Kejahatan Perang di Palestina Bukan Konflik Biasa


TintaSiyasi.com -- Amerika Serikat sebagai negara superpower membuatnya selalu berkuasa atas segala hal, baik yang berkaitan dengan ekonomi, hiburan, lifestyle, bahkan sistem pemerintahan yang dianutnya. Namun, AS tidak pernah puas atas kekuasaan dan kelimpahan sumber daya yang dimilikinya. Segala cara dilakukan agar tidak ada lalat-lalat kecil yang mengganggu berbagai macam rencananya. Seperti konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara akibat dari kerakusan AS untuk menguasai kedua wilayah tersebut. 

Konflik yang terjadi di Timur Tengah bukan sesuatu yang baru, melainkan telah ada sejak masa kekhalifahan. Hal ini dikarenakan, Palestina adalah jantung daripada umat Islam di seluruh dunia. Adapun ketakutan terbesar kaum Barat adalah bangkitnya kembali Islam seperti yang pernah terjadi pada masa kejayaan Islam, yang mana hampir seluruh negara di bumi ini mematuhi perintah khalifah. Apabila hal ini terjadi, tentu saja AS dan anak-anaknya akan kehilangan segala sesuatu yang telah dirampas dari kejayaan Islam sebelumnya, baik itu kelimpahan harta yang hanya dinikmati oleh segelintir kelompok maupun kekuasaan yang selalu diidamkan agar bisa memonopoli dunia serta bisa melakukan propaganda-propaganda yang menjatuhkan Islam. 

Semakin kuat penjagaan umat Islam terhadap ideologi Islam, semakin takut dan semakin banyak pula cara yang dilakukan kaum lain untuk menghancurkannya. Potensi dan keimanan umat Islam di Palestina tidak perlu diragukan lagi. Hal ini terbukti dari perjuangan yang dilakukan masyarakat Palestina, terutama penduduk Gaza. Mereka sama sekali tidak gentar terhadap segala ancaman, meskipun hal yang demikian dapat merenggut nyawa. Namun, AS tetap melakukan propaganda-propagandanya untuk menghancurkan ideologi Islam yang tertanam pada diri setiap kaum Muslim agar tidak mengganggu kepentingan AS.

Bagian terburuknya adalah media yang seharusnya memberikan informasi real terkait suatu fenomena, sayangnya informasi yang disebarkan terkait konflik Palestina seakan-akan memberi pesan bahwa yang terjadi adalah konflik biasa dan bukan tindakan serius yang wajib untuk diselesaikan dengan segera. Hal ini dapat terlihat dari ketidaktertarikan media eksternal dalam menginformasikan kondisi Palestina saat ini. Sehingga masyarakat awam dari berbagai negara yang asing dengan konflik ini akan semakin tidak faham dan tidak melakukan perbuatan yang membantu menyelesaikan konflik tersebut. 

Diamnya mayoritas negara terhadap isu Palestina, membuat Israel semakin menjadi-jadi. Kejahatan rutin yang tidak pernah terlewatkan yaitu ketika ramadhan, yang mana umat Islam berbondong-bondong untuk beribadah terutama di area Masjid Al-Aqsa. Momen ini menjadi kesempatan bagi Zionis Israel untuk menjalankan aksi biadabnya dengan mencelakakan umat Islam yang sedang berkumpul untuk beribadah. 

Seperti yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun ini, masyarakat Palestina dibuat tegang oleh Israel. Ketakutan ini bermula pada 2021 lalu yang mana konflik terjadi setelah pasukan keamanan Israel menyerang Masjid Al-Aqsa. Hal ini memicu terjadinya serangan beruntun selama 11 hari yang dilakukan Israel di Gaza. Sehingga masyarakat Palestina khawatir akan terjadi perang lagi dalam waktu dekat. Akibatnya lebih dari 50 orang mengalami luka-luka dalam bentrokan pada bulan Ramadhan lalu (tahun 2022) dan salah satu korban diduga mengalami kondisi serius. Diketahui, dalam sepekan terakhir, lebih dari 200 orang yang sebagian besar warga Palestina menjadi korban luka dalam bentrokan di dalam dan sekitar area Masjid Al-Aqsa.

Hamas/militan di jalur Gaza melakukan upaya dengan tujuan dapat menghentikan serangan Israel dengan menembakkan roket ke wilayah Israel. Menanggapi ini, Israel mengumumkan akan menutup satu-satunya perlintasan dari Jalur Gaza untuk para pekerja. Penutupan ini dilakukan setelah militan di Jalur Gaza menembakkan tiga roket ke wilayah Israel. 

PBB memiliki andil yang sangat besar dalam mendamaikan Palestina-Israel agar tidak melakukan hal-hal yang memicu konflik. Sebagaimana tujuan didirikannya, yaitu untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia serta menyediakan bantuan kemanusiaan apabila terjadi kelaparan, bencana alam, dan konflik bersenjata. Namun, hingga detik ini belum ada aksi nyata dari PBB yang terlihat secara dzahir dalam mendamaikan Palestina-Israel. Sehingga tujuan pembentukan PBB harus diimplementasikan dengan sebenar-benarnya dan tidak berpihak pada kawan demi kepentingan golongan tertentu saja namun berlindung dibalik kalimat ‘menjaga perdamaian dan keamanan dunia’. Sedangkan, mendamaikan Palestina dan Israel juga bertujuan untuk menjaga serta memelihara hak asasi manusia yang selalu mereka gaungkan

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Adinda Putri Firdaus
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar