Dilema Twitch karena Hapus Konten Buffalo AS


TintaSiyasi.com -- Media massa Ahad gempar dengan adanya penembakan massal yang terjadi di sebuah supermarket di Kota Buffalo, Negara Bagian New York, Amerika Serikat. Seorang pria kulit putih (18) menembak mati 10 orang dari total 13 korban yang sedang berbelanja pada Sabtu petang waktu setempat (International.sindonews, 15/5/2022). Peristiwa brutal ini sontak mengejutkan warga sekitar. Terutama aksi ini terjadi di tempat perbelanjaan. Korban penembakan ditargetkan karena rasisme pelaku, meski belakangan ada yang menyebutkan 1 kulit putih yaitu pegawai toko sebagai korban. Biadab nian.

Pelaku aksi dikabarkan menggunakan perlengkapan dan helm taktis yang dilengkapi kamera. Aksi brutalnya itu live di media Twitch, yang konon memiliki 40 juta penonton di AS tahun 2020. Selain itu sebelum aksi pelaku juga mengunggah manifesto dengan 180 halaman tentang ketakutan pergeseran warna kulit yang memicu tindakan rasisnya (Medcom.id, 15/5/2022). Melihat ini bukan aksi pertama dan aksi seperti ini berulang di negeri tersebut terlihat jelas bagaimana ngerinya kebebasan berperilaku dan kepemilikan di negeri Paman Sam ini. Nyawa orang sangat murah dan mudah melayang.

Twitch ternyata bertindak cepat untuk menghapus video penembakan di Buffalo itu dan menghentikan siaran langsung tersebut dalam waktu dua menit sejak aksi itu dimulai. Meski akhirnya video itu tetap tersebar (Merdeka.com, 16/5/2022). Platform medsos ternyata bagaikan pisau bermata dua. Kemanfaatan dan bahayanya merupakan dua mata pisau yang bisa dipisahkan. Apalagi masa pandemi di mana banyak orang menggunakan gadget, pasti berita tersebut cepat diakses. 

Tindakan Twitch menghapus konten brutal Buffalo tersebut ternyata bisa menuai gugatan. Hal ini disebabkan adanya undang-undang HB 20 yang mengikat platform media sosial. Undang-undang baru yang disebut HB 20 memungkinkan warga untuk menuntut situs media sosial, termasuk Facebook, Twitter, dan YouTube karena diduga menyensor konten mereka (Republika.com, 17/5/2022). Tentu saja hal ini konsekwensi yang harus diterima Twitch. Tapi melihat dari adanya peraturan yang ada, keanehan muncul dalam pikiran kita, apakah berarti ini wujud kebebasan berpendapat dan berperilaku yang kebablasan? Tapi bukankah ini bisa merugikan bagi pemilik platform tersebut? Tentu saja wajar pertanyaan muncul karena kesan moral tidak diindahkan di negeri Paman Sam tersebut. 

Sungguh ironi. Aksi brutal tersebut pasti membuat orang muak, ngeri bagi orang waras. Wajar bagi Twitch menghapusnya. Tidak bisa dipungkiri konten tersebut memotivasi orang gila lain melakukan yang sama. Anehnya undang-undang yang muncul tersebut. Sebagaimana kasus aborsi yang menimbulkan pro dan kontra maka berlaku juga untuk kasus ini. Realitas yang terjadi ketika manusia mengandalkan aturan manusia yang rapuh nan labil. Pasti akan berubah ubah sesuai kepentingan. 

Begitulah peraturan manusia, berubah-ubah sesuai cuan dan sikon. Sama seperti UU ITE dan Hate Speech (ujaran kebencian) di +62 yang tajam ke bawah tumpul ke atas. Belum lagi belakangan berubah membela para pembenci ajaran Islam seperti dalam Catatan Demokrasi yang menampilkan Prof. Suteki dan Babe Haikal dengan Prof Hendri dan Pak Kribo. Nyata sudah bagaimana aturan bisa dianggap flexibel bagi para pembenci Islam. Naudzubillah..

Maka kasus plin-plannya peraturan kapitalisme di AS, juga kontradiksinya peraturan satu dengan yang lain bisa menjadi gambaran bobroknya peraturan yang ada. Sesuatu yang dianggap baik bisa berubah buruk karena melawan kebebasan warga negara yang dijamin undang-undang. Padahal kebebasan manusia jika dituruti hanya akan memperturutkan hawa nafsu semata. Akankah AS mampu melestarikan peradaban bobrok nan menyesatkan ini lebih lama? Mungkin pro kontra yang muncul dari dalam akan membuat ideologi ini runtuh dan berganti dengan ideologi yang benar yaitu Islam dengan tegaknya Khilafah Islamiyah ala minhajin nubuwwah. Semoga. []


Oleh: Retno Asri Titisari, S.Si, Apt
Pemerhati Sosial Politik

Posting Komentar

0 Komentar