Islamofobia Menjalar Masuk ke Kampus?

 
TintaSiyasi.com -- Hari demi hari islamofobia semakin menjalar kemana-mana. Tak hanya terjadi di negeri dengan penduduk minoritas muslim seperti di negara-negara Barat dan Eropa, tapi juga di negeri-negeri dengan penduduk mayoritas muslim seperti di Indonesia. Tak hanya terjadi di kalangan muslim yang awam, namun ternyata terjadi juga pada muslim yang menyandang predikat intelektual. 

Seperti yang terjadi belum lama ini. Seseorang yang bergelar profesor menulis sebuah tulisan yang diunggah di akun Facebook miliknya. Di dalam tulisan tersebut ia secara gamblang menyinggung perihal kalimat yang kerab digunakan dalam ajaran Islam seperti, InsyaAllah, Barakallah dan Qadarullah. Tak hanya itu, profesor yang juga menjabat sebagai rektor di Institut Teknologi Kalimantan atau ITK ini juga dinilai cenderung rasialis dengan menulis "12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satupun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar openmind. Mereka mencari Tuhan ke negara2 maju seperti Korea, Eropa barat dan US, bukan ke negara yang orang2nya pandai bercerita tanpa karya teknologi". 

Meskipun akhirnya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melakukan suspensi atau pemberhentian padanya sebagai reviewer di Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), namun Ketua LBH Pelita Umat, Chandra Purna Irawan menegaskan kepada penegak hukum untuk melakukan proses hukum kepadanya agar tercipta ketertiban umum di masyarakat. 

Tentu hal semacam ini sangat disayangkan. Terlebih terjadi pada diri seorang muslim di negeri dengan penduduk mayoritas muslim. Lantas mengapa hal seperti ini bisa terjadi?

Ternyata bila kita runut dan teliti lebih dalam, setidaknya ada dua faktor yang melatarbelakangi lahirnya sikap-sikap islamofobia tersebut. 

Pertama yaitu faktor eksternal dari kaum kafir yang tidak menginginkan kebangkitan Islam. Mengapa demikian? Sebab bila Islam bangkit, maka peradaban mereka yang sudah bobrok ini akan tergantikan oleh peradaban Islam yg mulia. Keserakahan mereka dalam menguasai kekayaan alam juga akan terhentikan bila Islam diterapkan dalam segala lini kehidupan. 

Oleh sebab itulah mereka berusaha sekuat tenaga untuk mencoba membendung kebangkitan Islam, salah satunya dengan menyebarkan islamofobia di tengah-tengah umat Islam agar umat Islam takut pada agamanya sendiri. Dengan ketakutan inilah diharapkan umat Islam akan jauh dari ajaran agamanya sendiri yang pada akhirnya akan menghambat kebangkitan Islam. 

Mereka membuat berbagai macam makar untuk menjatuhkan citra Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin. Ajaran Islam yang penuh dengan kebaikan bagi manusia justru mereka putar balikkan dan mereka gambarkan sebagai ajaran yang penuh dengan ketidakadilan, seperti ajaran Islam tentang menutup aurat bagi wanita, jumlah pembagian waris bagi wanita yang hanya setengah bagian dari laki-laki, dan lain sebagainya. 

Mereka juga menyebarkan berbagai informasi yang menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kesadisan dan kekerasan, misalnya pada hukum potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina yang telah menikah, pancung bagi pembunuh, jihad dan sebagainya. 

Bahkan mereka juga menyebarkan kebohongan tentang hancurnya keberagaman bila hukum-hukum Islam ditegakkan untuk mengatur kehidupan. Sehingga ajaran Islam tentang khilafah dinarasikan sebagai sebuah ancaman bagi keberagaman. 

Tak sampai disitu saja, mereka juga menyebarkan berbagai macam pemikiran-pemikiran, ide-ide dan paham-paham untuk merusak pemikiran umat Islam seperti sekularisme, kapitalisme, liberalisme, feminisme, hedonisme, dan paham-paham lain yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan paham-paham yang merusak inilah akhirnya umat Islam mulai salah dalam memahami ajaran Islam dan menganggap ajaran Islam justru sebagai sebuah ancaman dan akhirnya takut lalu menjauh dari ajaran Islam. 

Kedua, yaitu faktor internal dari kaum muslimin sendiri yang jauh dari pemahaman Islam yang benar. Akibat dari ketidakpahaman inilah kaum muslimin akhirnya dengan sangat mudah untuk dibohongi dan ditakut-takuti dengan berbagai narasi yang menyudutkan ajaran Islam. Akibat ketidakpahaman ini juga umat Islam menelan mentah-mentah apapun yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam tanpa mengerti hakikat yang sebenarnya dari ajaran-ajaran Islam. 

Lalu bagaimana agar kaum muslimin tidak terjangkit islamofobia? 

Karena ada dua penyebab maka solusinya juga ada dua solusi. Solusi yang pertama adalah dari internal diri kaum muslimin sendiri. Kaum muslimin harus memahami ajaran Islam secara benar. Dengan memahami Islam, maka kaum muslimin akan menyadari bahwa semua makar yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam adalah tidak benar. Dengan memahami Islam pula kaum muslimin akan mengetahui bahwa pemikiran-pemikiran seperti sekulerisme, kapitalisme, pluralisme, feminisme, dan hedonisme bertentangan dengan ajaran Islam. Bukan hanya bertentangan namun juga sangat berbahaya bagi umat Islam. Dengan demikian umat Islam akan mencampakkan paham-paham berbahaya tersebut dan tidak mengadopsinya dalam kehidupan sehari-hari. 

Kemudian solusi yang kedua yaitu untuk mengatasi penyebab eksternal dari kaum kafir yang memusuhi Islam, maka yang harus dilakukan oleh kaum muslimin adalah terus berusaha membongkar makar-makar kaum kafir. Membuka kebohongan-kebohongan informasi yang disebarkan oleh mereka kemudian menyampaikan tentang hakikat kebaikan dari ajaran Islam.

Misalnya pada ajaran Islam tentang penggunaan hijab bagi perempuan, itu bukan sebagai bentuk pengekangan pada perempuan, tapi untuk menjaga kehormatan perempuan. Bukan pula sebagai bentuk kearab-araban sehingga dikatakan sebagai "manusia gurun", tapi sebagai bentuk ketaatannya pada Allah Sang Pencipta manusia. 

Begitupula pada ajaran Islam seperti khilafah. Tidak benar jika dikatakan "khilafah jika ditegakkan maka akan mengancam keberagaman", karena fakta sejarah justru mengatakan sebaliknya. Dahulu ketika khilafah masih tegak di muka bumi ini, justru khilafah mampu menaungi berbagai macam wilayah dengan berbagai macam keberagamannya, baik itu suku, bangsa, bahasa, ras, warna kulit dan sebagainya. Begitupun pada ajaran Islam yang lainnya, umat Islam harus terus berusaha untuk membongkar segala macam makar dari musuh-musuh Islam. Bila hal ini terus dilakukan InsyaAllah umat akan tersadarkan siapa sebenarnya yang harus mereka anggap sebagai ancaman. 

Dengan mengetahui sumber penyebab dan solusi inilah diharapkan umat tidak lagi terjangkiti penyakit islamofobia dan justru semakin bersemangat untuk mempelajari Islam lebih dalam dan menyebarkan Islam ke seluruh alam. Sehingga kebaikan-kebaikan Islam akan bisa benar-benar dirasakan di dalam kehidupan, insyaAllah.[]

Oleh: Nuril Izzati
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar