakat. Menjadikan kepemimpinan sebagai amanah dari rakyat dan harus ditunaikan sesuai perintah syariat. Itulah khilafah, pelindung dan pengatur urusan rakyat. Tanpa khilafah, mustahil keadaan negeri ini mampu membaik.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Waryati
(Pegiat Literasi)

Posting Komentar

0 Komentar