Intelektual Sakit Islamofobia


TintaSiyasi.com -- Baru-baru ini Rektor Institut Teknologi Kalimantan atau ITK, Budi Santosa Purwokartiko, sedang menjadi sorotan akibat menyebut mahasiswi berjilbab dengan istilah manusia gurun. 

Ucapannya itu pun dinilai rasis karena memuat unsur SARA. Yang mana sebelumnya diberitakan, Ia telah membuat tulisan kontroversial. Dalam potongan layar yang tengah viral di ragam media sosial tersebut, menunjukkan sebuah tulisan status di akun Facebook-nya.

Tulisan memicu kontroversi itu diposting oleh Prof Budi Santoso pada 27 April 2022 lalu. Belakangan status itu dipermasalahkan netizen, lantaran dianggap mengandung unsur SARA. Sebab guru besar dari ITK Balikpapan itu menyinggung perihal kalimat yang kerab digunakan dalam ajaran Islam seperti, InsyaAllah, Barakallah dan Qadarullah.

Dalam postingan itu, Prof Budi menulis mengenai alat penutup kepala (hijab) seperti ala manusia gurun. Berikut status Facebook yang ditulis oleh Prof Budi Santoso Purwokartiko dengan menyebut mahasisiwa menutup kepala ala manusia gurun. Sebagaimana dikutip dari tulisannya, beliau menyatakan bahwa:
“Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dan sebagainya.Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dan sebagaianya. Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta beberapa tahun mendatang. Dan kebetulan dari 16 yang saya harus wawancara, hanya ada dua cowok dan sisanya cewek. Dari 14, ada dua tidak hadir. Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open mind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju, seperti Korea, Eropa Barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi.”

Sungguh riskan sekali, seorang yang notabenenya menjadi pionir dimasyarakat bahkan di perguruan tinggi, malah memberikan statement yang dirasa kurang ajar, islamophobia terhadap syariat bahkan mengandung unsur sara dan menjatuhkan ajaran agama tertentu. Di luar apakah beliau Muslim atau tidak, seharusnya beliau harus lebih bijak dalam mengeluarkan statement dan berargumen tanpa harus menjatuh agama tertentu ataupun ajarannya.

Perihal ini semakin menunjukkan bentuk keangkuhan intelektual yang telah mendominasi karena menganggap bahwa prestasi yang lebih baik, yang paling unggul dari prestasi akademik sebatas mahir dalam ilmu keduaniaan bahkan cenderung beranggapan semestinya manusia cerdas adalah para penolak ketaatan pada agama bukan orang yang taat.

Berkebalikan dengan itu, sistem Islam sangat mengaitkan antara kecerdasan dengan ketaatan. Islam memandang kecerdasan itu tidak hanya berkorelasi kuat dengan kemampuan daya cipta dalam hal sains dan teknologi. 

Tetapi juga mengaitkan secara erat dengan pengamalan agama sehingga kehidupan dunia yang sejatinya sarana malah berubah menjadi tujuan.
Rasulullah bersabda, "Orang cerdas adalah yang mau mengoreksi dirinya dan berbuat untuk (kehidupan) setelah kematian." (HR Tirmidzi).

Memaknai hadis ini, Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud orang cerdas adalah orang yang senantiasa menghitung-hitung amal perbuatannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khattab.
"Hisablah (buatlah perhitungan untuk) diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan, bersiaplah untuk menghadapi hari yang besar, yakni hari diperlihatkannya amal seseorang sementara semua amal kalian tidak tersembunyi dari-Nya."

Dengan demikian, kecerdasan bukan sebatas akumulasi ilmu, kemampuan berkarya cipta, dan mengembangkan usaha semata. Tetapi, lebih pada apakah diri ini telah benar-benar meyakini hari pembalasan atau tidak sehingga segenap effort yang dilakukan tidak lain adalah demi tegaknya agama. Waalahu A'lam bish-showab


Oleh: Ropika Sapriani
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar