L68T Diberi Panggung, Potret Smart ala Liberalisme


TintaSiyasi.com --  Sekalipun podcast ini sudah dihapus, jagad maya sontak gempar dengan podcast berjudul kontroversial. DeddyCorbuzier banjir kecaman sejumlah netizen di media sosial Twitter lantaran dinilai podcast-nya dengan Ragil dan Fred tidak mengedukasi. Banyak dari netizen yang mempermasalahkan thumbnail dan judul podcast Deddy Corbuzier tersebut. 

Mereka menilai jika judul yang Deddy sematkan seolah-olah mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadi penyuka sesama jenis. Seperti kita ketahui bahwa Ragil Mahardika adalah pasangan gay, dia menikah dengan Frederik Vollert pada 2018. Pernikahan Ragil Mahardika dan Frederik Vollert dilakukan di negara Jerman, setelah Pemerintah Jerman mengesahkan UU LGBT di akhir 2017. (ayoindonesia.com, 9/5/2022).

LGBT Bukan Bawaan

LGBT tidak terbukti secara ilmiah merupakan fenomena dari faktor gen. Pada 1999, Prof. George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, bersama timnya melakukan riset terkait hal itu. Hasil penelitian mereka mengungkap tidak adanya kaitan gen Xq28 yang dikatakan mendasari homoseksualitas pria. Penelitian juga dilakukan oleh Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago, di tahun 1998-1999.
Hasilnya juga tidak mendukung teori hubungan genetik pada homoseksualitas. Sehingga, perilaku LGBT bukanlah karena faktor bawaan, bukan faktor keturunan.
Dikasih Panggung LGBT Bertameng 

Kebebasan dan HAM

LGBT atau lesbian, gay, biseksual, dan transgender adalah kelainan seksual yang sebenarnya disebabkan oleh faktor eksternal dan penyimpangan ini pertama kali muncul pada saat zaman Nabi Luth. LGBT ini menjadi masalah yang serius karena yang sudah menyebar di masyarakat dan dilakukan oleh berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. LGBT diketahui sebagai gerakan global dengan dukungan dana yang besar, serta adanya campur tangan asing didalamnya, sehingga LGBT memiliki akses hukum, memobilisasi masyarakat untuk menerima keberadaan LGBT dan mendorong perubahan kebijakan yang menjamin hak LGBT, termasuk pengesahan pernikahan sejenis. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah menghapus LGBT dari daftar penyakit mental (Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders). Menurut mereka LGBT perilaku normal bukan kelainan mental. Bahkan sebagai wujud pengakuan LGBT, kini telah ditetapkan hari Gay sedunia dan ada 30 negara yang membolehkan pernikahan sejenis.
Dalih kebebasan yang dianut negara membuat individu menjadikannya tameng untuk dibenarkan. Hal yang tidak biasa, ditolak namun dipaksa menjadi biasa, semakin diberi panggung di area publik dengan pemakluman. Yang penting perilaku seksual yang terjadi aman, nyaman dan bertanggung jawab. 

Masyarakat lantas dituntut toleran terhadap perilaku menyimpang LGBT. Selain itu setiap orang bebas untuk mengekspresikan diri, dan itu adalah bagian dari HAM. Dari sudut pandang kebebasan dan HAM, pelaku LGBT hanya mengekspresikan orientasi seksual dan identitas gender yang jadi pilihannya sebagai bagian dari hak asasinya. Berdasarkan dalih kebebasan dan HAM itu, penentangan atas perilaku LGBT kemudian dianggap sebagai pelanggaran HAM.

Mirisnya, panggung ini kini malah diberi dari ‘famous people’ yang katanya ’smart’. Smart ala sistem hari ini, tak dipungkiri mengarahkan dan membalut segala ekspresi untuk pembenaran, keuntungan diri pribadi menjadi target. Tidak peduli sekalipun itu terlarang dan merugikan orang lain.

Islam sebagai Solusi Tuntas

Ide kebebasan dan HAM menjadi dasar dan digunakan sebagai pembenaran perilaku seks menyimpang, termasuk perilaku LGBT, adalah ide yang menyalahi dan bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, manusia tidak sebebas-bebasnya sesuka hati sesuai hawa nafsu melakukan perbuatan segala sesuatu melainkan terikat dengan hukum syara’. Benar-benar menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai sumber hukum.

Dengan tegas Allah menyatakan, fitrah manusia diciptakan dengan dua jenis, laki (dzakar) dan perempuan (untsa) (Q.S. al-Hujurat: 13). Allah pun memberikan kepada masing-masing syahwat kepada lawan jenisnya  (Q.S. Ali Imran: 14). Karena itu, Allah menetapkan, bahwa mereka dijadikan hidup berpasangan dengan sesama manusia, pria dengan wanita.

Adanya gharizah nau' yang Allah ciptakan bersamaan dengan penciptaan manusia dengan tujuan melestarikan jenis. Selanjutnya Allah Swt menetapkan aturan-aturan dalam syariat Islam bagaimana caranya agar nalurinya terpenuhi dan tidak boleh dipisahkan dari tujuan penciptaan naluri tersebut.  Satu satunya cara yang di syariatkan melalui Pernikahan yang  sakinah, mawaddah wa rahmah (Q.S. ar-Rum: 21). 

Rasul SAW bersabda:
«مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ »

Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (homoseksual) (HR at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).
Perilaku transgender juga merupakan perilaku yang dilaknat dalam Islam. Ibnu Abbas ra. mengatakan:

«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ »

Rasulullah SAW telah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Perilaku yang sudah menyebar luas di masyarakat ini tidak bisa diselesaikan secara individu saja. Butuh pengawasan dan control yang lebih besar dari itu. Negara sebagai perisai harus bisa bertanggung jawab dan melindungi rakyatnya agar tidak terjerumus dan perilaku menyimpang yang bisa merusak setiap individu diiringi dengan hukum yang tepat dan semua itu hanya ada dalam Islam.

Secara sistemis negara harus turut serta untuk (1)  menghilangkan pornografi dan pornoaksi yang melibatkan media cetak ataupun elektronik, (2) menerapka naturan pergaulan Islam serta membuat kebijakan sosial Islam.(3) Pengadilan dalam pemerintahan Islam menerapkan hukuman sesuai hukum syara yang memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah bagi yang belum melakukan. 

Namun untuk mewujudkannya, tidak bisa dalam negara yang menganut sistem sekularisme memisahkan agama dari kehidupan seperti sekarang ini. Karena sekularisme hanya menempatkan agama dan hukumnya sebatas ibadah mahdhoh saja sedangkan urusan kehidupan lainnya tidak menggunakan hukum Islam. Untuk itu musti kembali pada kehidupan Islam, menjadikan al Quran dan As Sunnah sebagi sumber hukum secara totalitas dalam bingkai Khilafah Islamiah.

Oleh: Indi Yan Sirfefa
(The Voice of Muslimah Papua Barat)

Posting Komentar

0 Komentar