Kekerasan Seksual Terus Meningkat, Islam Solusi Tepat

TintaSiyasi.com -- Kasus kekerasan seksual atau pemerkosaan tak pernah luput dari pemberitaan. Kasus demi kasus selalu muncul di berbagai daerah di negeri ini. Salah satunya, kasus pemerkosaan yang terjadi pada seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) asal Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).  
Korban (15) diduga diperkosa berulang kali seusai diajak berlibur lebaran oleh seorang pria hidung belang berinisial SW (22), pada Sabtu (07/05/2022). Menurut Kasi Humas Polres Lombok Timur, Iptu Nicolas Oesman, korban bersama kedua orang tuanya sudah memberikan keterangan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Lombok Timur (detik.com, 10/05/2022).

Kekerasan seksual atau pemerkosaan saat ini sudah seperti fenomena gunung es. Banyak kasus terjadi yang telah dilaporkan, namun banyak pula kasus yang tidak dilaporkan. Hal ini seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah agar kasusnya tidak terus bertambah. Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2022, terdapat 338.496 kasus kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan. Dengan rincian; pengaduan ke Komnas Perempuan sebanyak 3.838 kasus, lembaga layanan sebanyak 7.029 kasus, dan BADILAG sebanyak 327.629 kasus. Ada peningkatan signifikan sebesar 50 persen KBG terhadap perempuan. Dari 226.062 kasus pada 2020 menjadi 338.496 pada 2021.

Lonjakan sebesar 52 persen terjadi pada data BADILAG yakni, 215.694 kasus pada 2020 menjadi 327.629 kasus pada 2021. Data pengaduan ke Komnas Perempuan juga meningkat secara signifikan sebesar 80 persen, dari 2.134 kasus pada 2020 menjadi 3.838 kasus pada 2021 (komnasperempuan.go.id, 08/03/2022).

Sungguh memprihatinkan kasus kekerasan seksual dari tahun ke tahun bukannya menyusut, justru terus meningkat. Padahal negara ini adalah negara hukum, namun payung hukum kekerasan seksual yang ada belum mampu meredam, sehingga menjadi potensi kejahatan ini terus berulang. Meski DPR telah mengesahkan UU TPKS yang dianggap sebagai solusi terhadap kekerasan seksual, namun faktanya UU ini menuai kontroversi dan masih banyak kekurangan.
Yang menjadi persoalan dalam UU ini salah satunya adalah paradigma sexual consent (adanya persetujuan). Sehingga jika tidak ada persetujuan untuk melakukan hubungan seksual dianggap sebagai pemerkosaan atau serangan seksual. Jika dilakukan suka sama suka, maka tidak menjadi persoalan. Dengan demikian, UU ini tak lain memberi payung hukum bagi perzinaan.

Maraknya kasus kekerasan seksual sesungguhnya akibat sistem kapitalisme yang berlandaskan sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan). Sistem kehidupan sekuler yang mengakar di tengah masyarakat telah membentuk individu-individu yang cenderung menginginkan kebebasan dalam kehidupannya. Sistem ini telah membentuk manusia-manusia yang tidak mau terikat hukum syarak.

Kebebasan dalam kehidupan menjadikan mereka berbuat sesuka hati, tidak lagi berdasarkan halal haram. Mudahnya mengakses situs porno melalui media sosial berdampak pada meningkatnya kasus kekerasan seksual, karena ketidakmampuan menahan hasrat terhadap lawan jenis. Pergaulan bebas (free sex) pun sudah menyebar hingga ke pelosok daerah.

Maka untuk keluar dari persoalan ini tak lain adalah kembali kepada sistem yang bersumber dari Sang Pencipta yaitu, sistem Islam. Yang mana kita ketahui Islam sangat memuliakan dan menjaga martabat serta kehormatan perempuan. Islam mengharamkan berbagai bentuk kekerasan dan penindasan termasuk kejahatan seksual. Islam melindungi perempuan dari pelecehan melalui aturan-aturan dan kebijakan di antaranya;
Kewajiban menutup aurat yang dijelaskan dalam (QS. An-Nur: 31), berjilbab syari ketika memasuki kehidupan publik (QS. Al-Ahzab: 59), larangan tabaruj atau berhias secara berlebihan (QS. Al-A’raaf: 31 dan QS. Al-Ahzab: 33). Ketika melakukan perjalanan lebih dari 24 jam ada pendampingan dari mahram (ayah, saudara laki-laki, paman, kakek) atau suami jika sudah menikah. Semua aturan-aturan itu dikhususkan untuk menjaga kehormatan dan martabat perempuan.

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bersafar sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahramnya.” (HR. Muslim no.1339).

Selain itu aturan-aturan Islam terkait pergaulan laki-laki dan perempuan yang diterapkan diantaranya, perintah menundukkan pandangan bagi laki-laki (QS. An-Nur: 30) dan perempuan (QS. An-Nur: 31), larangan berduaan (khalwat) dan campur baur antar laki-laki dan perempuan (ikhtilat) tanpa hajat syar’i. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Seorang laki-laki tidak boleh berduaan (khalwat) dengan seorang perempuan kecuali wanita itu bersama mahramnya.” (HR. Muslim).

Islam juga memiliki seperangkat aturan hukum yang tegas. Hukuman dalam sistem Islam selain bisa menimbulkan efek jera bagi pelaku (zawajir) dan mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa, juga bisa sebagai penebus dosa bagi pelaku (jawabir) di akhirat kelak. Hukuman bagi pelaku zina/pemerkosa adalah had.

Jika pelaku zina belum menikah (ghairu muhsan), dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun. Jika pelaku zina sudah menikah (muhsan), dihukum rajam sampai mati. Namun bagi korban pemerkosaan tidak dikenai hukuman had. Dalilnya adalah QS Al-An’am: 145. “Barang siapa dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkan dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Masya Allah, betapa sempurnanya Islam sebagai sistem kehidupan, karena tegak di atas akidah yang lurus, yakni keimanan kepada Allah SWT sebagai Pencipta sekaligus Pengatur. Dengan kembali pada aturan Allah dipastikan mampu menjadi solusi menyeluruh atas problematika yang terjadi selama ini.

Namun, sistem ini hanya bisa tegak jika sistem pemerintahannya menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Oleh karena itu, kita diwajibkan terus berjuang melalui dakwah pemikiran agar umat paham dan menginginkan sistem Islam tegak kembali. Sebab hanya dengan khilafah perempuan akan terjaga dan terjamin keselamatannya dan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Sri Haryati
Aktivis Muslimah dan Member AMK

Posting Komentar

0 Komentar