L68T Buah dari Kebebasan Demokrasi

TintaSiyasi.com -- Warganet ramai memperbincangkan Deddy Corbuzier yang mengundang pasangan gay (Ragil Mahardika dan Frederik Vollert) ke podcastnya beberapa hari lalu sehingga dirinya menjadi trending topic di Twitter. Tidak hanya itu, mantan pesulap ini juga panen hujatan. Banyak dari netizen merasa kecewa dan mengolok-ngoloknya. Pasalnya, DC populer dengan jargonnya “Don’t make stupid people famous”. Namun dengan tindakannya mengundang pasangan gay tersebut, DC justru menjadi kontras terhadap jargonnya dan dianggap memberikan ruang ekspresi untuk pelaku LGBT. Astagfirullah.


Tentang LGBT

Untuk memahami bahwa penyimpangan orientasi seksual merupakan sebuah kekeliruan itu tidak perlu menjadi pintar dulu. Namun, dengan bekal akal dan hati yang normal sudah bisa memberikan jawabannya bukan?

Akan tetapi pada kenyataannya justru sebaliknya, sudah dari lama kaum LGBT selalu diupayakan mendapatkan ruang di publik dan berbagai dukungan mulai dari pemerintah Indonesia maupun internasional. Bagaimana tidak, pada tanggal 6-9 November 2006 ada pertemuan 29 pakar HAM di UGM Jogya yang melahirkan “Prinsip-Prinsip Yogyakarta” yang mendukung LGBT dan pada tahun 2011 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pertama kalinya menyatakan mendukung hak kaum gay, lesbian, dan transgender. Dukungan tersebut bahkan telah disahkan, dalam sidang Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) di Jenewa, Swiss (Lipitan6.com). Bahkan di Indonesia di tahun 2016, kaum LGBT dilindungi oleh polisi sebagaimana mandat dari presiden jokowi (BBB.com). Kucuran dana untuk komunitas ini juga gak main-main, dilansir dari detik news pada tahun 2016 sebuah badan PBB, United Nations Development Programme (UNDP) kucurkan dana untuk dukung LGBT sebesar US$ 8 juta (sekitar Rp 108 miliar) yang fokus ke empat negara: Indonesia, China, Filipina dan Thailand.  

Ditambah lagi belum lama ini Indonesia telah ditimpa musibah pemikiran politik, yaitu disahkannya UU TPKS, yang mana secara implisit undang-undang ini melegalkan zina hingga penyimpangan seksual, ya sebab keberadaan undang-undang ini mengizinkan seks bebas dan penyimpangan seksual selama ada persetujuan (sama-sama ridha) dari pihak pelaku seksual ini. Alih-alih menyelesaikan masalah kekerasan seksual yang mewabah, keberadaan undang-undang ini justru akan membuka pintu kebebasan dan kerusakan baru di tengah masyarakat. Na’udzubillah mindzalik.

Tidak kalah dengan di dunia nyata, media juga turut membuka pintu atas legalisasi LGBT sebagaimana dilakukan oleh selebritas atau pengguna sosmed baik sebagai pelaku maupun pendukungnya secara terang-terangan. Jadi disadari atau tidak, tindakan kemaksiatan dan penyimpangan di tengah masyarakat semakin santer, apalagi mereka ini dipayungi oleh hukum. Inilah realita LGBT dalam iklim demokrasi, perilaku yang keji ini bukannya di berantas sampai ke akarnya malah tumbuh dengan baik dan subur. Oleh karena itu, semestinya kita harus lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap kampanye LGBT. Sebab LGBT adalah gerakan global bukan sekedar personal. Tidak hanya sampai di situ, ada bahaya yang lebih besar dan menjadi akar masalahnya yaitu sekuler-demokrasi, dia yang membuka semua bentuk kebebasan yang melahirkan kerusakan dan penyimpangan dalam tatanan kehidupan.


L68T Tak Seindah Benderanya

Allah SWT berfirman tentang perilaku penyimpangan orientasi seksual, “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, "Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?" Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kalian ini adalah kaum yang melampaui batas." (TQS. Al-A’raf: 80-81). Bahkan baginda Rasulullah SAW menegaskannya sampai tiga kali bahwa perbuatan ini terkutuk. Sabda Nabi SAW: ”Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth.” (HR Ahmad, no 2817).

Islam memandang LGBT sebagai kriminal dan pelakunya harus dihukum dengan sanksi tegas. Selanjutnya, menurut para ulama ahli fiqih sepakat bahwa LGBT hukumnya haram dan hukuman yang dijatuhkan juga tidak main-main. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: " Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, maka bunuhlah keduanya.” (HR. Al Khamsah, kecuali an Nasa’i).

Yang harus kita ingat Allah sangat murka, bukan saja pada pelaku maksiat, tapi juga siapa saja baik Muslim atau kafir yang ikut menyebarkan perbuatan maksiat, meskipun dia tidak melakukannya. Allah berfirman dalam surat an Nur ayat 19: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Dan kita juga menyimak firman Allah surat at Tahrim ayat 10. Yang mana mengisahkan istri dari Nabi Luth yang berkhianat yaitu memberitahu tentang kedatangan tamu-tamu lelaki tampan Nabi Luth ke kaumnya dan caranya dengan membuat asap. (Kitab tafsir al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an). Penghianatan istri nabi hanya sekadar memberitahu, bagaimana dengan yang mengajari, memberikan tutorial, dan mendukung?

Maka dengan situasi saat ini, kita harus meningkatkan iman dan takwa serta semakin kuat berpegang teguh pada ajaran Islam kaffah. Lalu tak lupa untuk menjadi bagian yang mendakwahkan Islam kaffah. Sebab kriminalitas terjadi bukan hanya karena godaan setan semata, tapi juga karena ada kesempatan. Dan hanya khilafahlah yang mampu menutup rapat pintu-pintu kemaksiatan dan mencabut sampai ke akarnya. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Siti Latifah Tusalimah
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar