BPJS Hanya Menguntungkan para Korporasi


TintaSiyasi.com -- Kelas pelayanan rawat inap Badan Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS) Kesehatan dikabarkan akan dilebur menjadi kelas rawat inap standar (KRIS). Jika sebelumnya rawat inap ruang perawatan terbagi kelas 1, 2, dan 3, maka nanti akan menempati ruang perawatan dengan standar yang sama, yakni KRIS. Peleburan ini menjadi pertanyaan bagi masyarakat. Apakah iuran peserta mengalami perubahan?

Ternyata berdasarkan pernyataan anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Asih Eka Putri, dengan adanya peleburan ini, iuran nantinya ditentukan dari besar pendapatan peserta. "Iuran sedang dihitung dengan memperhatikan keadilan dan prinsip asuransi sosial. Salah satu prinsipnya adalah sesuai dengan besar penghasilan," kata Asih, dikutip dari Kompas.com, (9/6/2022). 

BPJS yang saat ini menjadi salah satu hal penting bagi masyarakat. Bagaimana tidak, dengan adanya BPJS dianggap dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit. BPJS yang disinyalir membantu rakyat dalam kepengurusan pelayanan kesehatan akan menghilangkan kelas rawat inap menjadi kelas rawat inap standar yaitu semua pasien akan menempati ruangan yang sama. 

Dengan peraturan baru ini menjadi angin segar bagi rakyat khususnya rakyat yang memiliki penghasilan rendah tetapi perlu diingat, nyatanya bagi pelayanan berkelas masih adanya campur tangan dari skema CoB dengan sebagian perusahaan asuransi kesehatan, sangat terlihat betapa penguasa hanya memberikan solusi tambal sulam namun tidak memberikan solusi yang benar-benar menuntaskan perkara pelayanan kesehatan yang merupakan kebutuhan pokok rakyat.

Jika dilihat pelayanan kesehatan yang sama seperti peserta BPJS, namun akan selalu ada diskriminasi antara rakyat paling tidak seperti pasien CoB dan Pasien BPJS. BPJS sedari awal keberadaanya bukan untuk menyelesaikan problem umat terkait pelayanan kesehatan terlepas dari diskriminasi bahkan pelayanan yang kurang masih saja ada dalam pelayanan kesehatan ala kapitalisme. Maka aturan ini seolah memberi angin segar bagi rakyat tetapi sama saja tujuannya menghimpun dana dari pada menyelesaikan permasalah diskriminasi. Pelayanan ala kapitalisme dengan asas kebermanfaatan lebih dominan bagi sebagian orang, tanpa melihat standar yang sesuai hukum syariat.

Maka, bukan lagi isapan jempol semata bahwa jika keuangan BPJS mengalami defisit. Sebab pelayanannya masih kepada iuran peserta dan memungkinkan defisit akan terus terjadi sebab pendapatan rakyat masih jauh dari kata cukup untuk mencari nafkah saja demi kebutuhan hidup sehari-hari masih susah apalagi untuk membayar iuran BPJS. Sama halnya saat penguasa menetapkan pembayaran yang sesuai dengan gaji rakyat peserta BPJS.

Maka sekali lagi BPJS bukanlah solusi tuntas dalam pelayanan kesehatan. Bahkan bagi para peserta BPJS yang memiliki gaji tinggi berpeluang beralih pada asuransi non-BPJS. 

Terlebih penguasa membuat aturan baru yang menjadikan BPJS sebagai alat untuk bisa mendapatkan beberapa pelayanan publik seperti mengurus pembuatan surat ijin mengemudi (SIM), STNK, daftar haji/umrah hingga jual beli tanah, dan lain-lain. Seolah dana dengan mudah didapatkan padahal rakyat dipaksa membayar iuran, ironis bukan?

Inilah wajah buram kapitalisme dengan kebobrokan aturan yang dimainkan, kapitalisme dalam dunia kesehatan hanyalah ajang bisnis untuk mendapatkan keuntungan semata tanpa melihat keadaan rakyat. Sehingga kapitalisme dalam ranah kesehatan menjadi hal yang tidak terhindarkan. Negara tidak lagi menjadi garda terdepan dalam melayani rakyatnya. Namun lebih kepada bisnis, inilah penyakit sistem saat ini, rakyat tidak lagi menjadi prioritas melainkan hanyalah alat pemuas kepentingan penguasa. Miris melihat rakyat yang terus saja dibebankan oleh berbagai masalah termasuk membayar iuran BPJS. 

Jika sistem kapitalisme hanya fokus untuk kepentingan para korporasi. Maka berbeda dengan sistem kesehatan berbasis Islam yang menyatu kepengurusan penguasa. Penguasa dalam sistem Islam akan memberikan pelayanan kesehatan pada seluruh rakyatnya, baik muslim maupun non muslim semua akan dilayani dengan baik sehingga pengelolaannya langsung di bawah penguasa yang mampu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh rakyatnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membebaskan seorang Mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al-Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya” (Hadis Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 71, hadits no. 7028, dari Abu Hurairah ra).

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Milda, S.Pd.
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar