Gelar Akademik Tidak Menjamin 'Kecerdasan' Seseorang


TintaSiyasi.com -- Rektor Institut Teknologi Kalimantan atau ITK, Budi Santosa Purwokartiko, sedang menjadi sorotan akibat menyebut mahasiswi berjilbab dengan istilah manusia gurun. Ucapannya itu pun dinilai rasis karena memuat unsur SARA. (www.solopos.com, 08/05/2022).

Dalam unggahan beredar, status Budi awalnya menyinggung soal dirinya yang pernah mewawancara beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri. Budi menyebut para mahasiswa itu adalah anak-anak pintar yang punya kemampuan luar biasa.

Jika diplot dalam distribusi normal, kata Budi, para mahasiswa itu mungkin termasuk 2,59 sisi kanan populasi mahasiswa. Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo.

Status Budi juga menyinggung soal IP para mahasiswa itu yang luar biasa tinggi yakni di atas 3.5 bahkan beberapa di antaranya 3.8 dan 3.9. Bahasa Inggris para mahasiswa itu juga sangat bagus bahkan dengan nilai IELTS 8, 8.5 bahkan 9.

"Luar biasa. Mereka juga aktif di organisasi kemahasiswaan (profesional), sosial kemasyarakatan dan asisten lab atau asisten dosen. Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dan sebagainya. Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dan sebagainya," kata Budi dalam statusnya.

Selanjutnya Budi menyinggung para mahasiswa kuliah di luar negeri itu sebagai bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta beberapa tahun mendatang. Selanjutnya barulah Budi menyinggung soal manusia gurun.

"Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar2 openmind. Mereka mencari Tuhan ke negara2 maju seperti Korea, Eropa barat dan US, bukan ke negara yang orang2nya pandai bercerita tanpa karya teknologi,'' kata Budi. (Detik.com, 01/05/2022).

Pernyataan di atas merupakan hasil dari buah pikiran seorang intelektual yang menimbulkan sikap rasisme terhadap Islam dan bernilai melecehkan terhadap khimar dan jilbab. 

Berbagai cara dilakukan untuk menjauhkan Islam dari umatnya dengan berbagai pemikiran, pandangan, dan perilaku Islam terus masif dijalankan, termasuk lingkungan pendidikan hingga mempengaruhi cara berpikir seseorang terhadap Islam. 

Gelar akademik dan prestasi gemilang di dalam sistem sekuler tidak bisa menjadi jaminan terhadap tingkat kecerdasan seseorang meskipun dia Muslim. Karena tidak memiliki cara berpikir yang utuh tentang Islam sebagaimana seharusnya. 

Berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang banyak melahirkan generasi cemerlang yang bersyakhshiyyah Islam, menguasai ilmu-ilmu terapan, dan memiliki keterampilan yang digunakan dengan cara yang tepat. 

Islam menyumbang besar terhadap peradaban dunia. Fatimah al-Fihri, pendiri universitas pertama di era keemasan Islam, yaitu Universitas Al-Qarawiyyin pada 859 M, hampir 100 tahun sebelum berdirinya Universitas Al-Azhar Kairo. Beliau juga merupakan desainer baju dan topi toga yang berbentuk kotak yang diambil dari bentuk Baitullah (Ka’bah). Beliau ingin siapa pun yang memakai topi tersebut sewaktu diwisuda, pikirannya selalu ingat dengan Baitullah yang berbentuk kotak.

Kemudian Ibnu Sina yang merupakan dokter, filsuf, dan ilmuwan Muslim yang lahir di Uzbekistan (dahulu Persia) pada tahun 980. Dalam jurnal berjudul ‘Mendidik Anak Dalam Persepektif Ibnu Sina’, pria yang disebut Avicenna oleh dunia Barat ini banyak menulis buku seputar pendidikan, filsafat, dan pengobatan atau kedokteran. Karya Ibnu Sina yang paling terkenal adalah al-Qanun Fith Thibb, yang kemudian dijadikan referensi dunia kedokteran selama berabad-abad lamanya.

Alesandro Volta menemukan prinsip elektrokimia, jauh sebelum Thomas Edison mengembangkan listrik. Al-Khawarizmi (780—850) mengajarkan dunia tentang algoritma, sebagaimana Mark Zuckerberg membuat Facebook dengan sistem algoritma.

Masih banyak lagi penemu Islam yang memberikan sumbangan besar terhadap dunia. Tetapi yang tercatat di sejarah hanyalah para ilmuwan non Muslim. 

Oleh karena itu, kita perlu memahami dan menyadarkan umat akan peran Islam dalam membangun peradaban manusia. Membentuk kerangka berpikir yang cemerlang dengan akidah Islam. Sehingga umat Islam memiliki kepribadian Islam agar tidak berlaku diskriminatif terhadap ajaran agamanya sendiri. 

Sulitnya membangun syakhsiyah islamiyah di era kapitalisme, karena begitu gencar menanamkan pemikiriran yang memojokkan serta melecehkan ajaran Islam. Oleh karena itu mari kita kembali kepada sistem buatan Allah bukan buatan manusia. Agar kita diatur oleh sang Pencipta Yang Maha Agung bukan dengan peraturan yang semena-mena dari manusia. 

Wallahu'alam bishshawwab.



Oleh: Nida Fitri Y. A.
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar