Benarkah Narasi Pemuda Harus Terlibat Dalam Pencegahan Radikalisme?


TintaSiyasi.com -- Berita konvoi rombongan motor dengan membawa sebuah tulisan 'Kebangkitan Khilafah' yang sempat terekam di daerah Cawang, Jakarta Timur pada hari Minggu tanggal 25 Mei 2022 menjadi viral.

Konvoi ini terekam dalam sebuah video yang beredar di media sosial. Di dalam video tersebut terlihat salah satu tulisan yang dibawa oleh rombongan adalah 'sambut kebangkitan khilafah Islamiyah'.

Berita tersebut langsung membuat geger negeri ini yang memang saat ini sedang gencar melakukan perlawanan terhadap radikalisme versi mereka yaitu tindakan yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan Islam. Bagi penguasa tentu ini dianggap ancaman keamanan bangsa dan membuat masyarakat resah meski secara realita ketakutan masyarakat justru karena opini negatif dari penguasa terhadap makna khilafah itu sendiri.

Menanggapi hal ini Menteri Agama, Yaqult Cholil Qoumas menyatakan khilafah tak boleh ada di Indonesia.
Sementara, Ketua Bidang Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia), Asrorun Niam Sholeh menegaskan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia merupakan aturan yang mengikat.

Dan berita konvoi ini juga membuat berbagai pihak menuntut adanya payung hukum terhadap pelaku radikalisme, apalagi adanya anggapan mahasiswa atau pemuda  adalah salah satu target untuk dibina menjadi orang yang radikal sehingga membuat berbagai pihak merasa khawatir terhadap generasi penerus bangsa tersebut.

Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, Weda Lupita mengatakan bahwa regulasi yang saat ini ada belum bisa memenuhi standar untuk penanggulangan paham-paham radikal di kampus. Hal ini terkait dengan terbatasnya ruang gerak aparat penegak hukum menertibkan penyebar narasi radikalisme terutama di lingkungan kampus.

Weda juga menyatakan setuju  jika memang harus ada lembaga internal kampus yang menengarai merebaknya paham-pahan radikalisme intoleran dan terorisme di lingkungan kampus untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai rumah yang nyaman dalam mengembangkan sikap moderat dan toleran.

Sedangkan menurut Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid., S.E. M.M mengatakan,  dalam menangkal radikalisme peran generasi muda sangat penting.

Nurwakhid menguraikan, dari data 12,2 persen masyarakat Indonesia yang masuk dalam indeks potensi radikalisme 85 persennya adalah generasi muda yaitu generasi milineal antara umur 20 sampai 39 tahun. Kemudian yang kedua Generasi Z yaitu umur 14 sampai 19 tahun.

Atas data tersebut Nurwakhid menganggap penting sekali peran kaum pemuda dilibatkan dalam kontra ideologi, kontra propaganda maupun kontra narasi terutama di dunia maya. Karena paham intoleransi dan radikalisme itu lebih banyak didominasi melalui dunia maya.

Ketika kita perhatikan, melibatkan pemuda dalam menangkal opini radikalisme justru bisa mengalihkan permasalahan utama  pemuda saat ini, seperti pergaulan bebas, narkoba, tawuran dan permasalahan pemuda lainnya yang belum ada solusi. 

Dan sangat disayangkan justru penguasa abai terhadap permasalahan tersebut bahkan menjadikan problematika pemuda saat ini sebagai suatu yang penting dan butuh solusi untuk segera ditindak dengan membuat kebijakan demi  mengembalikan pemuda menjadi manusia yang bermartabat.

Melihat fakta seperti ini, justru penguasa telah gagal mengurai akar masalah pemuda. Banyaknya pemuda terjerumus pada pergaulan bebas, tawuran, narkoba dan kemaksiatan lainnya tidak lain  sebagai dampak diterapkannya sistem kapitalis sekuler di negeri ini. 

Dengan ide sekulerisme yang memisahkan antara agama dan kehidupan menjadikan pemuda saat ini telah kehilangan jadi dirinya sebagai seorang Muslim. Pemuda yang menjadi tumpuan bangsa di masa yang akan telah rusak dan jauh dari nilai-nilai Islam. 

Dari sini jelas bahwa sistem kapitalis sekuler yang sejatinya telah menjerumuskan pemuda pada kemaksiatan yang merugikan dirinya, lingkungan bahkan negara. Dan tidak ada kaitannya dengan ajaran khilafah yang dianggap menjadikan pemuda radikal sehingga bersikap arogan, intoleransi dan berbagai tuduhan yang disematkan bagi pengusung ide Khilafah.

Ketika penguasa membuka mata dan hati sehingga mampu menyadari bahwa biang kerusakan pemuda bukanlah khilafah seperti yang mereka tuduhkan selama ini dan menemukan bahwa justru sistem yang diterapkan saat ini maka penguasa tidak akan takut terhadap penerapan khilafah yang merupakan bagian dari ajaran Islam.

Penguasa juga seharusnya menyadari bahwa khilafah sebagai sistem pemerintahan Islam justru ketika diterapkan akan membawa keberkahan, termasuk untuk mengatasi masalah pemuda saat ini.

Islam mempunyai aturan yang komprehensif untuk mengatur kehidupan ini sehingga ketika pemuda berpegang teguh terhadap ajaran Islam justru akan menjadi pemuda yang tangguh dan penuh tanggungjawab karena mereka akan menyadari bahwa apa yang dilakukan di dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.

Pemuda sebagai pelopor perubahan peradaban memiliki peran yang vital dalam perjuangan mengganti peradaban rusak menjadi peradaban gemilang. Sebagaimana sosok sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiya'anhu yang memiliki peran dalam proses perubahan peradaban Islam dari peradaban yang rusak di Mekah. Disamping Ali bin Abi Thalib Radhiya'anhu itu juga berperan dalam aksi sukses hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah sehingga terwujud cikal bakal peradaban Islam yang gemilang.

Maka, tidak ada cara selain dengan menerapkan aturan Islam maka segala problem kehidupan akan teratasi. Jadi sudah saatnya jauhi Islamofobia dan campakkan sistem kapitalis sekuler yang nyata tidak sesuai dengan Islam dan menghancurkan masa depan anak bangsa.



Oleh: Zulia Adi K., S.E.
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar