Polemik Haji Terus Berulang Akibat Tidak Menerapkan Islam


TintaSiyasi.com -- Polemik pemberangkatan jamaah haji seperti tak ada habisnya. Ada saja masalah. Baru-baru ini 17.000 calon jamaah haji mengalami masalah administrasi akibat kelalaian pemerintah yang menjadikan jamaah haji rawan gagal berangkat. 

Padahal masa tunggu keberangkatan sangat lama ditambah dengan penundaan keberangkatan akibat pandemi menjadikan keberangkatan tahun ini benar-benar ditunggu oleh para calon jamaah haji yang berusia 18-65 tahun dan berada pada urutan porsi 50 persen lebih awal.

Sangat disayangkan jika calon jemaah haji yang dikatakan sudah bisa berangkat karena memenuhi prasyarat usia dan nomor porsi tetapi gagal berangkat karena ada masalah administrasi akibat kelalaian pemerintah.

Seperti yang sudah diketahui tahun 2020 dam 2021 terjadi pembatalan keberangkatan calon jamaah haji akibat pandemi Covid-19. Walaupun penyebaran virus sudah jauh berkurang tapi virus Covid-19 ini belum benar-benar hilang. Buktinya ada beberapa negara yang masih melakukan lockdown.

Maka berdasarkan fakta yang berkembang ini, Arab Saudi menetapkan 3 persyaratan administrasi yang harus dipenuhi oleh calon jamaah haji diantaranya : syarat vaksinasi lengkap, PCR 72 jam sebelum keberangkatan, dan syarat usia 18-65 tahun.

Kondisi yang belum stabil ini seharusnya menjadikan pemerintah cekatan dan sungguh-sungguh dalam melakukan para calon jamaah haji dengan asas negara hadir mengurusi urusan rakyatnya. 

Nyatanya ketentuan pemerintah Arab Saudi tidak bisa diantisipasi sejak awal akibatnya ribuan calon jamaah haji menjadi korban ketidaksiapan pemerintah Indonesia. Sampai saat ini para calon jamaah haji yang sudah vaksinasi dosis lengkap belum 100 persen. Padahal itu merupakan prasyarat utama keberangkatan tahun ini.

Pemerintah tidak bisa menyiapkan sejak awal. Para calon jamaah cadangan 2019 dan yang mendapat nomor porsi berangkat tahun 2020 tak kunjung mendapat informasi terkait keberangkatan. Informasi terkesan terlalu mepet karena ketidaksigapan pemerintah. Padahal jamaah kloter pertama sudah berangkat 4 Juni 2022 mendatang. 

Beginilah realita kepemimpinan yang berasaskan kapitalisme. Pemimpin tak pernah hadir secara sungguh-sungguh sebagai pelayan umat dan senantiasa mempermudah urusan umat. Bukankah ibadah haji adalah ibadah wajib dalam Islam bagi yang mampu. 

Ibadah haji termasuk pokok ajaran Islam yang ada dalam rukun Islam. Tentu ini bukan perkara remeh. Penyelenggaraannya harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Penguasa yang menggunakan asas kapitalisme dalam kepemimpinannya hanya akan melahirkan kebijakan yang bervisi kapitalisme. Sehingga dipastikan gagal mengurusi masalah yang tidak terkait mendatangkan keuntungan. Padahal dengan adanya perkembangan teknologi dan informasi seharusnya pemerintah mampu mengatasi kendala yang terkait dengan administrasi penyelenggaraan haji. 

Pemerintah juga seharusnya melakukan negosiasi dengan pemerintah Arab Saudi terkait dengan batasan umur. Namun itu semua tidak dilakukan. Padahal ibadah haji adalah ibadah yang penting dalam ajaran Islam. Pemerintah seharusnya memberi dukungan yang optimal terhadap penyelenggaraannya. 

Pemberian dukungan yang penuh ini seperti yang terjadi dalam pemerintahan kekhalifahan Islam. Diantaranya pada masa Sultan Hamid II dimana beliau membangun infrastruktur dengan membangun jalur kereta api di Hijaz pada tahun 1900. Jalur kereta ini bisa mempendek perjalanan calon jamaah haji dari 40 hari menjadi 5 hari saja.

Beginilah pemimpin yang amanah. Sebagai pemimpin, beliau bisa menjalankan fungsinya sebagai pengatur urusan umat. Pemimpin yang kebijakan-kebijakannya memudahkan urusan umat dalam melakukan kebaikan. Semua didasari pada sistem politik Islam yang bersandar pada Aqidah Islam. Dengan begitu seorang pemimpin akan menyadari bahwa dalam setiap kepemimpinannya akan dimintai tanggung jawab oleh Allah.

Menjadi jelas bagi kita bahwa polemik keberangkatan para calon jamaah haji adalah akibat paradigma kapitalistik. Semua itu terjadi karena tidak menerapkan Islam dalam naungan khilafah islamiyah.



Oleh: Salma Shakila
Analis Muslimah Voice

Posting Komentar

0 Komentar