Minyak Goreng Masih Mahal, Ekspor CPO Lagi?


TintaSiyasi.com -- Bagai api jauh dari panggang. Walau pasokan dan harga minyak goreng dikatakan stabil, namun tak bisa sepenuhnya dijangkau masyarakat kecil. Kalaupun terjangkau, harus mau memutar dan memeras otak dengan memilah dan menekan pengeluaran. 

 Dikutip dari MetroTVNews.com, setelah sempat menutup keran ekspor CPO, per tanggal 22 Mei 2022, pemerintah kembali membuka keran ekspor CPO. Pasokan dan harga minyak goreng stabil. Ujar Presiden Jokowi pada media. Pemerintah akan membenahi tata niaga produk sawit agar di masa depan kepentingan rakyat tak lagi dipermainkan.

Membenahi tata niaga produk sawit dengan menerbitkan aturan DMO (Domestic Market Obligation) dan DPO (Domestic Price Obligation), sebagai langkah untuk menjamin ketersediaan bahan baku minyak goreng dan keterjangkauan harga di masyarakat, disampaikan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat (20/5/2022).

Industri rumahan sampai tukang gorengan, terpaksa menaikan harga dagangan. Bahkan Ramadan tahun ini, digadang-gadang sebagai Ramadan pengukir sejarah. Gorengan lima ribu empat. Miris. Terjadi di bulan suci, di negeri penghasil CPO terbesar di dunia. 

Dampak pandemi yang belum seratus persen pergi, tentu mengakibatkan daya beli masyarakat rendah. Angka pengangguran masih tinggi, belum lagi distribusi BLT yang belum merata. Lalu mengapa masih memaksa ekspor CPO segala? 

Pusaran si Raja Minyak

Seperti cerita sinetron, ada si Poltak raja minyak. Konglomerat karena menguasai perusahaan minyak, menjadi raja karena minyak. Kuasa menyetir pasar. Sampai-sampai minyak goreng langka bila tak mau disebut tak ada. Ramai pemberitaan terendus adanya praktik mafia, sehingga pemerintah segera bergerilya menemukan para pelakunya. Tak berapa lama tertangkap lah. Sayangnya beberapa pelaku adalah bagian dari pusaran penguasa. 

Indrasari Wisnu Wardhana, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan disebut sebagai pelaku yang sudah ditangkap dan dipenjara. Menyusul di tanggal 18 Mei 2022, Kejaksaan Agung menetapkan Lin Che Wei sebagai tersangka kasus tindak pidana korupsi dalam pemberian fasilitas ekspor minyak goreng atau crude palm oil (CPO). Diketahui Lin Che Wei merupakan salah satu anggota tim asistensi di Kementerian Koordinator Perekonomian, di bawah Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. (suara.com) 

Adapun tiga tersangka lainnya dari pihak swasta, yakni Komisaris PT. Wilmar Nabati Indonesia berinisial TS, Senior Manager Corporate Permata Hijau Group berinisial SMA, General Manager PT. Musim Mas berinisial PT. 

Rakyat Masih Tercekik

Guna menstabilkan data beli masyarakat akibat naiknya harga minyak goreng, pemerintah menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai Minyak Goreng sebesar Rp. 7, 5 triliun. Bagi penerima BLT sampai pedagang mendapatkan Rp. 300 ribu lewat HP di cekbansos.kemensos.go.id. (depok.pikiran-rakyat.com) 

Memang sedikit membantu, di tengah kehidupan masyarakat kecil yang tercekik. Sayangnya, pencairan pernah tiga bulan. BLT Migor Rp. 300 ribu, adalah akumulasi bantuan Rp. 100 ribu untuk periode April sampai Juni 2022. 

Apa namanya, membiarkan rakyat kelaparan selama tiga bulan, lalu diberi sedikit makanan yang bernama bantuan? Dan masih banyak yang menjerit, sebab belum juga mendapat jatah penerima bantuan. 

