Habis Covid-19, Terbitlah Hepatitis Akut


TintaSiyasi.com -- Baru-baru ini dunia kembali di kenalkan pada varian baru dari virus Covid-19 yang bermutasi. Kali ini di sebutkan bahwa hepatitis akut telah menumbangkan sejumlah korban dari beberapa negara termasuk Indonesia. 

Di tempat asalnya, negara tirai bambu, Cina, kembali berjibaku melawan penyebaran virus Covid-19 ini. Lebih dari 40 stasiun kereta bawah tanah, sekitar sepersepuluh dari jaringan kereta, dan 158 rute bus di Ibukota Cina, Beijing ditutup pada Rabu (4/5) (Tribungorontalo.Com, 05/05/2020).

Dengan lusinan kasus baru setiap hari, Beijing berusaha menghindari penguncian penuh, seperti yang juga dilakukan Shanghai. Kota berpenduduk 22 juta orang itu telah menutup sekolah serta beberapa bisnis dan bangunan tempat tinggal di daerah berisiko tinggi, dan banyak orang menimbun jika lockdown benar-benar terjadi.

Di Indonesia, Pemerintah mengimbau warga untuk waspada terhadap penyakit hepatitis misterius yang menyerang anak-anak. Imbauan pemerintah ini diumumkan setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta meninggal dunia dalam waktu yang berbeda dengan rentang dua pekan terakhir hingga 30 April 2022.

Ketiga pasien merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Adapun gejala yang ditemukan pada pasien-pasien ini adalah mual, muntah, diare berat, demam, kuning, kejang, dan penurunan kesadaran (CNBC Indonesia, 08/05/2022).

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan Kementerian Kesehatan saat ini tengah berupaya untuk melakukan investigasi penyebab kejadian hepatitis akut. Utamanya melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap.
Nadia menghimbau masyarakat untuk berhati-hati dan tetap tenang. Melakukan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan, memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak bergantian alat makan, menghindari kontak dengan orang sakit serta tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Sejak secara resmi dipublikasikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh WHO, jumlah laporan kasus hepatitis terus bertambah, tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara. WHO pertama kali menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown aetiology ) pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah. Kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Tujuh belas anak di antaranya (10%) memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal.


Akankah Pandemi Ini Berakhir?

Kita meyakini bahwasanya segala apa yang terjadi di muka bumi ini adalah atas kehendak Allah SWT. Namun bukan berarti kita pasrah dengan keadaan yang menimpa. Adanya musibah pandemi yang menimpa manusia hampir seluruh dunia ini seharusnya membuat kita sadar betapa lemahnya kita. Bahkan negara-negara maju seperti Cina dan AS yang terkenal dengan kecanggihan teknologinya pun tak mampu mengatasi penyebaran virus Covid-19 ini.

Jika kita lihat di Indonesia sendiri, tidak sedikit rakyat yang sudah tidak peduli lagi terhadap pandemi ini. Seiring dengan itu kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahpun seolah semakin terkikis. Kecurigaan terhadap adanya konspirasi pemerintah dan pembohongan publik. Bahkan ada komentar yang mengatakan bahwa pemerintah “memeras” rakyat kecil dengan bisnis antigen yang menjadi syarat mudik sebab begitu kebetulan varian baru ini ditemukan menjelang mudik lebaran. Hal ini memberikan gambaran opini umum yang ada di masyarakat. Rakyat sudah kehilangan kepercayaan kepada pengatur kebijakan, terutama terkait pengendalian wabah. 

Pasalnya, terdapat inkonsistensi penerapan berbagai kebijakan terkait penanganan pandemi. Ketika perhelatan MotoGP dibebaskan, mudik Lebaran justru mensyaratkan vaksinasi booster. Jika belum vaksinasi booster, wajib menunjukkan hasil tes usap antigen atau PCR. 

Padahal, masih jelas di ingatan kita ketika kasus PCR yang “dibisniskan” pejabat pemerintah terbongkar. Harga PCR saat gelombang 1 dan 2 pandemi yang melambung tinggi menembus Rp1 juta lebih, sekarang terungkap harganya ternyata Rp275 ribu saja. Wajar ketika tes usap kini kembali menjadi syarat pengganti vaksinasi booster, muncul asumsi di masyarakat bahwa kebijakan itu hanya agar bisnis pejabat “laku” kembali.

Perlu kita sadari bahwa buruknya pemeliharaan rakyat pada masa sekarang bukan tanpa sebab, ini merupakan pengaruh kapitalisme sebagai biang keladi segala permasalahan umat. Kapitalisme menjunjung tinggi asas manfaat, keputusan yang lebih menguntungkan secara ekonomilah yang akan diberlakukan. Nyawa manusia menjadi korban keserakahan penguasa dan bobroknya sistem kapitalisme. 

Hepatitis akut adalah kondisi peradangan pada lever. Kondisi ini paling umum disebabkan oleh infeksi virus. Hepatitis setidaknya bisa dicegah dari dua aspek, yakni kualitas makanan/bahan pangan dan imunitas terhadap virus penyebabnya. Selain vaksinasi, dua aspek tersebut semestinya diupayakan dan dipenuhi oleh penguasa pengambil kebijakan.

Penguasa berkewajiban memenuhi kebutuhan rakyatnya, salah satunya terkait dengan penyediaan makanan yang berkualitas agar imunitas rakyat terjaga. Dan layanan kesehatanpun semestinya disediakan secara cuma-cuma oleh penguasa sebagai pemenuhan tanggung jawabnya terhadap rakyat yang ia pimpin.

Namun sayang, dalam sistem kapitalisme yang menakar materi di atas segalanya, semua itu sulit bahkan tidak mungkin terwujud. Karena peran penguasa dalam sistem ini tidak lebih sebagai fasilitator dengan memanfaatkan swasta dalam pemenuhan layanan umum bagi rakyat. Bukan mengurusi urusan umat/rakyat sebagaimana seharusnya. 

Rasulullah SAW bersabda, “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Di sini menunjukkan betapa urgen suatu kepemimpinan ideologis bagi suatu negara. Dan tentu harus dengan ideologi shahih, yakni ideologi Islam agar segalanya berjalan sesuai fitrah penciptaan dari Allah SWT dan keterikatan terhadap hukum syariat juga dapat terjamin. Sudah saatnya kita melakukan perubahan mendasar, apalagi kalau bukan kembali pada syariat Islam sebagai solusi hakiki.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Hernawati Hilmi
Pegiat Pena Banua

Posting Komentar

0 Komentar