Dari Hollywings Kita Tahu, Dalam Kapitalisme Promosi Bisa Menista Agama


TintaSiyasi.com -- Hollywings Indonesia bisa dikatakan telah sukses melambungkan namanya di seluruh langit Indonesia. Bukan hanya karena kejadian promosi produk yang mengandung unsur penistaan agama dan penghinaan pada nabi besar Muhammad SAW. Namun Hollywings telah cukup lama selalu mengambil langkah kontroversial dalam upayanya melambungkan bisnisnya.

Pada tahun 2021 Hollywings Kemang pernah ditutup selama 3x24 jam dan mendapat sanksi denda sebesar Rp50 juta karena beberapa kali melanggar protokol kesehatan selama PPKM berlangsung.

Masih pada tahun yang sama, Hollywings memanfaatkan ketenaran drama Korea Start Up dan ‘membagi’ restoran mereka menjadi tim Han Jie Pyong dan Tim Nam Do San, dua nama pemeran tokoh utama dalam drama tersebut yang berebut cinta protagonis wanita.

Dari tiga kejadian tersebut, tidak heran bila ada yang menyimpulkan bahwa strategi marketing Hollywings Indonesia adalah selalu memanfaatkan sensitivitas masyarakat secara komunal. Pada masa PPKM, keadaan panic melanda banyak kalangan masyarakat, banyak orang terpengaruh secara sosial dan ekonomi. Lebih banyak lagi yang tidak bisa beradaptasi dengan aturan PPKM yang diterapkan oleh negara. Sehingga masyarakat akan sensitive terhadap kasus-kasus pelanggaran PPKM. Meskipun pelanggaran protokol kesehatan bisa saja terjadi secara tidak sengaja karena lemahnya control unit usaha, namun bila terjadi berkali-kali masyarakat akan sangsi bahwa kasus tersebut tidak memiliki motif tersembunyi atau mengandung kesengajaan.

Berkaca pada masa Hollywings memanfaatkan momen dengan membagi restorannya (memberi plakat/tulisan) menjadi Tim Han Jie Pyong dan Tim Nam Do San. Memanfaatkan sensistive masyarakat yang besar dan sedang terpusat kepada drama ini. Sepertinya, strategi ini pun masih dilakukan hingga sekarang, dengan membuat promosi minuman keras gratis bagi setiap nama Muhammad dan Maria yang belum lama ini viral dan menimbulkan banyak reaksi. 

Di tengah derasnya arus islamofobia yang dilancarkan oleh Barat, berpengaruh pula pada Indonesia, negeri dengan penduduk Muslim terbanyak. Muslim yang mencintai nabinya, pasti akan terusik dengan promosi tidak pantas ini.

Promosi yang dilakukan oleh Hollywings kali ini benar-benar telah mengusik umat. Minuman keras yang sudah jelas keharamannya disandingkan dengan nama nabi yang mulia. Nabi yang mengajarkan untuk menjauhi kemaksiatan, termasuk kemaksiatan dalam mengkonsumsi minuman keras.

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan" (QS. Al Maidah : 90).


Penistaan Agama yang Berulang

Karena kehebohan ini Hollywings telah mengucapkan permohonan maaf secara terbuka dan staff yang diduga melakukan unggahan promosi tersebut telah ditahan dengan tuduhan penistaan agama. Namun masyarakat merasa bahwa kasus ini juga akan menjadi sama dengan banyak kasus penistaan agama lain yang sudah pernah terjadi. Kasus-kasus yang begitu mudah selesai hanya dengan minta maaf dan kemudian hilang dengan cepat. Lalu tinggal tunggu waktu hingga muncul penistaan agama dalam bentuk lain dan dari pelaku berbeda. 

Sebelum Hollywings telah banyak tokoh atau perusahaan yang dengan keji menista agama Islam dan segala simbolnya. Kasus penistaan agama ini akan terus berlangsung bila tidak diperbaiki dari akarnya.

Maraknya penistaan agama paling tidak terjadi karena 2 (dua) hal :

Pertama, derasnya arus opini islamofobia, ketakutan pada Islam yang tidak wajar dan tidak berdasar makin besar karena dikembangkan secara terorganisir dalam agenda-agenda barat. Menggunakan kendaraan sekularisme, liberalisme, dan kapitalisme. Islamofobia bahkan juga menjangkiti pemeluk agama Islam itu sendiri. 

Kaum Muslim menjadi insecure dengan agamanya sendiri, menjadi mudah mengikuti gaya hidup dan pemikiran Barat yang penuh dengan kebebasan. Sehingga tidak heran bila ada yang berpendapat bahwa penistaan agama kurang lebih seperti ekspresi kebebasan berpendapat.

Kedua, tidak adanya peran masyarakat dan negara yang aktif untuk benar-benar memerangi islamofobia dan mengatasi penistaan agama. Negara tidak memiliki aturan jelas, tidak hanya dalam menghukum kriminal penistaan agama, namun aturan-aturan lain memiliki banyak celah untuk menumbuh suburkan terjadinya penistaan agama. Hal ini wajar terjadi dalam sistem pemerintahan demokrasi yang memiliki asas kebebasan.

Dalam kasus Hollywings ini saja, celah penistaan agama muncul karena dari awal minuman keras yang diharamkan dalam Islam diijinkan untuk menjadi komoditas dagang di negeri ini. Sehingga para kapitalis atau pengusaha berusaha keras mendapatkan keuntungan dari komoditas tersebut dan melakukan teknik promosi tanpa peduli apakah konten promosinya mengandung penghinaan terhadap agama tertentu.

Berbeda dengan sistem pemerintahan Islam yang menganut syariat sebagai aturan negara, celah seperti ini tidak akan ada karena standar perbuatan berdasarkan halal dan haram yang sudah ditetapkan oleh syarak. Penerapan syariat Islam secara kaffah secara otomatis akan mematikan islamophfobia, digantikan dengan Islam yang membawa rahmatan lil alamin.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Helmiyatul Hidayati, S. IKOM.
(Blogger dan Editor)

Posting Komentar

0 Komentar