Negara Kapitalis Tak Humanis

Keberpihakan pemerintah pada para pemilik usaha, nyata. Di tengah jeritan rakyat, penguasa seperti tak ada dosa mengambil kebijakan yang hanya menguntungkan para koleganya. Membuka kran ekspor CPO, sama seperti tak punya hati nurani. Di saat yang sama, malah gencar mengaruskan isu moderasi agama (baca:Islam), membiarkan masifnya kaum pelangi mencari pengakuan eksistensi. Belum lagi masalah gurita korupsi, narkoba, kriminal dan kasus lainnya yang menunggu solusi, malah seakan semakin menjadi-jadi. 

Kesemua permasalahan yang mencolok mata, tak ubah seperti angin lalu yang menerpa wajah para penguasa. Yang jadi pertimbangan hanya keuntungan yang bisa mempertahankan kekuasaan. Termasuk bukan tutup kran ekspor minyak goreng. Sorotan masyarakat pada pemerintah yang dulu tetap mengizinkan ekspor CPO di tengah situasi kelangkaan minyak goreng di dalam negeri, menjadikan pemerintah sempat menutup kran ekspor yang saat ini dibuka lagi. 

Begini hidup di negara yang mengusung sistem Kapitalis yang bersinergi dengan kepentingan aseng dan asing. Belum lagi cengkraman global dari negara adi daya Kapitalis Sekularis, Amerika dan kawan-kawannya. Modal, kekuasaan telah menggerus kemanusiaan. Wajar bila disebut bahwa negara kapitalis menang tak humanis. Lalu, adakah yang bisa mewujudkan harapan masyarakat untuk dimanusiakan?

Khilafah Pengayom dan Pengurus Umat

Bila negara pengusung sistem Kapitalis sedang menorehkan sejarah ketertindasan, sistem Islam kebalikan. Tinta emas sejarah terukir gemilang. Khilafah Islamiyah merupakan sistem pemerintahan Islam pernah berjaya tiga belas abad lamanya. Khilafah Islam pemelihara dan pelaksana seluruh aturan Allah SWT. 

Masyhur kisah khalifah Umar bin Khattab, sosok pemimpin umat yang rela memanggul bahan makanan, memasak sampai menyuguhkan makanan pada keluarga miskin yang diketahuinya sedang memasak batu karena kelaparan. Umar ra, senantiasa khawatir bila di masa kekuasaannya, ada keledai yang terperosok akibat jalan yang berlubang. Serigala pun tak memakan domba, akibat perutnya yang kenyang. 

Dia kisah yang cukup mewakili. Binatang saja diperhatikan, apalagi manusia. Orang perbuatan orang diperhatikan. Semua itu karena tuntutan iman. Islam menyebut, seorang pemimpin bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Pertanggungjawaban berat, karena harus mengayomi dan mengurusi urusan umat.

Pengayoman dan pengurusan dalam semua hal. Termasuk pengadaan dan pendistribusian kekayaan untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Maka, menjadi kewajiban negara menyediakan. Untuk minyak goreng (sebagai salah satu kebutuhan dasar), negara bisa memproduksi sendiri, atau membeli dari perusahaan swasta di dalam negeri atau luar negeri dengan catatan tak berkelanjutan dan dalam satu perjanjian. 

Tidak ada transaksi demi mendapatkan profit (misalkan dengan mengekspor ke luar negeri), melainkan mengerahkan segala daya agar mencipta kesejahteraan bagi rakyatnya. Tentu ini lah solusi yang hakiki. Solusi yang bisa dipilih umat dengan mencampakkan sistem Kapitalis saat ini. Bersama-sama berusaha mengembalikan sistem kehidupan di bawah naungan Islam. Itu yang akan menyelamatkan. Semoga tak lama lagi terjadi. Aamiin

Oleh: Sri Ratna Puri
Penggiat Opini Islam

Posting Komentar

0 Komentar