Badai PHK di Industri Startup Dalam Sistem Kapitalisme


TintaSiyasi.com -- Gelombang PHK benar-benar melanda startup di berbagai negara. Pada bulan mei, diestimasi sebanyak 17 ribu karyawan kena PHK di 71 perusahaan start-up di seluruh dunia. 

Dilansir detikINET (14/06/2022) banyak start up besar yang mulai merumahkan karyawannya. Tercatat, start-up besar seperti JD. id, Zenius, Tani Hub, Link Aja turut limbung dihantam badai resesi yang menghantam perekonomian global. 

Bahkan yang terbaru, shopee juga berencana merumahkan sebahagian karyawannya dan menutup beberapa lini usahanya. Hal ini dibenarkan CEO Shopee Chris Feng melalui bocoran memo internal Chris Feng kepada para karyawannya. 

Shopee akan memberhentikan beberapa pekerja di tim ShopeeFood dan ShopeePay di wilayah Asia Tenggara. Mereka juga akan melepaskan bagian dari timnya di Meksiko, Argentina dan Chili, serta tim lintas batas yang mendukung pasar di Spanyol. (Finance.detik.com, 15/06/2022).

Ada banyak spekulasi terkait latar belakang PHK massal yang dilakukan oleh berbagai start up di berbagai negara.  Sebuah analisis menyatakan bahwa badai PHK terjadi karena adanya Bubble Burst. 

Hal ini disampaikan oleh Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini mengatakan, bahwa fenomena PHK massal yang terjadi di sejumlah startup di Indonesia dalam waktu berdekatan ini bisa dibilang sebagai bubble burst. (Kompas.com 29/5/2022).

Analisis berbeda disampaikan oleh akademisi dan praktisi bisnis, Prof. Renhald Kasali yang menyatakan bahwa analisa maraknya PHK di industri start-up up saat ini disebabkan oleh fenomena Bubble Burst adalah pendapat yang kurang tepat. Pasalnya, tidak semua start-up mengalami masalah, bahkan banyak start-up yang terus tumbuh.

Prof. Renald berpendapat bahwa, jumlah PHK yang dilakukan oleh sejumlah start up tidak sebanding dengan jumlah PHK yang dilakukan oleh industri yang lain. Jika saat ini, start up Zenius melakukan PHK terhadap 200 karyawannya, tidak sebanding dengan PHK yang dilakukan oleh Unilever terhadap 2500 karyawannya diseluruh dunia. Bahkan dalam skala yang lebih besar lagi, di tahun 90an, General Electric telah merumahkan 40.000 - 50.000 karyawannya. 

Karenanya, Prof. Rhenald mengingatkan hati-hati dalam menilai fenomena PHK start up yang terjadi sekarang, "jangan jump over conclusion". Butuh dilakukan penelaahan lebih lanjut untuk mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa PHK yang terjadi di industri start up saat ini adalah imbas resesi ekonomi yang melanda dunia. 

Lebih mencengangkan lagi adalah data yang sampaikan oleh Kadin Indonesia, terdapat 15 juta karyawan yang di PHK selama pandemi. Berdasarkan analisa Prof. Renhald, bahwa PHK yang dilakukan oleh industri start up saat ini adalah upaya restrukturisasi agar mampu bertahan ditengah badai resesi yang terjadi saat ini. 

Berdasarkan kedua argumentasi diatas dapatlah kita ambil sebuah kesimpulan bahwa PHK yang melanda industri start up saat ini hanyalah sebahagian kecil dari dampak resesi global. 

Krisis dan Hegemoni Kapitalisme Global dan solusinya dalam islam. 
Tak dipungkiri, bahwa Hegemoni kapitalisme global adalah biang kerok dibalik berbagai macam krisis yang terjadi. Sistem ekonomi kapitalisme, adalah sistem yang sangat rentan untuk terjadi krisis. 

Bahkan, dalam lingkup ekonomi kapitalis, krisis adalah fenomena yang kerap terjadi secara periodik. Sistem ekonomi ribawi ala kapitalisme yang melahirkan bubble economy (gelembung ekonomi) bersifat spekulatif, menjadi sebab tidak stabilnya ekonomi dunia saat ini. Bubble economy menyebabkan ilusi pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi yang menjadi concern ekonomi kapitalisme hanya berfokus pada angka. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi 2021 secara year-on-year, yaitu 3,7 persen. PDB per kapita Indonesia naik dari Rp57,3 juta pada 2020 menjadi Rp62,2 juta pada tahun ini atau setara dengan US$4.349 per tahun. (m.bisnis.com, 17/22/2022).

Sementara, kenyataan dilapangan menunjukkan badai PHK yang menggila, kemiskinan terjadi dimana-mana, bahkan krisis pangan juga melanda negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini. 
Kondisi ini sungguh bertolak belakang dengan islam. 

Konsepsi dasar ekonomi Islam berfokus pada perwujudan pendistribusian harta kepada rakyat agar harta tidak hanya beredar di segelintir pihak saja. 

Sebagai mana firman Allah, 
 مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنْ أَهْلِ ٱلْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ كَىْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنَ ٱلْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ ۚ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Artinya: Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS.Al-Hasyr : 7).

Karenanya, islam mengatur dengan jelas tentang konsep kepemilikan. Islam membagi kepemilikan menjadi tiga, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. 

Negara mencegah  individu menguasai komoditas yang menjadi hajat hidup publik. Hingga tidak akan terjadi kondisi seperti sekarang, 10 persen orang menguasai seluruh kekayaan penduduk diseluruh didunia. 

Sejarah telah mencatatkan tinta emas kegemilangan peradaban Islam dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat.  Will Durant, dalam bukunya Story of Civilization telah mencatatkan bahwa para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. 

Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.

Islam juga memiliki mata uang yang tahan terhadap krisis dan resesi, yaitu dinar dan dirham. Nilai intrinsik dan nilai nominalnya selaras karena mata uang ini termasuk kategori full bodied money. Maka wajar, dimana saja, dan kapan saja nilainya akan tetap stabil.

Islam juga melarang keras praktek pendanaan ribawi dalam segala kondisi termasuk untuk pendanaan pengembangan bisnis. Dalam hal ini, ada baitul mal yang akan mendukung  kebutuhan modal bagi para pengusaha yang ingin mengembangkan usahanya tanpa ada kompensasi yang melanggar nilai syariat. 

Islam juga memiliki konsep syirkah yang bisa menjadi solusi pendanaan bagi para pengusaha perusahaan rintisan (start up) agar bisa mengembangkan usahanya, dapat mempertemukan antara pemodal dengan pemilik modal dengan mekanisme syariah. 

Demikianlah Islam hadir menjadi solusi bagi manusia dalam segala aspek. Islam membuktikan, bahwa syariah mampu menjawab tantangan zaman dengan memberikan solusi yang memuaskan akal, sesuai fitrah dan menenteramkan jiwa. 
Wallahu' alam.


Oleh: Eki N.L.
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar