Hadharah Barat versus Hadharah Islam


TintaSiyasi.com -- Sobat Muslimah sudah pada tau belum apa itu hadharah? Hadharah adalah sekumpulan pemahaman tentang segala sesuatu tentang kehidupan yang dibangun berdasarkan ideologi yang dianut oleh seseorang dan umat. Bagaimana standar dan hukumnya menggunakan hadharah dan madaniyah bagi Muslim?

Sedangkan madaniyah adalah kumpulan dari bentuk-bentuk fisik yang terindera, digunakan dalam berbagai aspek kehidupan baik dipengaruhi salah satu pemahaman ideologi atau tidak. 

Madaniyah Barat hasil kemajuan sains dan teknologi diperbolehkan untuk diambil dan dimanfaatkan karena bersifat universal, tidak mengandung ideologi Barat. Contoh: mobil, motor, HP, laptop, TV dan lain sebagainya. Adapun yang bersifat khusus yaitu topi santa, salib, patung, dan masih banyak lagi lainnya.

Dapat disimpulkan bahwa kita sebagai umat Muslim boleh menggunakan produk barat/asing selama produk itu tidak mengandung unsur hadharah ideologi Barat. Sebaliknya, meskipun ada produk lokal tapi mengandung unsur hadharah yang bertentangan dengan Islam, maka tidak boleh digunakan. Contohnya klenik, kejawen, senjata yang dikeramatkan, larung sesaji, sarang hujan, dan lain lain.

Hadlarah yang menjadi fenomena saat ini adalah feminisme, islamfobia, moderasi beragama, childfree, hedonisme, korean wave, neoimperialisme, dan merebaknya LG3T. Generasi penerus bangsa juga dirusak dengan berbagai kampanye food, fun, fashion, film, dan sing yang berasal dari hadharah ideologi selain Islam.

Ketika umat Islam berhadapan dengan berbagai pemikiran dan produk asing sejatinya bisa memilih mana yang sesuai Islam dan mana yang bertentangan. Salah satu ilmu penting yang harus kita ketahui jangan sampai kita mengharamkan sesuatu yang tidak haram. Apa perbedaan antara hadharah dan madaniyah dalam realitas kehidupan saat ini?

Adapun perbedaan hadlarah Barat dan hadlarah Islam dapat di lihat dari :

Pertama. Asas dan landasannya. Hadharah Barat dibangun berdasarkan pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) dan pengingkaran terhadap peran agama dalam kehidupan. Sedangkan hadharah Islam berdasarkan keimanan adanya Allah SWT yang mengatur kehidupan dunia, menjadikan alam semesta, manusia dan kehidupan suatu aturan yang masing-masing harus mematuhinya. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW dengan membawa agama Islam sebagai dasar hadharah Islam yang berdiri di atas akidah Islam yaitu beriman kepada Allah SWT, malaikat-Nya, Rasul-Nya, Kitab-Nya, Hari kiamat serta Qadha dan Qadar baik buruknya dari Allah SWT. Asas ruhiyah yaitu hubungan manusia dengan Pencipta yang jelas membedakan antara hadharah ini.

Kedua. Konsep kehidupan. Kehidupan hadharah Barat mengedepankan manfaat (untung rugi) yang menjadi dasar tegaknya sistem dan hadharah Barat. Berbeda dengan hadharah Islam yang memadukan antara materi dan ruh. Artinya setiap perbuatan manusia harus disesuaikan dengan perintah dan larangan Allah. Perbuatan manusia disebut dengan materi, sementara halal haramnya perbuatan adalah ruh.

Ketiga. Makna kebahagiaan. Kebahagiaan hadharah Barat tercipta ketika terpenuhinya kesenangan fisik/jasmani yang menyesuaikan pandangan hidupnya yaitu asas manfaat tadi. Sedangkan hadharah Islam kebahagiaan hidup ketika mendapatkan ridha Allah SWT. Jadi tidak hanya terpenuhinya kebutuhan jasmani atau naluri saja, melainkan meraih tujuan tertinggi untuk meraih ridha Allah SWT.

Fakta yang terjadi saat ini adalah hadharah Barat yang berkuasa di seluruh dunia membawa dampak negatif bagi umat, menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia dan membahayakan kelangsungan hidup manusia. Sekularisme yang diusung hadharah Barat tentu bertentangan dengan fitrah manusia, apapun distandarkan dengan manfaat (prinsip untung rugi), tidak ada yang lain. Hal ini dapat mengakibatkan persaingan, perselisihan, baku hantam dan penjajahan.

Sejarah mencatat hadharah Islam yang pernah berkuasa di dunia sejak abad VI – XVIII M tidak pernah menjadi penjajah, tidak membedakan antara kaum Muslim dengan yang lainnya. Keadilan terjamin bagi seluruh bangsa. Apabila hadharah Islam kembali berkuasa di dunia tentu akan mampu menangani berbagai krisis dan mampu mensejahterakan seluruh umat manusia.

Allahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Wita Vianika, S.E.
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar