Menyikapi Standar Hidup Berbeda


TintaSiyasi.com -- Banyak orang ingin pulang mudik, tetapi trauma dengan situasi buruk yang berulang. Kondisi yang masih serba kurang, apalagi bila dikaitkan dengan keberhasilan saudara yang lain, tentu akan membuat kita merasa tidak nyaman bertemu saudara dan handai taulan. 

Mudik tahunan yang seharusnya menjadi momen yang membahagiakan, bisa tiba-tiba berubah menjadi ladang penyiksaan ketika pencapaian materi sudah mulai diperbandingkan. Mungkin tidak secara eksplisit dan sengaja untuk direkayasa demikian, namun tetap saja efeknya sangat tidak mengenakkan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa standard penilaian yang dipergunakan masyarakat saat ini adalah materi. Kebahagiaan, kesuksesan, kehormatan, keberhasilan, bahkan kesalehan seseorang, semua seringkali dikaitkan dengan jumlah materi yang dipunyai. 

Hal ini telah berhasil ter-install dan menjadi kesepakatan bawah sadar masyarakat yang hidup bersama dalam kehidupan yang bercorak kapitalistik seperti sekarang ini, sehingga parameter materi itulah yang otomatis terbaca sebagai ukuran kebahagiaan dalam kehidupan.

Sementara itu didalam Islam standard normatif yang dipergunakan untuk menilai  seseorang adalah ketaqwaan. Siapa yang lebih taat dalam menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi seluruh larangan-Nya akan disebut sebagai orang yang lebih mulia.

Secara empiris penghormatan dan penerimaan masyarakat Islam terhadap seseorang juga sama sekali tidak berhubungan dengan keberhasilan materi berbeda dengan budaya umat-umat sebelum nya. Oleh karena itu dalam kehidupannya, umat Islam terbiasa menjadikan materi sebagai alat untuk berbagi dan berkasih sayang alih-alih sebagai sarana persaingan dan pencapaian.

Ketika umat Islam hidup didalam sistem kehidupan yang bercorak sekular kapitalis seperti sekarang ini sangat mungkin untuk menggunakan standar hidup yang sama dengan standar sistemnya, yaitu materi. Namun demikian sebagai pengemban dakwah, penggerak perubahan, serta penggenggam peradaban, tidak selayaknya kita larut serta hanyut ketika berada dalam situasi yang memang tidak sesuai dengan Islam tersebut.

Yang harus kita lakukan adalah mensikapi kondisi lingkungan keluarga yang memposisikan penerimaan dan kemulian seseorang secara materi dengan bijaksana. Bahkan kita usahakan untuk tetap melakukan perubahan semampunya  karena disitulah inti dakwah sesungguhnya. Lalu, bagaimana caranya? 

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar tidak terjebak dalam situasi yang selalu berulang.

Pertama, pahami bahwa situasi tersebut adalah qadha. Secara i'tiqadi, harus selalu kita ingatkan pada diri kita bahwa Ar Rizqu minallah. Termasuk bahwa sesungguhnya tingkat ekonomi hanyalah pemberian dari Allah SWT semata, bukan menunjukkan keberhasilan atau kegagalan hidup mereka. 

Dengan menerima kondisi ini sebagai qadha, maka kita menjadi lebih bisa menerima pandangan maupun sikap orang lain terhadap kita. Tentu saja hal itu bisa membuat kita lebih percaya diri untuk membaur bersama keluarga besar ketika momen lebaran tiba.

Kedua, menyiapkan diri. 
Pada wilayah mukhayyar kita harus melakukan persiapan sebelum mudik. Kita perlu mengenali potensi yang akan menjadi bahan kritik dan siapa yang mengkritik serta mempersiapkan trouble shooting nya. 

Misalnya anak-anak anda mungkin tidak sepintar anak-anak kakak anda atau istri anda tidak serajin istri adik anda, misalnya. Kenali kondisi ini dan segera lakukan persiapan sebelum pulang mudik. Siapkan jawaban pula ketika orang yang biasa mengkritik melemparkan kritikannya. Hal ini membuat kita lebih ringan dan bisa tetap berinteraksi dengan ceria. 

Ketiga, jadikan diri kita sebagai subject bukan sebagai korban. Barangkali ada diantara anggota keluarga besar yang memberikan kontribusi terbesar pada keluarga dan merasa berkuasa. Anggota lainnya mungkin akan merasa terintimidasi dan akhirnya menarik diri dari pergaulan sehari-hari.

Usahakan kita jangan terprovokasi sehingga menjadi objek bully, namun tutupilah kelemahan finansial tersebut dengan partisipasi dalam hal lainnya tanpa tekanan. Misalnya salurkan keahlian memasak anda dengan menyiapkan hidangan untuk semua. Ini akan membuat posisi anda jauh lebih nyaman.

Keempat, lakukan kebaikan-kebaikan yang biasa keluarga anda lakukan ketika berada dirumah. Misalnya, apabila anda biasa membaca Al-Qur'an setiap selesai shalat subuh dan Maghrib maka tetaplah anda lakukan.

Dengan tetap melakukan kebiasaan-kebiasaan baik kita akan merasa dirumah sendiri. Jangan hanya karena berada bersama keluarga besar, kebiasan baik itu justru kita tinggalkan, karena hal tersebut justru akan menyulitkan diri kita mengenali identitas kita sendiri.

Nah, dengan upaya ini semoga kita bisa mudik dengan nyaman tanpa harus merasa minder dan teragitasi perasaannya sehingga kita bisa pulang setiap tahun dengan nyaman dan gembira bersama keluarga meskipun memiliki standard yang berbeda. Wallahu a'lam bishshawwab

Posting Komentar

0 Komentar