Normalisasi Kaum Pelangi


TintaSiyasi.com -- Seorang publik figur mengundang pasangan gay di konten podcaster miliknya. Dalam podcast tersebut diberi judul “Tutorial Jadi Gay di Indo”.  Konten tersebut membuat heboh dan ramai kecaman di media sosial. Konten seperti ini bukan pertama kalinya pasangan gay yang diundang. Sebelumnya pasangan lesbian, transgender, menikah sesama jenis, pun telah diundang dalam konten podcast yang dimilikinya.

Saat ini, menormalisasi kaum L6BT sudah banyak dilakukan bahkan diberi panggung. Dengan mengatasnamakan open minded, menghormati hak asasi mereka dan ranah privasi. Terlebih lagi UU TPKS telah disahkan yang akan membuat peluang menormalisasi kaum pelangi semakin terbuka bebas.

Gaungan normalisasi L6BT merupakan proyek dunia dibawah payung PBB. Promosi Kaum pelangi ini telah banyak dilakukan oleh selebriti dan influencer, bahkan di film-film pun ditampilkan dan masuk kedalam nominasi.

Sangat berbahayanya kaum pelangi ini bagi generasi masa depan dan peradaban manusia. Awalnya dianggap biasa-biasa saja. Lama-kelamaan akan dianggap kebiasaan dan akan masuk ke dalam pergaulan remaja.

Semakin nampaknya normalisasi kaum pelangi karena diterapkannya kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi. Hal ini sejalan dengan pendapat Mahfud Md. selaku Menkopolhukam. Mahfud MD. berpendapat bahwa ini negara demokrasi. Negara tak berwenang melarang Dedy Corbuzier menampilkan LGBT di Podcast miliknya. Rakyat pun berhak mengkritik Deddy seperti halnya Deddy berhak menampilkan wawancara dengan LGBT tersebut, (10/5/2022, detiknews)

Inilah bahaya dari sekulerisme pemisahan agama dari kehidupan, terdapat kebebasan dalam berpendapat dan berekspresi. Agama hanya mengurusi bagian ritual saja. Bahkan negara pun lepas tangan jika terdapat kemaksiatan. Ini semua karena negara menerapkan sistem sekulerisme yaitu dalam bentuk demokrasi.

Penyimpangan seksual ini sangat berbahaya jika dibiarkan saja tanpa ada pencegahan. Melihat dari sisi kesehatan, akan menyebarkan penyakit kelamin seperti AIDS, HIV dan sebagainya. Melihat dari sisi sosial, akan semakin meningkatnya kaum pelangi dan jumlah penduduk akan menurun. 

Selain itu, melihat dari sisi agama, akan mendapatkan azab. Hukuman bagi kaum luth ini, telah Allah kabarkan dalam Firmannya sebagai berikut:

"Dan tatkala utusan Kami (Para Malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghacurkan penduduk negeri (sodom) ini. Sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim”. Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya di kota itu ada Luth”. Para malaikat berkata: “Kami  lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan” (QS. Al- Ankabut: 31-32)

Penyimpangan seksual bukan sebuah fitrahey, karena Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan (laki-laki dan perempuan), hal ini terdapat pada fiman Allah sebagai berikut:

“Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan” (QS. An-Naba: 8)

Sebagai seorang Muslim harus memiliki pijakan, apakah mendukung kemaksiatan atau menentang kemaksiatan. Seorang muslim tidak boleh sebagai penyeru, pemberi informasi tentang kemaksiatan. Sebab Allah akan meminta pertanggungjawaban kita setiap pilihan dan tindakan yang dipilih selama di dunia. Rasulullah saw pun bersabda:

“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk (kebaikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan (kemaksiatan), maka dia akan mendapakan dosa orang-orang yang mengikutinya, tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun juga” (HR. Muslim).

Maka sebagai seorang Muslim harus terikat kepada hukum syara. Beramar makruf nahi mungkar. Jika sebuah kemaksiatan secara terang-terangan disebarluaskan, maka sebagai seorang muslim harus mencegah dengan dakwah bahwa kemaksiatan tersebut tidak boleh diterima dan harus ditolak.


Oleh: Nur Ana Sofirotun
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar