Close The Door for Kaum Luth!


TintaSiyasi.com -- Deddy Corbuzier panen hujatan di media sosial. Pasalnya dia mengundang pasangan gay, Ragil Mahardika dan Fred ke podcast "Close the Door". Alhasil Deddy, L68T, Nabi Luth pun trending topic di Twitter.

Deddy dikecam karena dalam podcast yang disebut netizen sebagai konten tidak mengedukasi. Terlebih thumbnail dan judul podcast Deddy Corbuzier "Tutorial Jadi G4y di Indo" yang dinilai kurang pantas. Konten dan judul tersebut sematkan seolah-olah mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadi penyuka sesama jenis (kurusetra.republika.co.id, 9/5/2022)

Memang, pembiaran pada aktivitas mereka tidak bisa dipungkiri, lihat saja atas nama hak asasi manusia (HAM) semakin hari keberadaan mereka semakin diakui dan dianggap sebagai salah satu bentuk ekspresi kebebasan berperilaku.

Walaupun Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, namun ditengah kemajuan teknologi ini, kaum gay semakin mudah melakukan kampanye kepada kaum muda, salah satunya dengan terang-terangan tanpa malu-malu hadir dan mengaku sebagai pasangan gay di podcast Deddy.

Begitulah, hidup dalam sistem demokrasi tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah L68T secara tuntas. Sebaliknya sistem tersebut akan melegalkan kejahatan L68T seperti yang terjadi di banyak negara penganut sistem demokrasi.

Sebut saja Irlandia, pada 21 Oktober 2019, Irlandia Utara resmi melegalkan pernikahan sesama jenis dan aborsi. Dilansir BBC, pernikahan sesama jenis pertama di Irlandia Utara akan digelar pada Februari 2020.

Selain Irlandia Utara, terdapat negara-negara lain yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Seperti Belanda yang menjadi negara Eropa pertama yang melegalkan pernikahan sesama jenis sejak 21 April 2001. 

Bahkan menurut Pew Research Center, terdapat 30 negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis, baik secara nasional maupun di sejumlah daerah, seperti Argentina, Australia, Austria, Belgia, Brasil, Canada, Denmark, Inggris dan lain lain.(tirto.id, 24/10/2019)

Di Indonesia sendiri perkembangan kaum Luth ini semakin tahun juga semakin mengkhawatirkan. Dilansir dari bisnis.com, (4/12/2019) bahwa Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mencatat jumlah pria dengan kelainan seksual pencinta sesama jenis atau homoseksual di wilayah itu mencapai 4.000 orang.

Pada tahun 2018 komunitas lelaki penyuka sesama jenis (gay) di Batam semakin terang-terangan melakukan aktivitasnya. Mereka bahkan berani membuat grup-grup khusus di media sosial.

Anggotanya mencapai ratusan. Rata-rata anggota dari grup itu mencapai 600 orang. Salah satunya adalah grup Gay Jodoh Batam. Beranggotakan 656 orang. Aktivitas terbarunya hampir setiap waktu.(liputan6.com, 11/10/2018)

Semua itu sebagai akibat dari penerapan sistem demokrasi yang melahirkan kebebasan sehingga menjadikan sebagai gaya hidup. Sistem sekuler demokrasi telah memberi ruang suburnya kemaksiatan termasuk L68T. 

Islam memiliki pandangan yang khas dalam menyikapi masalah pergaulan yang menyimpang ini. Bagi individu, perilaku menyimpang ini pasti membuatnya tidak tenang apalagi bahagia. Bahkan hidupnya selalu diliputi berbagai kecemasan dan kegelisahan karena menyalahi fitrah.

Bagi masyarakat dan negara dengan mentalitas yang lemah dan rusak ditambah efek penyebaran virus L68T secara masif, dengan dukungan individu, negara dan badan dunia menyebabkan dampak kerusakan dan destruktifitasnya menjadi ancaman nyata bagi masyarakat dan negara. Bahkan L68T telah menjadi bagian dari penjajahan di dunia Islam itu sendiri.

Oleh karena itu, penyelesaian L68T ini harus menyeluruh dan sistemik. Negara khilafah sebagai negara Islam yang menjadikan Islam sebagai ideologinya, jelas tidak akan mentolerir L68T.

Dalam konteks pendidikan, di dalam keluarga yang disinari dengan cahaya Islam, maka sejak dini anak sudah dididik dengan Islam dan hukum-hukumnya. Lingkungan yang terbentuk dari keluarga, masyarakat dan negara yang menerapkan Islam, jelas lingkungan yang sangat-sangat sehat.

Negara akan menutup seluruh jalan dan celah dengan rapat masuknya pemikiran L68T termasuk melarang penyebarluasan opini L68T melalui media.

Ketika penyimpangan itu terjadi, khilafah pun dengan tegas menghukum pelakunya. Bagi lesbian dan gay atau biseksual yang berpasangan dengan sejenis, bisa dihukum dengan hukuman mati, bisa dengan cara dijatuhkan dari bangunan tertinggi atau dengan cara yang lain.

Sedangkan bagi transgender jika tidak sampai melakukan sodomi dengan sesama lelaki atau dengan sesama perempuan, maka dia akan dikenai hukuman ta'zir. 

Dengan cara seperti inilah, maka L68T akan bisa diberantas hingga ke akar-akarnya. Pada saat yang sama L68T yang dijadikan pintu penjajah untuk melemahkan negara pun bisa ditutup rapat-rapat.


Oleh: Nabila Zidane
Mutiara Umat Institute

Posting Komentar

0 Komentar