Mari Meraih Kemenangan Hakiki


TintaSiyasi.com -- الله اكبر الله اكبر الله اكبر
لا اله الا الله والله اكبر 
الله اكبر و لله الحمد

Gema takbir berkumandang di seluruh jagad raya begitu syahdu menusuk kalbu. Alhamdulillah akhirnya kaum muslim dapat menikmati meriahnya Idul Fitri setelah hampir 3 tahun dihadang pandemi Covid-19 hingga mudik tertahan. 

Bukan hanya mudik, tapi kegiatan keagamaan lainnya pun terhambat oleh aturan menjaga jarak, membatasi mobillitas, syarat vaksin, dan sebagainya.

Bukan hanya berjibaku menghadang virus Corona, tetapi juga berjibaku menghadang arus islamofobia yang kian merajalela dengan berbagai varian yang lebih berbahaya dibanding varian Covid-19. 

Yang terbaru adalah kegaduhan akibat status medsos yang mengandung SARA dan menghina ajaran Islam dari Rektor ITK (Institut Teknologi Kalimantan) Prof Budi Santoso Purwokartiko pada 27 April 2022. (CerdikIndonesia.com, 30/04/2022).

Tentu kita juga masih ingat saat penentuan awal Ramadhan yang masih saja setiap tahunnya terjadi perbedaan. Begitupun saat penentuan satu syawal. Minimnya pemahaman akan Islam kaffah menjadikan pengagungan terhadap nasionalisme sehingga penentuannya bukan berdasarkan hilal global. 

Padahal sudah sangat jelas Allah SWT. Meminta kita untuk berpuasa dan berbuka karena rukyatul hilal. Jika kita melihat hilal Ramadhan maka kita berpuasa dan jika melihat hilal Syawal maka kita pun berbuka, di negara manapun hilal tersebut terlihat. 

Betapa sulitnya sekedar menerapkan syariat Islam dalam ritual ibadah, apalagi di bidang lain yang sudah jelas dipisahkan dari agama. Di antaranya dalam bidang ekonomi dimana rakyat harus bekerja ekstra lagi karena lonjakan harga berbagai bahan kebutuhan, mulai minyak goreng, gas elpiji, BBM, dan lain-lain. Sedangkan penghasilan tidaklah ikut-ikutan naik. 

Bahkan masyarakat yang masuk dalam ekonomi menengah saja banyak yang kini menjadi ekonomi rendah/ bawah. Pengangguran semakin banyak, kesejahteraan sosial pun semakin susah didapat. Berbagai kerusakan dan kerusuhan timbul, mulai dari pembegalan, KDRT, pelecehan serta kekerasan seksual, dan masih banyak lagi.

Memang penerapan syariat Islam tidak akan sempurna tanpa adanya tiga pilar yang mendukungnya, yaitu individu, masyarakat, dan negara. Yang dapat memudahkan fungsi tiga pilar tersebut adalah adanya peran penguasa. Hal ini menunjukkan begitu urgentnya peran agama dan penguasa berdampingan seiring sejalan, karena agama dan penguasa ibarat saudara kembar. 

Imam al-Ghazali memberikan keterangan hubungan antara Islam dan kekuasaan. Dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin, beliau mengatakan : “Agama dan kekuasaan adalah seperti dua orang saudara kembar, keduanya tidak boleh dipisahkan. Jika salah satu tidak ada, maka yang lain tidak akan berdiri secara sempurna. Agama adalah asas sementara kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa adanya asas akan rusak dan jika tidak dijaga, ia akan hilang.” (Ihya’ ‘Ulumuddin, 1/17).

Namun kini telah 101 tahun saudara kembar tersebut dipisahkan oleh sistem kapitalis. Kapitalisme dengan akidah sekulernya telah mengabaikan hukum-hukum Allah dalam mengatur dan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. 

Padahal Allah SWT. Berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 59).

Sebagian besar ulama tafsir, seperti Imam ath-Thabari, menjelaskan makna kembali kepada Allah dan Rasul adalah kembali pada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Imam Ibnu Katsir rahimahulLâh bahkan menegaskan bahwa siapa saja yang tidak berhukum pada Al-Qur’an dan as-Sunnah pada hakikatnya dia bukanlah orang yang benar-benar mengimani Allah dan hari akhir.

Untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah yakni Al-Qur’an dan as-Sunnah, umat Islam membutuhkan keberadaan institusi politik Islam. Itulah Khilafah Islam. Tanpa Khilafah umat Islam mustahil secara kaffah (totalitas) menerapkan seluruh syariat Islam. Tanpa Khilafah, umat Islam tidak memiliki pelindung. Pasalnya, salah satu kewajiban utama Khalifah adalah melindungi umat. 

Nabi SAW. Pernah bersabda, “Sungguh Imam (Khalifah) itu adalah perisai. Umat berlindung di belakangnya dan akan dijaga oleh dirinya.” (HR Muslim).

Mari kita jadikan moment hari Raya Idul Fitri ini sebagai momentum untuk membuktikan diri bahwa kita adalah umat yang layak dan berhak untuk disebut sebagai umat yang bertakwa di hadapan Allah SWT., yang siap tunduk secara total kepada syariat-Nya demi menjemput janji Allah akan hadirnya Sang pembela umat Islam, dialah khalifah dalam naungan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.
Wallahu’alam bishshawab.


Oleh: Imas Royani, S.Pd.
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar